KUNINGAN (MASS) – Momentum Idul Kurban bukan sekadar perayaan tahunan. Ia adalah panggilan untuk menghidupkan kembali semangat berkurban sebagai bukti nyata kepedulian sosial—terlebih ketika kondisi ekonomi masyarakat sedang tidak baik-baik saja.
Allah SWT telah menegaskan dalam Surah Al-Kautsar ayat 1-2: setelah menyebut kenikmatan yang besar, Dia memerintahkan hamba-Nya untuk mendirikan shalat dan berkurban sebagai tanda syukur. Perintah yang sama diulang dalam Surah Al-Hajj :34, agar setiap umat menyebut nama Allah atas rezeki binatang ternak yang Dia berikan.
Begitu pentingnya ibadah ini, Rasulullah SAW bersabda dengan tegas: “Barang siapa yang mempunyai kemampuan tetapi ia tidak berkurban, maka janganlah mendekati tempat shalat kami.” (H.R. Ahmad dan Ibnu Majah).
Dalam hadis yang lain, “Barangsiapa mendapatkan kelapangan dalam rezeki namun tidak mau berkurban maka janganlah sekali-kali mendekati masjid kami.” (H.R. Ahmad).
Ancaman ini bukan untuk menakut-nakuti. Ia mengingatkan: apa gunanya mendekat kepada Allah jika kita meninggalkan perintah-Nya yang nyata dampaknya bagi sesama?
Kurban Sejati: Menyembelih Ego, Bukan Hanya Hewan
Hakikat kurban melampaui darah dan pisau. Kurban adalah ketundukan total kepada Allah dan keberanian menyembelih sifat-sifat hewani dalam diri: serakah, sombong, egois.
Berat? Ya. Karena untuk berkurban dengan benar, seseorang harus sadar bahwa harta, jabatan, pengikut, keluarga, bahkan popularitas semua itu titipan. Tidak layak disombongkan, dan bisa diambil kapan saja jika Dia menghendaki.
Jika kesadaran ini hidup, keseimbangan masyarakat akan terjaga: maka bagi pengusaha berkurban dengan bisnis halal dan membayar hak karyawan sebelum keringatnya kering. Bagi orang kaya berkurban dengan dermawan. Bagi suami-istri berkurban dengan menjadikan rumah tangga ladang mendidik generasi berbudi.
Bagi pendidik berkurban dengan mencurahkan potensi untuk membentuk anak bangsa berkualitas. Bagi pemimpin dan pejabat berkurban dengan mengutamakan kesejahteraan rakyat, bukan kepentingan pribadi. Bagi politisi berkurban untuk kemaslahatan bangsa, bukan datang hanya saat dibutuhkan lalu pergi saat tujuan tercapai. Inilah wujud perjuangan untuk bangsa: setiap peran, sekecil apa pun, menjadi ladang kurban.
Hikmah Berkurban
Setiap helai bulu adalah kebaikan. Rasul SAW bersabda, “Setiap satu helai rambut hewan kurban adalah satu kebaikan.” (H.R. Ahmad dan Ibnu Majah). Amalan paling dicintai Allah di Hari Raya Kurban. Darah kurban sampai kepada Allah sebelum jatuh ke tanah. (H.R. Ibnu Majah dan Tirmidzi).
Ciri keislaman bagi yang mampu. Meninggalkan kurban saat mampu adalah kehilangan bagian dari identitas Muslim. Syiar Islam yang mempersatukan. Kurban adalah tanda penyerahan diri kepada Allah Yang Maha Esa. (Q.S. Al-Hajj:34).
Selanjutnya, menghidupkan kisah Nabi Ibrahim AS. Mengenang ujian kecintaan tertinggi kepada Allah. (Q.S. Ash-Shaffat:102-107). Misi kepedulian sosial. Hari Raya Kurban adalah hari untuk makan, minum, dan zikir serta berbagi dengan sesama. (H.R. Muslim).
Saatnya Bergerak
Jika semangat ini diejawantahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, Indonesia akan lebih kuat. Bukan karena kita kaya, tapi karena kita peduli. Bukan karena kita hebat sendiri, tapi karena kita saling menguatkan.
Bagi yang masih ragu untuk berkurban, kembalilah memahami hikmahnya. Di sanalah motivasi akan tumbuh: bukan karena paksaan, tapi karena sadar bahwa inilah cara kita berjuang untuk Allah, untuk sesama, untuk bangsa. Wallahu a’lam.
Imam Nur Suharno
Kepala Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat