KUNINGAN (MASS) – Di era digital yang serba cepat, pertanyaan tentang relevansi tatakrama sering muncul. Menurut saya, tatakrama justru semakin penting dan relevan di tengah perkembangan teknologi, bukan karena teknologi menggantikannya, melainkan karena teknologi menciptakan ruang baru yang membutuhkan etika lebih ketat.
Perkembangan teknologi yang begitu pesat telah menciptakan perubahan sosial yang cepat, menggeser cara kita memandang dan mempraktikkan tatakrama. Di satu sisi, kemudahan dalam komunikasi dan akses informasi memberi peluang untuk menyebarkan nilai-nilai sopan santun lebih luas. Namun di sisi lain, beberapa aspek tatakrama tradisional tergerus oleh dinamika modern: individualisme, kecepatan interaksi, dan fokus pada efisiensi sering menyingkirkan kedalaman penghormatan, kesopanan verbal, dan etika pergaulan..
Tata Krama Mengalami Transformasi, Bukan Punah
Perkembangan teknologi mengubah bentuk penerapan tatakrama, bukan menghilangkan esensinya. Remaja Indonesia di era digital menunjukkan adaptasi terhadap perubahan budaya akibat perkembangan teknologi informasi, namun ini juga mencerminkan perubahan moral dan etika yang perlu diarahkan. Gadget berpengaruh besar terhadap pola sikap dan tutur kata, sehingga banyak anak muda yang kehilangan unggah-ungguh basa dalam kehidupan sehari-hari.
Ciri Utama Perubahan Tatakrama Di Era Kini
Berikut lima ciri-ciri perubahan yang dominan saat ini:
1. Interaksi daring dominan.
Banyak percakapan pindah ke media sosial dan pesan singkat, memendekkan bentuk komunikasi serta mengurangi nuansa bahasa tubuh dan nada suara. Akibatnya, kesalahpahaman mudah terjadi dan etika berkomunikasi sering diabaikan.
2. Normalisasi vokalisasi emosi singkat.
Ketika meungkapkan amarah, sindiran, atau komentar pedas lebih cepat tersebar karena anonimitas dan jarak sosial. ini mengakibatkan mengikis rasa empati dan tata krama lisan.
3. Perubahan peran gender dan struktur keluarga.
Perubahan sosial mempengaruhi norma tata krama tradisional beberapa norma lama perlu adaptasi agar relevan dan adil, sementara yang lain perlu dilestarikan sebagai bagian dari respek antarindividu.
4. Konsumerisme dan pragmatisme.
Kecepatan hidup mendorong sikap praktis yang kadang mengesampingkan sopan santun kecil misalnya, mengabaikan salam, tidak memberi ruang bagi orang tua, atau mengurangi kesabaran dalam antrean.
5. Peluang pendidikan etika baru.
Sekolah, komunitas online, dan organisasi sipil kini dapat mengajarkan tatakrama yang relevan secara kontekstual, seperti etika digital, literasi media, dan sopan santun dalam ruang publik modern.
Ruang Lingkup Etika Digital
Nuralita mengungkapkan empat ruang lingkup etika digital yang perlu dipahami:
1. Kepantasan (Etika Dasar)
Etika dalam bermedia digital dan hidup sehari-hari punya patokan, standar, dan ruang lingkup yang jelas agar seseorang tak sewenang-wenang kepada lainnya.
2. Tanggung Jawab
“Soal etika tidak hanya soal kepantasan, melainkan juga menyangkut pertanggungjawaban. Bahwa apapun tindakan, perilaku, respon, komentar, sikap di ruang digital harus bisa dipertanggungjawabkan, termasuk di hadapan hukum berlaku.” Nuralita mengimbau agar pengguna digital lebih bijak dalam berjejaring sehingga meminimalisir warganet ketika hendak melakukan tindakan tidak etis.
3. Integritas atau Kejujuran
Etika integritas berkaitan dengan bagaimana pengguna memiliki tujuan baik, sehingga tidak menggunakan identitas palsu dalam platform dan berperilaku menjaga integritasnya sebagai pelaku ruang digital yang memiliki kebebasan berekspresi.
