KUNINGAN (MASS) – Belakangan ini pasangan Bupati Kuningan dan Wakil Bupati Kuningan, Dr H Dian Rachmat Yanuar M Si dan Tuti Andriani SH MKn, diterpa isu keretakan diantara keduanya.
Sebenarnya, keduanya tak pernah bersitegang secara terbuka, tapi juga tak sempat membantah terbuka. Kondisi itu membuat para pihak angkat bicara.
Ketua F Tekkad, Soejarwo, berpendapat bahwa menyeruaknya isu disharmonisasi (keretakan) duet kepemimpinan Dian-Tuti yang baru berumur 1,5 tahun hendaknya tidak dipandang sebagai persoalan yang cukup ‘dibantah’ oleh mereka yang berada di lingkar kekuasaan.
“Kemunculan isue ‘perpecahan’ tentunya tidak berlebihan jika dikaitkan pada sebuah perumpamaan ‘tidak ada asap, jika tak ada api’ sangatlah bijak jika disikapi dengan langkah lebih terbuka dari keduanya,” kata Mang Ewo, sapaan akrabnya, Minggu (23/8/2026).
Jika memang terbukti sudah muncul bintik disharmonisasi, lanjut Ewo, segera diuapayakan perbaikan komunikasi agar bintik tadi tak berlembang menjadi bara perpecahan.
Bagi masyarakat, ujar Ewo, apapun dinamika yang terjadi dalam duet kepemimpinan Dian-Tuti yang baru seumur jagung, serta masih terlalu dini jika dikatkan dengan fenomena kontestasi pada Pilbup 2029, dikhawatirkan akan sangat menggagu program kerja yang sudah dituangkan dalam visi misi keduanya hingga akhir masa jabatan.
“Jika isue disharmonisasi dibiarkan tumbuh menjadi isue liar, tentunya yang sangat dirugikan adalah masyarakat Kabupaten Kuningan,” tuturnya.
Ewo bilang, masyarakat juga harus mendapat reaksi positif dari duet Dian-Tuti dengan munculnya isue disharmonisasi. Isue tersebut diharapkan tidak mempengaruhi ethos kerja serta tetap meperlihatkan kekompakan dari keduanya untuk mewujudkan apa yang telah dijanjikan saat kampanye menjelang Pilbup 27 November 2024 lalu.
“Dengan menunjukan keharmonisan dan kekompakan kerja, tentunya tikgkat kepercayaan kepada duet yang akan mengakhiri masa jabatannya pada 2029 akan tetap terjaga,” imbuhnya di akhir. (eki)