Kejar Swasembada Pangan, Kementan Percepat Realisasi Luas Tambah Tanam di Kuningan

KUNINGAN (MASS) – Kejar target swasembada pangan nasional, Kementerian Pertanian RI terus mempercepat gerakan tanam padi di berbagai sentra produksi, termasuk Kabupaten Kuningan. Melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Kementerian Pertanian menggelar Gerakan Tanam Bersama di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Selasa (14/7/2026).

Kegiatan dipimpin langsung Kepala BPPSDMP Kementerian Pertanian Dr. Idha Widi Arsanti, S.P., M.P., didampingi Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan Dr. Wahyu Hidayah, M.Si., bersama jajaran penyuluh pertanian, pemerintah daerah, TNI, dan para petani.

Gerakan tanam dilaksanakan di dua lokasi, yakni di Desa Cileuleuy, Kecamatan Cigugur seluas 1 hektare dan dilanjutkan di Desa Cilimus Kecamatan seluas 3 hektare. Kegiatan ini merupakan bagian dari percepatan realisasi Luas Tambah Tanam (LTT) untuk menjaga kesinambungan produksi beras nasional.

Gerakan tersebut sejalan dengan arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang terus mendorong percepatan tanam sebagai strategi meningkatkan produksi pangan nasional. Percepatan tanam menjadi kunci untuk mengoptimalkan indeks pertanaman, menjaga keberlanjutan produksi, dan mempercepat terwujudnya swasembada pangan.

Kepala BPPSDMP Kementerian Pertanian Dr. Idha Widi Arsanti mengatakan percepatan tanam merupakan instrumen penting dalam mengoptimalkan kalender tanam nasional sehingga lahan dapat segera kembali berproduksi setelah panen.

“Gerakan tanam bersama ini dilakukan untuk mempercepat masa tanam guna meningkatkan produksi beras, menjaga ketersediaan pangan, serta mencapai target swasembada nasional,” ujar Arsanti.

Menurut Arsanti, keberhasilan percepatan tanam sangat ditentukan oleh sinergi seluruh pihak, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, penyuluh pertanian, TNI, hingga petani sebagai pelaku utama pembangunan pertanian.

Sebagai salah satu sentra produksi padi di Jawa Barat, Kabupaten Kuningan memiliki luas baku sawah mencapai 26.016 hektare yang menjadi modal strategis dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Kinerja sektor pertanian Kuningan pun menunjukkan tren yang positif.

Sepanjang Januari hingga Juni 2026, luas tanam padi mencapai 31.357 hektare, luas panen 32.456 hektare, dengan total produksi sebesar 198.928 ton dan produktivitas rata-rata 61,29 kuintal per hektare. Capaian tersebut menegaskan peran Kabupaten Kuningan sebagai salah satu daerah penyangga produksi beras di Jawa Barat yang terus memberikan kontribusi bagi pemenuhan kebutuhan pangan nasional.

Sementara, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan Dr. Wahyu Hidayah mengatakan Gerakan Tanam Bersama merupakan implementasi nyata sinergi pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam mengakselerasi target produksi pangan nasional.

“Gerakan tanam bersama bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi gerakan produksi. Setiap hektare yang ditanam lebih cepat akan mempercepat panen berikutnya, meningkatkan indeks pertanaman, dan memperbesar kontribusi terhadap produksi beras nasional,” kata Wahyu.

Ia menjelaskan, pada Juli 2026 Kabupaten Kuningan menargetkan Luas Tambah Tanam (LTT) sebesar 5.671 hektare. Dari target tersebut, Kecamatan Cigugur ditetapkan sebesar 144 hektare, sedangkan Desa Cileuleuy memiliki target 23 hektare. Menurut Wahyu, target tersebut hanya dapat dicapai melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.

“Produksi pangan tidak boleh berhenti. Karena itu, setiap jengkal lahan harus segera kembali ditanami setelah panen. Semakin cepat kita menanam, semakin cepat pula kita memanen. Inilah semangat yang kami bangun bersama petani untuk mendukung target swasembada pangan yang dicanangkan pemerintah. Penyuluh, brigade alsintan, pemerintah daerah, TNI, dan petani harus bergerak dalam satu irama agar tidak ada lahan yang menganggur setelah panen,” tegasnya.

Untuk mendukung percepatan tersebut, kata Wahyu, Pemerintah Kabupaten Kuningan terus memperkuat pendampingan penyuluh pertanian, mengawal ketersediaan benih dan pupuk, serta mengoptimalkan pemanfaatan alat dan mesin pertanian (alsintan) agar proses olah tanah hingga tanam berlangsung lebih cepat, efisien, dan tepat waktu.  (eki)