4. Kebajikan
“Hendaknya dalam berinteraksi di ruang digital yang notabene ruang publik di dunia maya, faktor kebajikan harus diutamakan. Karena ruang digital diciptakan untuk fungsi positif seperti saling toleransi, tidak berkomentar negatif, bullying dan sejenisnya,” tegas Nuralita.
Lalu apakah tatakrama masih penting?
Jawabannya adalah iya tatakrama masih penting karena menjadi dasar hubungan yang baik antarindividu. Dengan tatakrama, kita menunjukkan rasa hormat, menjaga perasaan orang lain, dan membuat komunikasi menjadi lebih nyaman.
Didalam kehidupan sehari-hari, tatakrama membantu mengurangi konflik, karena orang yang sopan cenderung lebih mudah diterima dan tidak menyinggung lawan bicara. Di era digital, tatakrama juga penting agar kita tetap bijak saat berkomentar, mengirim pesan, atau berinteraksi di media sosial.
Selain itu, tatakrama juga membentuk citra diri yang baik. Seseorang yang terbiasa bersikap sopan biasanya dipandang lebih dewasa, bertanggung jawab, dan profesional. Tatakrama juga membantu kita untuk beradaptasi di berbagai situasi, baik di rumah, sekolah, kampus, maupun lingkungan kerja.
Jadi, tatakrama tetap penting bukan karena aturan lama semata, tetapi karena ia juga menjaga keharmonisan, menghormati martabat orang lain, dan membuat pergaulan menjadi lebih sehat.
Tatakrama masih penting karena memiliki peran besar dalam kehidupan sosial. Dengan tatakrama, hubungan antarmanusia menjadi lebih baik karena tumbuh rasa saling menghormati, kerja sama lebih mudah terjalin, dan konflik sehari-hari dapat dikurangi. Selain itu, tatakrama juga menjaga martabat individu karena sikap sopan menunjukkan penghargaan kepada orang lain sehingga interaksi terasa lebih manusiawi. Di sisi lain, tatakrama membantu meningkatkan efektivitas komunikasi, sebab etika dalam berbicara dan bersikap dapat mengurangi kesalahpahaman serta mempercepat penyelesaian masalah.
Untuk memulihkan dan menyesuaikan tatakrama di zaman sekarang, ada beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan diantaranya:
Pertama, etika digital perlu diajarkan sejak dini melalui kurikulum atau workshop tentang cara bersosial media, menjaga privasi, dan memberi komentar yang konstruktif. Kedua, kebiasaan kecil yang sopan seperti memberi salam, mengucapkan terima kasih, dan meminta maaf perlu dibiasakan kembali karena sederhana tetapi berdampak besar. Ketiga, empati harus dipromosikan melalui latihan mendengar aktif, refleksi diri sebelum menanggapi, dan memberi ruang untuk dialog.
Keempat, norma tradisional perlu disesuaikan dengan perkembangan zaman, dengan memilih mana yang masih relevan dan mana yang perlu direvisi agar sesuai dengan nilai keadilan dan kebebasan modern.
Kelima, pemimpin komunitas seperti guru, tokoh agama, dan figur publik harus memberi teladan yang baik karena menjadi contoh yang nyata dan lebih mudah memengaruhi perilaku Masyarakat.
Mengapa Tatakrama Tetap Relevan?
Karena teknologi yang dapat memperluas ruang interaksi karena orang dapat berkomunikasi tanpa batasan ruang dan waktu sehingga membutuhkan etika yang lebih universal, namun dampak negatif teknologi perlu diimbangi dengan pendidikan tatakrama yang sangat penting karena kemajuan teknologi membawa dampak negatif yang sulit dihindari, di mana literasi digital memerlukan etika melalui pelatihan literasi digital dan keterampilan berpikir kritis untuk membedakan informasi dan menafsirkan dengan bijak, sehingga kita perlu membudayakan komunikasi yang bijak agar teknologi lebih memiliki dampak positif.
Pengguna internet di Indonesia pada tahun 2021 mengalami peningkatan signifikan. We Are Social mencatat kini pengguna internet di Indonesia mencapai 202,6 juta pengguna, di mana sebanyak 170 juta penggunanya menggunakan media sosial. Angka ini menunjukkan betapa luasnya ruang digital yang membutuhkan etika.
