Semarak Sastra Mahardika; Rangkaian Perjalanan Mempertemukan……

KUNINGAN (MASS) – Semarak Sastra Mahardika bukan sekadar rangkaian acara yang tersusun dari satu pertemuan menuju pertemuan berikutnya. Ia tumbuh sebagai perjalanan yang mempertemukan buku dan pembaca, gagasan dan pengalaman, sastra dan masyarakat. Dari ruang-ruang yang sederhana, percakapan tentang karya sastra perlahan menemukan jalannya sendiri: masuk ke sekolah, komunitas, ruang publik, hingga panggung pertunjukan.

Dengan didukung oleh Direktorat Pengembangan Budaya Digital melaui program Apresiasi dan Penguatan Komunitas Sastra, rangkaian kegiatan ini dimulai dengan Bukber #1 pada 7 September 2026 di Saung Udhe. Sebanyak 20 orang yang terdiri atas pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum berkumpul untuk membicarakan kumpulan cerpen Cara Kita Menghadapi Kehilangan karya Yetti A.K.A. Bersama Ira Rahayu, percakapan bergerak pada satu pengalaman manusia yang paling dekat sekaligus paling sulit dijelaskan: kehilangan.

Kehilangan tidak lagi diperlakukan semata sebagai luka yang harus dilupakan, tetapi sebagai pengalaman yang dapat diolah menjadi sesuatu yang bermakna. Sebagaimana disampaikan narasumber, “Bagaimana pun, kehilangan adalah hal yang begitu dekat. Jika kita mampu mengolahnya, maka akan menjadi sebuah karya.”

Dari Saung Udhe, perjalanan Semarak Sastra Mahardika berlanjut menuju MAN 1 Kuningan pada 9 September 2026. Dalam Bukber #2, sebanyak 60 pelajar dan guru mendiskusikan kumpulan puisi Hidup Tetap Berjalan dan Kita Telah Lupa Alasannya karya Ibe S. Palogai bersama Vera Verawati.

Puisi-puisi Ibe dibaca sebagai bahasa yang sanggup mengubah sesuatu yang getir menjadi sesuatu yang menyala. Vera Verawati menggambarkannya sebagai kemampuan untuk mengemas kegetiran menjadi puisi yang penuh gairah sekaligus darah. Percakapan tersebut tidak berhenti pada karya, sebab ia kemudian berhadapan dengan dunia pendidikan. Kepala sekolah menyampaikan bahwa kegiatan semacam ini dapat membantu sekolah memantik para siswa untuk berkarya. Dengan demikian, sastra hadir bukan hanya sebagai bahan bacaan, melainkan sebagai pemantik keberanian untuk menciptakan sesuatu.

Dua hari kemudian, pada 11 September 2026, perjalanan berlanjut ke SMAN 3 Kuningan melalui Bukber #3. Sebanyak 60 pelajar dan guru mengikuti pembahasan novel Dompet Ayah Sepatu Ibu karya J.S. Khairen bersama Sri Yuliani.

Pertemuan ini membawa satu kesadaran penting: sastra tidak semestinya berhenti sebagai pengalaman yang hanya dinikmati secara pribadi. Sastra perlu dituturkan, dibagikan, dan ditularkan. Seperti yang disampaikan narasumber, Semarak Sastra Mahardika tidak hanya berusaha menyemarakkan sastra kepada audiens, tetapi juga mengajak para penikmat sastra agar tidak menjadikan sastra sebagai ruang privat semata. Sastra perlu keluar dari dirinya sendiri dan bertemu dengan lebih banyak manusia melalui cerita-cerita kesusastraan.

Pada 14 September 2026, perjalanan memasuki ruang yang berbeda. Saung Teater Sado menjadi tempat berlangsungnya Bukber #4, dengan pembahasan naskah drama Janger Merah karya Ibed Surgana Yuga. Arip Hidayat hadir sebagai narasumber, menemani 35 pelajar dan masyarakat umum menyelami dunia drama.

Di ruang ini, sastra kembali memperlihatkan wajahnya yang lain. Ia bukan hanya kata-kata yang indah, tetapi juga hasil dari proses panjang pencarian dan penelitian. Dari audiens muncul sebuah kesimpulan bahwa karya sastra yang baik adalah karya yang lahir dari riset mendalam, kemudian diungkapkan dengan penuh keindahan. Sastra, dengan demikian, menemukan keseimbangannya: antara ketekunan membaca kenyataan dan keberanian mengolahnya menjadi karya.

Perjalanan kemudian memasuki wilayah komunitas. Pada 16 September 2026, BEEK, Gedung Grahawangi, menjadi ruang berlangsungnya Bukber #5. Sebanyak 15 orang dari kalangan umum berdiskusi bersama Agung M. Abul mengenai buku Komunitas Sebagai Basis Ideologi Kesastraan karya Ahmadun Yosi Herfanda.

Percakapan ini menempatkan komunitas sebagai salah satu rumah penting bagi kehidupan sastra. Komunitas bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan ruang yang memungkinkan gagasan tumbuh, karya diproduksi, pengetahuan dibagikan, dan sastra didistribusikan. Sebagaimana disampaikan narasumber, komunitas yang baik membutuhkan keberagaman ideologi sekaligus tidak boleh melupakan perannya sebagai ruang produksi, edukasi, dan distribusi.

