Saya Melihat Seorang Bupati yang Sedang Memikul Mimpi

Ada satu pelajaran yang saya dapatkan dari sebuah percakapan sederhana melalui WhatsApp. Pelajaran itu bukan tentang politik, bukan pula tentang strategi pemerintahan. Melainkan tentang sisi manusia dari seorang pemimpin.

Selama ini kita terbiasa menilai kepala daerah dari pidato, kebijakan, atau pemberitaan. Kita jarang melihat apa yang sesungguhnya sedang mereka pikul di dalam dirinya. Padahal, di balik jabatan itu ada harapan, ada kegelisahan, dan ada cita-cita yang sering kali tidak pernah sampai kepada publik.

Percakapan itu mengubah cara pandang saya.

Saya melihat seorang Bupati yang tidak sedang berbicara tentang dirinya. Ia justru bercerita tentang sebuah mimpi: mengembalikan kejayaan sepak bola Kuningan seperti belasan tahun silam. Ia menceritakan bagaimana sponsor dicari, kepercayaan dibangun, dukungan pemerintah disatukan, dan berbagai pihak diajak bergerak bersama.

Semua itu bukan pekerjaan yang terlihat. Publik hanya menyaksikan pertandingan selama sembilan puluh menit. Tetapi seorang pemimpin telah menjalani berbulan-bulan perjuangan yang tidak pernah masuk ke dalam sorotan kamera.

Yang paling menarik bukanlah cerita tentang keberhasilannya.

Melainkan kegundahannya.

Di sela-sela percakapan, saya menangkap kalimat yang sederhana, tetapi sarat makna. Bahwa di tengah usaha yang dilakukan, masih ada cibiran yang harus diterima. Kalimat itu tidak terdengar seperti keluhan. Ia lebih menyerupai kelelahan seorang pemimpin yang sadar bahwa apa pun yang dikerjakannya, tidak mungkin menyenangkan semua orang.

Mungkin memang demikian harga yang harus dibayar oleh sebuah kepemimpinan.

Semakin besar tanggung jawab, semakin besar pula ruang untuk disalahkan.

Namun justru di situlah saya melihat karakter.

Alih-alih sibuk menjawab setiap kritik, ia memilih tetap bekerja. Alih-alih mencari panggung, ia mengatakan lebih nyaman berada di belakang layar. Baginya, yang lebih penting bukan siapa yang mendapat tepuk tangan, tetapi apakah Kuningan benar-benar bergerak maju.

Di situlah saya memahami bahwa seorang pemimpin tidak hanya memikul program kerja. Ia memikul harapan ribuan orang yang belum tentu semuanya percaya kepadanya. Ia harus tetap tersenyum ketika dikritik, tetap melangkah ketika diragukan, dan tetap bermimpi ketika sebagian orang memilih pesimis.

Tentu, seorang Bupati bukanlah manusia tanpa kekurangan. Kebijakannya tetap harus diawasi, programnya tetap harus dikritisi, dan janjinya tetap harus ditagih. Itulah esensi demokrasi.

Namun demokrasi juga mengajarkan keadilan. Ketika ada kerja yang nyata, sudah sepantasnya kita mengakuinya. Ketika ada niat baik yang diwujudkan dalam tindakan, sudah selayaknya ia memperoleh apresiasi.

Karena pada akhirnya, sejarah tidak dibangun oleh mereka yang hanya pandai mengomentari. Sejarah dibangun oleh mereka yang berani memikul mimpi, menghadapi keraguan, dan tetap melangkah meski jalan yang ditempuh tidak selalu dipenuhi tepuk tangan.

Dan dari percakapan singkat itu, saya tidak hanya melihat seorang Bupati.

Saya melihat seorang manusia yang sedang memikul mimpi untuk daerah yang dicintainya.

Oleh: Dadan Satyavadin