Belajar dari Arunika: Ciremai Terlalu Murah untuk Sebuah Anugerah

KUNINGAN (MASS) – Coba kita berhenti sejenak di kaki Ciremai. Lihat gunungnya, rasakan udaranya, bayangkan hutan yang menyimpan air, kebun kopi, desa-desa yang hidup dan jalan-jalan kecil tempat orang mencari nafkah. Lalu bayangkan kita memegang selembar kertas kosong. Seseorang bertanya: “ Kalau Ciremai ini Anda yang mendesain, akan dibuat seperti apa?”

Pertanyaan itu sederhana, tetapi mungkin justru itulah yang selama ini kurang: imajinasi . Kita terlalu terbiasa melihat Ciremai sebagaimana adanya, sampai lupa membayangkan bagaimana seharusnya ia memberi kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat tanpa kehilangan dirinya.

Ciremai adalah kawasan konservasi. Gunung harus tetap gunung, hutan tetap hutan, mata air tetap mengalir. Tetapi konservasi tidak berarti masyarakat di sekitarnya harus menjadi penonton. Menjaga alam dan meningkatkan kesejahteraan seharusnya bukan dua pilihan yang saling meniadakan.

Selama ini kita menjual Ciremai terlalu murah. Datang, melihat pemandangan, ngopi, berfoto, lalu pulang. Tidak salah. Tetapi bisakah kita menaikkan kelasnya?

Menaikkan kelas bukan berarti membangun beton di hutan. Yang dinaikkan adalah pengalaman, pelayanan, produk dan ekosistem ekonominya. Wisatawan tidak sekadar minum kopi, tetapi mengenal kebun dan petaninya. Tidak sekadar camping, tetapi memperoleh pengalaman eco-retreat. Tidak sekadar mendaki, tetapi berjalan bersama pemandu yang memahami hutan, air, sejarah dan budaya. Yang paling penting: tidak hanya datang sehari, tetapi tinggal dua atau tiga malam.

Dari menjual tempat menjadi menjual pengalaman. Dari mengejar jumlah menjadi mengejar nilai.

Bromo memberi kita cermin. Ia tetap kawasan konservasi, tetapi desa-desa di sekitarnya tumbuh bersama pariwisata. Penelitian IPB mencatat rata-rata pengeluaran wisatawan di kawasan Tengger sekitar Rp2,77 juta per kunjungan, dan 81,56 persen pengeluaran itu terjadi di luar taman nasional. Pesannya sederhana: gunungnya tidak perlu dikomersialkan; ekonomi di sekeliling gununglah yang harus dirancang.

Bahkan Kabupaten Probolinggo mencatat PAD dari wisata Lereng Bromo sekitar Rp3,6 miliar pada 2024. Sementara Kabupaten Gianyar, dengan ekosistem pariwisatanya yang jauh lebih matang, mampu membukukan PAD sekitar Rp1,69 triliun dalam satu tahun. Tentu Kuningan tidak bisa membandingkan dirinya secara mentah dengan Gianyar. Tetapi angka itu cukup untuk membuka sebuah jendela imajinasi: seberapa tinggi sebenarnya ekonomi berbasis destinasi bisa tumbuh jika dirancang dengan serius?

Kita pun tidak memulai dari nol. Di depan mata ada Arunika . Sebuah investasi dengan konsep lebih berkelas yang disebut berkontribusi sekitar Rp2 miliar per tahun terhadap PAD. Bagi saya, itu bukan sekadar angka. Itu garis pertama di atas kertas desain.

Kalau satu investasi berkelas bisa menciptakan nilai sebesar itu, mengapa kita tidak menggambar garis berikutnya? Eco-lodge, coffee experience, forest retreat, wisata budaya, kuliner, pemandu profesional, produk desa dan berbagai usaha lokal yang saling terhubung.

Bayangkan wisatawan datang ke Ciremai. Ia menginap di desa, minum kopi petani, berjalan bersama pemandu, menikmati kuliner, membeli produk UMKM, lalu pulang membawa cerita. Uangnya bergerak kepada petani, pemandu, sopir, pemilik homestay, pedagang, pengrajin dan masyarakat desa.

Itulah Ciremai sebagai ekosistem ekonomi.

Maka jangan hanya bertanya berapa banyak wisatawan yang datang. Tanyakan berapa lama mereka tinggal. Jangan hanya menghitung tiket. Tanyakan berapa rupiah yang berputar di desa. Jangan hanya mengejar PAD. Tanyakan pula berapa banyak keluarga yang kehidupannya membaik dan apakah hutan masih utuh ketika ekonomi itu tumbuh.

Sebab desain Ciremai yang baik bukanlah desain yang menghasilkan uang paling banyak. Ia adalah desain yang mempertemukan konservasi, investasi dan kesejahteraan.

Gunungnya untuk alam. Desa untuk kehidupan. Investasi untuk nilai tambah. Masyarakat menjadi pelaku. Pemerintah menjadi arsitek aturan dan penjaga keseimbangan.

Sekarang kertas gambar itu kembali kepada kita.

Kalau Anda menjadi arsitek Ciremai, apa yang akan Anda gambar?

Wisata sehari atau pengalaman tiga hari? Kedai kopi biasa atau coffee experience yang membuat orang ingin mengenal petaninya? Camping murah atau pengalaman alam berkelas yang tetap menjaga kesunyian hutan?

Apakah kita ingin Ciremai sekadar ramai?

Atau kita ingin Ciremai bernilai?

Barangkali sudah waktunya Ciremai tidak hanya dibicarakan dari meja rapat. Mari kita desain bersama.

Sebab Ciremai bukan milik pemerintah saja, bukan milik pengusaha saja, bukan pula milik pencinta alam saja. Ia adalah rumah bersama.

Dan desain terbaiknya mungkin sederhana: hutan tetap hijau, air tetap mengalir, investasi tumbuh, masyarakat sejahtera, PAD meningkat dan Ciremai tetap menjadi Ciremai.

Sebelum bertanya “apa yang bisa kita ambil dari Ciremai?”, mungkin lebih baik kita bertanya:

Apa yang bisa kita bangun bersama Ciremai?”

Karena sebuah gunung tidak harus dijual untuk menjadi bernilai.

Kadang, ia hanya perlu dilihat dengan mata yang baru.

Oleh: Dadan Satyavadin
Pemerhati Kebijakan Publik