Sering Merasa Insecure? Yuk, Lihat dari Sudut Pandang Islam

KUNINGAN (MASS) – Istilah insecure pasti sudah tidak asing lagi, di era media sosial seperti sekarang, kata ini sering banget kita dengar. Kadang kita merasa kurang percaya diri setelah melihat pencapaian, penampilan, atau kehidupan orang lain yang terlihat lebih baik dari kita.

Padahal, insecure bukan cuma soal minder karena penampilan, tapi juga perasaan tidak aman, ragu pada kemampuan diri sendiri, dan takut tidak diterima oleh lingkungan sekitar.

Sebenarnya, merasa insecure adalah hal yang wajar dan hampir semua orang pernah mengalaminya. Namun, kalau perasaan itu terus dipelihara dan berlebihan, dampaknya bisa kurang baik. Kita bisa jadi sering overthinking, kurang percaya diri, sulit bersyukur, bahkan kehilangan semangat untuk berkembang.

Pada dasarnya, setiap orang punya kekurangan masing-masing. Tidak ada manusia yang sempurna. Sayangnya, tidak semua orang bisa menerima kekurangan tersebut, baik dari segi fisik maupun nonfisik. Ada yang tidak percaya diri karena penampilannya, ada yang merasa kurang pintar, kurang berprestasi, atau merasa hidupnya tidak sebaik orang lain. Padahal, Islam mengajarkan kita untuk selalu bersyukur atas apa yang telah Allah berikan, karena setiap manusia diciptakan dengan kelebihan dan keistimewaannya masing-masing.

Menariknya, tidak semua insecure itu buruk. Dalam beberapa hal, rasa insecure justru bisa menjadi motivasi untuk menjadi lebih baik. Misalnya, ketika kita merasa ibadah kita masih kurang lalu termotivasi untuk lebih rajin shalat, lebih sering membaca Al-Qur’an, mengikuti kajian, atau memperbaiki akhlak. Rasa seperti ini bisa menjadi jalan menuju kebaikan dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah.

Namun, berbeda jika insecure membuat kita terus membandingkan diri dengan orang lain hingga merendahkan diri sendiri. Perasaan seperti ini hanya akan menimbulkan kegelisahan dan membuat kita lupa mensyukuri nikmat yang sudah Allah berikan. Padahal, nilai seseorang di sisi Allah tidak diukur dari rupa, harta, ataupun status sosialnya.

Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim No. 2564).

Hadis ini mengingatkan kita bahwa yang paling penting di hadapan Allah adalah hati yang baik, niat yang ikhlas, dan amal saleh yang kita lakukan. Jadi, tidak perlu terlalu sibuk memikirkan penilaian manusia hingga melupakan penilaian Allah.

Salah satu penyebab terbesar munculnya rasa insecure saat ini adalah kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, terutama melalui media sosial. Kita sering melihat orang lain tampak sukses, bahagia, atau sempurna. Padahal, yang kita lihat hanyalah sebagian kecil dari kehidupan mereka. Setiap orang punya perjuangan, masalah, dan ujian yang mungkin tidak mereka tunjukkan kepada siapa pun.

Karena itu, daripada membandingkan diri dengan orang lain, lebih baik kita fokus pada perkembangan diri sendiri. Coba tanyakan pada diri kita: apakah hari ini aku lebih baik dari kemarin? Apakah aku sudah lebih dekat kepada Allah? Apakah aku sudah berusaha menjadi pribadi yang lebih bermanfaat?

Ketika rasa insecure mulai muncul, cobalah untuk memperbanyak rasa syukur, fokus mengembangkan potensi diri, dan berada di lingkungan yang positif. Ingatlah bahwa setiap orang memiliki jalan hidup, proses, dan waktunya masing-masing. Tugas kita bukan menjadi seperti orang lain, tetapi menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri.

Jadi, jangan biarkan rasa insecure menghalangi langkah kita. Jadikan ia sebagai pengingat untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan semakin dekat kepada Allah. Karena pada akhirnya, yang paling penting bukanlah bagaimana kita terlihat di mata manusia, tetapi bagaimana kita dinilai di hadapan Allah SWT.

Oleh: Fani Husaeni, Mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Syari’ah Husnul Khotimah