Tantangan Budaya Digital: Kebudayaan Indonesia Seakan Menghilang
Tantangan budaya digital lainnya adalah kebudayaan Indonesia seakan menghilang. Sekarang ini dunia digital masih menjadi panggung media asing. Alhasil, banyak netizen Indonesia lebih senang mengonsumsi budaya-budaya luar, seperti Korea Selatan dan lain sebagainya.
Novianto menjelaskan, menghargai kebudayaan sendiri dimulai dari lingkungan terkecil, yakni rumah atau keluarga. Setiap individu harus mencintai budaya yang sudah diwariskan turun menurun dari nenek moyang. Orangtua bisa menjadi teladan bagi anak-anak dalam penerapan budaya.
“Bagi orang yang sudah tua kadang los dol, tidak memegang teguh, karena menganggap orang dulu itu kolot. Orang zaman dulu tidak bisa menerima modernisasi. Modern bukan berarti tidak punya tata krama. Modern bukan berarti kita harus meninggalkan budaya yang lalu,” kata Novianto.
Etika Komunikasi Online
Empat aspek utama yang harus diperhatikan sebagai berikut:
1. Menghargai Pendapat Orang Lain
Salah satu aspek utama etika dalam komunikasi online. Di ruang diskusi besar seperti media sosial, opini bisa sangat beragam. Menghargai sudut pandang orang lain, meskipun berbeda dengan sudut pandang kita, merupakan bentuk dasar dari peradaban digital. Berbicara dengan penuh hormat tidak hanya membangun hubungan yang lebih baik, namun juga mendorong diskusi yang produktif dan bermakna.
2. Menanggapi Kritik dengan Bijaksana
Dalam lingkungan online yang terbuka, sering kali menjumpai kritik dan komentar yang tidak sepenuhnya mendukung. Bersikap gesit dan terbuka adalah bagian penting dari etika dan tata krama digital. Menghindari reaksi emosional atau defensif akan membantu menjaga suasana komunikasi yang positif dan konstruktif.
3. Menggunakan Bahasa yang Sopan
Bahasa yang digunakan dalam komunikasi online juga berperan penting dalam menjaga kesopanan. Menghindari penggunaan bahasa yang kasar, tidak pantas, atau menyinggung akan membantu menghindari konflik dan ketegangan yang tidak perlu. Berkomunikasi dengan bahasa yang sopan membuat pesan kita lebih mudah dipahami dan lebih mungkin diterima oleh penerimanya.
4. Menciptakan Lingkungan Inklusif
Etika dan tata krama dalam komunikasi online tidak hanya tentang penegakan aturan formal, tetapi juga tentang menciptakan lingkungan yang inklusif, saling menghormati, dan produktif di dunia maya. Dengan menghargai pendapat orang lain, menggunakan bahasa yang sopan, dan menanggapi dengan bijaksana, kita dapat meletakkan dasar bagi komunikasi yang bermakna dan positif di era digital.
Dari pemaparan opini diatas dapat ditarik keimpulan bahwa:
Tatakrama tidak relevan jika hanya dipandang sebagai tradisi lama, tetapi sangat relevan jika dipahami sebagai fondasi etika manusia yang perlu diadaptasi ke ruang digital. Teknologi adalah alat, sedangkan tatakrama adalah cara kita menggunakan alat tersebut dengan bijak. Tanpa tatakrama, kemajuan teknologi justru akan menjauhkan kita dari humanisme yang seharusnya menjadi tujuan peradaban.
Media sosial dan teknologi berdampak negatif menurunkan interaksi sosial secara langsung, sehingga pendidikan tatakrama menjadi kunci untuk menjaga nilai-nilai luhur.
Kunci utamanya bukan menolak teknologi, tetapi mengarahkan perkembangan teknologi dengan nilai-nilai tatakrama yang tetap hidup dan adaptif. Kita perlu membudayakan komunikasi yang bijak agar teknologi lebih memiliki dampak positif. Di era digital, pentingnya menjunjung tinggi nilai-nilai luhur menjadi semakin krusial di tengah teknologi yang semakin cepat berubah.
Oleh: Muhammad David Richi, Mahasiswa STISHK