KUNINGAN (MASS) – Perbaikan pendidikan adalah hal yang sangat vital dan krusial dalam langkah menuju Indonesia Emas 2045. Sebab, ketika kita berbicara tentang inovasi dan produktivitas tanpa menyinggung peran penting pendidikan, itu sama saja seperti membangun tanpa fondasi. Pendidikan adalah kunci utama dalam mencetak generasi yang inovatif, produktif, dan berdaya saing.
Pendidikan tidak hanya penting bagi siswa atau akademisi, tetapi juga menjadi fondasi bagi lahirnya para pakar di berbagai bidang baik pengusaha, ekonom, maupun profesional lainnya yang berpengaruh dalam pembangunan bangsa. Seorang pengusaha tidak hanya membutuhkan modal, tetapi juga pengetahuan, kemampuan analisis, dan visi yang lahir dari proses pendidikan. Begitu pula dengan para ekonom, yang merumuskan kebijakan dan arah pembangunan, semuanya berakar dari kualitas pendidikan yang mereka terima.
Pertama, kita harus mulai mendorong pendidikan vokasi yang lebih praktis dan relevan. Dengan begitu, lulusan tidak hanya siap secara teori, tetapi juga mampu langsung terjun ke dunia kerja dengan keterampilan yang dibutuhkan industri. Masalah kesenjangan keterampilan (skill gap) di Indonesia masih menjadi tantangan besar, yang berdampak pada rendahnya penyerapan tenaga kerja. Kita bisa belajar dari negara seperti Jerman dan Korea Selatan yang menempatkan pendidikan vokasi sebagai bagian penting dalam ekosistem industrinya. Mereka tidak hanya mencetak lulusan yang pintar secara akademik, tetapi juga terampil dan siap kerja.
Kedua, peningkatan investasi di bidang riset dan pengembangan (research and development) di perguruan tinggi menjadi hal yang tidak kalah penting. Riset adalah bahan bakar utama inovasi. Namun, realitasnya, budaya riset di Indonesia masih belum optimal jika dibandingkan dengan negara-negara maju. Anggaran untuk riset pun masih tergolong rendah. Padahal, perguruan tinggi sebagai pusat penelitian memiliki peran strategis dalam menciptakan solusi atas berbagai persoalan sosial dan ekonomi. Hasil riset dapat mendorong lahirnya teknologi baru serta meningkatkan efisiensi dalam berbagai sektor industri.
Selain itu, pendidikan tidak hanya soal kecerdasan intelektual, tetapi juga pembentukan karakter. Nilai-nilai budi pekerti, etika, dan kesantunan harus tetap menjadi bagian penting dalam proses pendidikan. Dalam beberapa kesempatan, Joko Widodo pernah menyinggung bahwa budaya santun dan budi pekerti luhur bangsa Indonesia mulai memudar. Ini menjadi pengingat bahwa pendidikan harus mampu menjaga identitas dan karakter bangsa, bukan hanya mengejar kemajuan teknologi semata.
Momentum Hari Pendidikan Nasional seharusnya tidak hanya menjadi seremoni tahunan. Lebih dari itu, ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan refleksi dan evaluasi bersama. Sudah sejauh mana pendidikan kita benar-benar menjadi fondasi kemajuan bangsa?
Jika kita serius ingin mencapai Indonesia Emas 2045, maka tidak ada pilihan lain selain membenahi pendidikan secara menyeluruh. Karena pada akhirnya, masa depan bangsa tidak ditentukan oleh seberapa banyak rencana yang dibuat, tetapi oleh seberapa kuat fondasi pendidikan yang kita bangun hari ini.
Oleh: Yoga Sunandar