Setelah lima kali Bukber, perjalanan Semarak Sastra Mahardika beranjak menuju Panggung Buku. Pada 18 September 2026, Kebon Kaisar menjadi ruang pertemuan antara pembaca dan buku Musim Angin karya Candrika Adhiyasa. Aris Risma Sunarmas dan Candrika Adhiyasa hadir sebagai narasumber, sementara 15 orang dari kalangan umum menjadi bagian dari peristiwa tersebut.

Pada titik ini, sastra tidak hanya dibicarakan, tetapi mulai dirasakan sebagai sebuah ruang yang luas sekaligus sublim. Audiens menangkap bahwa Semarak Sastra Mahardika telah membuka cara pandang baru terhadap sastra: sebuah ruang yang dapat dimasuki dari berbagai arah, tetapi tetap menyimpan kedalaman dan keheningan tertentu.

Sehari setelahnya, 19 September 2026, masih di Kebon Kaisar, berlangsung Cengo Bareng dengan tema “Keadaan Sastra di Kuningan.” Percakapan menghadirkan Asep Budi, Pandu Hamzah, dan Hamdan, dengan 10 orang audiens.

Pertemuan ini menjadi semacam ruang untuk bercermin. Di tengah semarak berbagai kegiatan, muncul kesadaran bahwa kehidupan kesastraan di Kuningan masih dianggap sepi. Salah satu persoalan yang dibicarakan adalah adanya dikotomi dan polarisasi arah pengkaryaan yang masih bersifat domestik. Catatan ini menjadi bagian penting dari perjalanan Semarak Sastra Mahardika, sebab sebuah perayaan sastra tidak hanya perlu merayakan yang telah tumbuh, tetapi juga membaca persoalan yang masih mengitarinya.

Namun perjalanan Semarak Sastra Mahardika tidak berhenti pada buku dan percakapan. Ia kemudian bergerak menuju ingatan sejarah melalui Pameran Biografi Emma Poeradiredja.

Pameran ini menghadirkan pengalaman yang berbeda bagi pengunjung. Beberapa di antara mereka mengaku baru mengetahui bahwa terdapat seorang tokoh besar yang lahir di Kuningan, yakni Emma Poeradiredja. Biografi yang biasanya terasa sebagai deretan fakta dan tanggal, melalui pameran ini justru dapat dicerna dengan cara yang lebih menyenangkan. Sejarah tidak hanya dibaca, tetapi dilihat, dirasakan, dan didekati melalui pengalaman visual.

Dari ruang pameran, perjalanan akhirnya bermuara pada pertunjukan “Relikui; Suara Emma yang Tak Boleh Padam.”

Pertunjukan ini menjadi salah satu titik penting dalam keseluruhan rangkaian. Kisah kepahlawanan Emma Poeradiredja tidak disampaikan sebagai sejarah yang beku, melainkan dihidupkan kembali melalui sastra pertunjukan dengan melibatkan narasi, music orkestra, pembacaan puisi dan penari dalam satu pertunjukan utuh. Kemasan pertunjukan menawarkan cara lain kepada masyarakat Kuningan untuk mengenal dan menyampaikan pesan kepahlawanan.

Perpaduan antara makna dan naskah yang dipentaskan membuat kisah tersebut tidak berhenti sebagai pengetahuan. Ia menjelma menjadi pengalaman emosional yang menggetarkan penonton dan meninggalkan pesan yang membekas mengenai perjuangan Emma Poeradiredja.

Jika seluruh rangkaian ini dibaca sebagai satu kesatuan, maka Semarak Sastra Mahardika sesungguhnya adalah perjalanan dari buku menuju manusia, dari percakapan menuju kesadaran, dan dari ingatan menuju pertunjukan.

Ia dimulai dari kehilangan, berlanjut kepada kegetiran, keluarga, riset, komunitas, buku, hingga persoalan kehidupan sastra di Kuningan. Kemudian perjalanan itu menemukan satu simpul yang lebih besar: ingatan terhadap seorang perempuan bernama Emma Poeradiredja.

Sastra dalam rangkaian ini tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang jauh dan eksklusif. Ia dibawa mendekat kepada pelajar, guru, mahasiswa, komunitas, masyarakat umum, pembaca, penonton, dan siapa saja yang bersedia duduk bersama untuk mendengarkan sebuah cerita.

Dan pada akhirnya, Semarak Sastra Mahardika meninggalkan sebuah kesan bahwa sastra bukan hanya tentang bagaimana sebuah karya ditulis atau dibaca. Sastra juga tentang bagaimana manusia mengingat, merawat, mempertanyakan, membagikan, dan menghidupkan kembali sesuatu yang hampir dilupakan.

Dari buku ke panggung. Dari kata ke peristiwa. Dari masa lalu ke hari ini. Dan dari sana, suara itu terus berjalan—seperti judul pertunjukan yang menjadi penutup rangkaian: Suara Emma yang Tak Boleh Padam.

Oleh: Ilham Akbar, Inisiator Bukusam