Pemuda yang Dirindukan

KUNINGAN (MASS) – Pemuda memiliki makna yang luas, baik dari segi Bahasa maupun dari sudut pandang lainnya. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) didefinisikan sebagai orang yang masih muda dan seringkali dikaitkan dengan generasi penerus atau harapan bangsa. Para ahli memberikan pandangan, Taufik Abdullah “Pemuda adalah generasi baru dalam sebuah komunitas Masyarakat yang sedang menghadapi proses perubahan sosial. Pemuda sering kali menjadi motor penggerak atau agen perubahan (Agent of Change) karena pemikiran mereka yang cenderung kritis dan idealis” Sri Soedarsono “Pemuda Adalah suatu konsep yang tidak hanya merujuk pada batasan umur (Chronological Age), tetapi juga mencakup kedewasaan mental (Mental Age) dan kesiapan sosial untuk memikul tanggung jawab yang lebih besar.

Kurang dari 25 tahun generasi pertama muslim, generasi muslim mengubah Masyarakat Arab yang hobi perang saudara menjadi satu barisan solid yang tak bisa diperhitungkan. Bagi mereka, Syahadat menjadi sebuah dorongan revolusi agar mendeklarasikan kemerdekaan dari tirani manusia. Allah berfirman “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’d:11).

Pada abad ke-8 hingga ke-14, dunia Islam mengalami masa kejayaan ilmiah yang luar biasa. Faktor utamanya adalah karena ajaran Islam itu sendiri bertindak sebagai pendorong, bukan penghambat ilmu pengetahuan. Ayat pertama yang diturunkan bukanlah “Ikutilah/Taatilah” melainkan Iqra’ (Bacalah) jika mendalaminya maka kita akan menemukan makna terhebat bahwa kita harus menjadi kritis yang tak hanya ikut-ikut semata dengan nafsu dan ego (Fomo) Allah pun berulang kali menantang kepada manusia untuk berpikir dengan firmannya “Afalaa Ta’qiluun” (Apakah Kalian tidak berpikir?) dengan kata lain Allah tak hanya menyuruh kita untuk taat tanpa berpikir (Fanatik buta) namun Allah menyuruh kita sebagai muslim untuk menganalisis secara mendalam terkait sebuah disiplin Ilmu dan lingkungan sekitar Allah pun berfirman “Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9).

Pemuda saat itu tak hanya sekedar “intinya aksi/asal bapak senang” namun mereka berkontribusi dalam sebuah peradaban unggul, lihat bagaimana strategi yang dibawa Salman Al-Farisi membawa idenya dalam perang khandaq strategi yang asing bagi bangsa Arab namun diimplementasikan secara cerdas, lihat bagaimana saat Umar bin Khattab memenangkan gugatan rakyat jelata Yahudi melawan gubernurnya sendiri? Bagi generasi muslim saat itu keadilan itu Adalah sebuah kehormatan, mereka tidak mengenal nepotisme “orang dalam”. Di tangan mereka, hukum bukan alat pemukul lawan, tapi alat pelindung bagi yang lemah dan tertindas. Selain itu solidaritas mereka sangat tinggi, di perang Yarmuk, pejuang yang sekarat menolak air demi saudaranya yang juga haus sehingga pada akhirnya diri sendirinya pun meninggal karena lebih mementingkan keselamatan saudaranya yang lain.

Mereka adalah pembelajar cepat. Menguasai geopolitik, logistik, hingga birokrasi tanpa kehilangan jati diri, mereka itu sedikit tapi mengguncang dunia. Kita? Miliaran namun hanya jadi buih di lautan. Kenapa? Karena kita sibuk dengan nafsu, contohnya? demi menguntungkan diri dengan rasa nyaman kita menindas orang lain (merendahkan, menindas, menjatuhkan, menyudutkan) itu hanya salah satu dari sekian banyak sikap konyol pemuda saat ini lihatlah bagaimana mereka ketika di kritik, ketika memandang sebuah keadaan, dan ketika memandang sebuah ilmu pengetahuan, kebanyakan dari mereka berbuat subjektif sehingga mereka menunjukkan kebodohan mereka tanpa mereka sadari bahkan seorang yang hanya mendapatkan sebuah ilmu dari “katanya” bisa menjadi guru yang hanya mengandalkan teknologi sekarang seperti halnya A.I (Artificial Intelligence) pun bisa menjadi guru, saya tak menyatakan bahwa teknologi ataupun “katanya” itu mutlak salah namun sebagai pemuda seharusnya memahami bahwa “kebenaran” pada saat ini sangat mudah sekali dimanipulasi oleh orang-orang tak bertanggung jawab sehingga itu merugikan kita dan menguntungkan mereka seperti dengan kata lain Ketika melihat sesuatu ntah apapun itu kita harus bisa lebih mendalaminya dalam perspektif lain sehingga tidak menghasilkan Logical Fallacies (Kecacatan Berpikir) dan menyesatkan banyak orang.

