CIREBON (MASS) – Komunitas Literasi Senja kembali menghadirkan ruang belajar dan diskusi melalui kegiatan Bedah Naskah Babad Cirebon untuk Literasi Inklusif Berbasis Kearifan Lokal bertemakan “Merawat Tradisi, Menebar Inspirasi”, baru-baru ini.
Kegiatan yang berlangsung di Kopi Satu Visi, Kota Cirebon, tersebut merupakan bagian dari rangkaian Literasi Senja Duwe Gawe, yang diselenggarakan bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
Menghadirkan Farihin Niskala, pengkaji naskah kuno, sebagai pemateri dan Kamalatan Nihaya sebagai moderator. Kegiatan turut dihadiri oleh sejumlah pihak, di antaranya Warsita dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Cirebon serta Sekretaris Lurah Karyamulya.
Dalam pemaparannya, Farihin menjelaskan bahwa Babad Cirebon tidak sekadar merupakan catatan mengenai peristiwa masa lalu. Naskah tersebut juga menjadi bagian dari warisan literasi yang merekam nilai-nilai, Bedah Naskah Babad Cirebon.
“Dalam konteks Cirebon, Babad Cirebon memiliki posisi penting sebagai salah satu sumber pengetahuan lokal sekaligus bagian dari akar identitas budaya masyarakat. Keberadaannya menjadi bukti bahwa tradisi literasi dan kesusastraan di Cirebon telah tumbuh dan berkembang sejak ratusan tahun lalu,” paparnya.
Farihin menekankan pembacaan terhadap naskah sejarah tidak dapat dilakukan secara sederhana. Setiap informasi yang terdapat dalam naskah perlu dikaji secara kritis melalui tahapan penelitian sejarah.
“Dimulai dari pencarian dan pengumpulan sumber, verifikasi atau kritik sumber untuk menguji kredibilitas informasi, hingga interpretasi sebagai proses menafsirkan informasi sebelum disusun menjadi sebuah narasi sejarah, tuturnya.
Diskusi berlangsung interaktif. Antusiasme peserta terlihat dari berbagai pertanyaan yang berkembang selama kegiatan, salah satunya dari Gilang mengenai keberadaan historiografi yang tidak terlalu istana-sentris.
“Secara sejarah kan memang Cirebon jadi wilayah yang menyebarkan agama islam pertama di Jawa Barat, sering kali narasi yang dibangun lebih ke masalah istana sentris,” pungkasnya. (raqib)