KUNINGAN (MASS) – Rencana pengembangan panas bumi alias geothermal di kawasan Gunung Ciremai, kini memasuki tahap lelang oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Gunung Ciremai menjadi salah satu dari 14 lokasi panas bumi potensial yang masuk dalam tahap lelang ESDM. Meski demikian, hingga kini belum diketahui secara pasti lokasi titik pengembangan geothermal untuk di wilayah Kabupaten Kuningan.
Rencana pengembangan geothermal itu juga muncul dalam draf revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Kuningan 2026-2046. Dalam dokumen itu tercantum rencana struktur ruang sistem jaringan energi dan infrastruktur tenaga listrik, salah satunya Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) yang disebut berlokasi di Kecamatan Pasawahan.
Namun, informasi mengenai Pasawahan sebagai lokasi geothermal tersebut berbeda dengan lokasi yang pernah disosialisasikan kepada masyarakat pada 2012.
Ketua MPPGC Palutungan, Endun Abdullah, mengaku baru mengetahui adanya rencana geothermal di wilayah Pasawahan. Menurutnya, saat sosialisasi geothermal pada 2012, wilayah yang disebut sebagai lokasi pengembangan justru berada di kawasan Cilengkrang dan Sangkanurip.
“Kalau bisa mah jangan ada (Geothermal), kalau bisa. Tapi kan kita susah juga menghadapi yang namanya kemauan pemerintah. Di sisi lain kita ingin benar-benar mempertahankan kealamian kawasan. Di sisi lain itu kepentingan pemerintah juga dengan alasan ya berbagai hal lah,” tutur Endun, Senin (7/9/2026).
Endun mengatakan, salah satu alasan geothermal kerap disebut sebagai energi ramah lingkungan. Namun, pengalaman saat melakukan studi banding ke kawasan Kamojang, Kabupaten Garut, membuatnya memiliki kekhawatiran terhadap dampak eksploitasi panas bumi.
“Salah satunya bahwa geotermal itu ramah lingkungan positifnya. Tapi kan di sisi lain, kita waktu ada sosialisasi SEPRON itu, sosialisasi geotermal itu tahun 2012 kalau nggak salah. Kita tolak mentah-mentah, kemudian kita langsung studi banding ke Kemojang,” ujarnya.
Menurut Endun, dalam kunjungannya pihaknya melihat adanya aktivitas pembukaan lahan untuk kegiatan eksplorasi dan pengeboran geothermal.
“Di sana itu kan luar biasa itu eksploitasi alam itu. Pohon yang sebesar-besar perut kerbau itu kan lagi dihajar (ditebang) di sana. Sehingga saya tanya ini untuk pengeboran yang keberapa, pengeboran yang ke-10 katanya,” tutur Endun.
Ia khawatir kondisi serupa terjadi di kawasan Gunung Ciremai apabila pengembangan geothermal benar-benar dilakukan.
“Tidak menutup kemungkinan di kita juga bakal seperti itu. Pertama, pohon bakal ditumbangkan. Kemudian butuh area yang luas. Saya nggak bisa memprediksi berapa hektare-hektarnya. Karena pada waktu itu ya dozer ya beko sudah main di sana untuk bikin titik yang ke-10 waktu di Kemojang,” ungkapnya.
Endun kembali menjelaskan berdasarkan sosialisasi yang pernah dilakukan pada 2012, terdapat sejumlah lokasi yang disebut-sebut menjadi titik pengembangan geothermal di wilayah Kuningan.
“Kalau nggak salah, waktu sosialisasi itu untuk wilayah Kuningan itu pertama Cilengkrang, kemudian Sangkanurip, titik-titik yang akan dijadikan geotermal. Dulu nih, waktu 2012,” ujarnya.
Ia mengaku tidak mengetahui secara pasti apakah lokasi yang direncanakan saat ini masih sama dengan hasil sosialisasi pada 2012. Namun, berdasarkan informasi yang pernah diterimanya dari pihak Pertamina, Cilengkrang disebut sebagai salah satu lokasi yang memiliki potensi utama.
“Saya nggak tahu sekarang di mana-mana aja. Dan tidak menutup kemungkinan kata yang dari Pertamina itu, bahwa titik geotermal utama itu ada di Cilengkrang. Makanya tidak menutup kemungkinan Cilengkrang bakal kena,” katanya.
Selain Cilengkrang dan Sangkanurip, Endun menyebut pernah ada satu lokasi lain yang disampaikan dalam sosialisasi tersebut. Namun, ia mengaku sudah tidak mengingat secara pasti nama wilayahnya.
“Jadi itu tiga wilayah. Cilengkrang, Sangkanurip, salah satunya. Kemudian entah saya lupa lagi. Entah air panas yang ada di Subang, saya lupa lagi yang itu,” ucapnya.
Meski demikian, Endun menegaskan dua lokasi yang paling diingatnya dalam sosialisasi 2012 adalah Cilengkrang dan Sangkanurip.
“Tapi yang pasti, yang jelas dulu waktu sosialisasi Cilengkrang dengan Sangkanurip,” tegasnya.
Saat ditanya mengenai Kecamatan Pasawahan yang kini tercantum dalam draf revisi RTRW sebagai lokasi PLTP, Endun mengaku belum pernah mendengar wilayah tersebut disebut dalam sosialisasi geothermal pada 2012. “Pasawahan belum, baru dengar sekarang,” katanya.
Endun juga mengungkapkan berdasarkan informasi yang diterimanya dari salah satu pihak ketika melakukan survei lapangan pada 2016, kawasan Cilengkrang disebut sebagai titik yang paling dekat dengan sumber magma.
“Saya dikasih bocoran oleh mereka-mereka yang dari Pertamina. Kalau Pasawahan saya kurang tahu persis,” pungkasnya. (didin)