Jika kalian berpikir “dikit-dikit agama, lihat noh eropa bisa Berjaya karena meninggalkan agama” secara tidak sadar kalian telah menunjukkan kualitas diri kalian, Sejarah ada bukan hanya menjadi “pajangan” semata namun menjadi konsep dan wawasan kita yang ada pada zaman sekarang agar tak mengulangi kesalahan yang sama, agar menjadi peradaban yang lebih baik, dan agar menjadi strategi kita semua dalam menyikapi atau bertindak dalam keadaan yang mungkin pernah terjadi di masa lalu.

Tapi meski begitu saya akan menjawab kenapa eropa bisa maju karena meninggalkan agama? Karena keadaan saat itu sangat berbeda dengan muslim, dogma gereja pada saat itu menjadikan kekuasaan mutlak bahwa semua hal itu sangatlah harus mematuhi tanpa bertanya “kenapa?” Sehingga jika ada yang menentang maka ia akan berakhir tragis seperti halnya Giordano Bruno yang mana Ketika itu ia menyatakan bahwa alam semesta ini tak hanya matahari namun jumlahnya tidak terbatas (Kosmik, Nebula, Bintang, Komet, Meteorit dll) sedangkan gereja tetap menyatakan bahwa hanya ada matahari dan bulan dan ketika itu ia pun ditangkap di venesia pada tahun 1592 dan dipenjarakan selama tujuh tahun selama dipenjara ia dipaksa untuk melepaskan ideologinya sehingga hakim pun menjatuhkan vonis mati kepadanya. Maka jelas sekali bahwa bagi Muslim masa lalu, semakin taat mereka pada perintah agama untuk mencari ilmu, semakin ilmiah mereka. Sementara bagi Eropa abad pertengahan, semakin mereka patuh pada institusi keagamaan yang dogmatis saat itu, semakin terkekang pemikiran ilmiah mereka.

Nabi ibrahim Ketika mencari kebenaran (Tuhan) ia justru bertanya dan bukan malah pergi ataupun menghakimi Ketika ia melihat Antariksa dengan seisinya (Bintang, bulan, matahari) ia tak berhenti di “kagum” semata namun ia justru bertanya sehingga ia mendapatkan jawabannya sehingga ia menemukan Tuhan bukan karena warisan, tapi karena ia berani berpikir sampai akarnya dan saat ini…sudah berapa lama kita tidak berpikir sampai tuntas?

Role model menjadi salah satu penyebab kemerosotan kualitas pemuda pada saat ini karena role model saat ini hanya meningkatkan dopamin semata, lihatlah influencer/selebgram/tokoh publik/idol sekarang mereka membangun citra, membangun narasi yang seakan-akan mendukung keadaanmu saat itu hanya demi keuntungan mereka sendiri yang mungkin akan mendorongmu ke dalam “jurang malapetaka” selama hidupmu. Kita itu hidup dengan pilihan kita walaupun tak selalu sepenuhnya dengan pilihan kita namun apa salahnya menentukan pilihan yang cerdas? Terkadang kita takut hanya karena belum paham.

Pesan terakhirku “kita masih muda maka galilah sedalam mungkin lautan ilmu, carilah terus jawaban atas kebingungan kalian dan carilah role model yang layak dijadikan panutan, tak hanya meningkatkan dopamin/ego/nafsu semata namun menjadikan kita meningkatkan value diri sehingga bisa menebar banyak manfaat bagi banyak orang lain dan bagi diri sendiri”

Wallahu a’lam bish-shawab

Penulis: Salim Maula Adha, Mahasiswa STIS Husnul Khotimah