KUNINGAN (MASS) – Sebanyak 244 santri SDIT Al-Multazam mengikuti kegiatan Khatmul Qur’an dan Imtihan ke-9 Metode Ummi yang digelar di Ballroom Raja Seafood, Sabtu (25/4/2026). Acara ini menjadi momen puncak pembelajaran Al-Qur’an sekaligus ajang evaluasi capaian santri selama satu tahun ajaran.
Ada yang berbeda dalam pelaksanaan tahun ini. Untuk pertama kalinya, program turjuman ditampilkan dalam rangkaian khataman dan langsung menyita perhatian para undangan.
Turjuman merupakan program pembelajaran yang tidak hanya menekankan hafalan, tetapi juga pemahaman arti ayat, doa, dan bacaan ibadah sehari-hari. Melalui program ini, santri dilatih agar mampu memahami makna dari apa yang mereka baca.

Sebanyak 25 santri tercatat lulus dalam kategori turjuman tahun ini.
“Ini bukan sekadar membaca, tapi bagaimana anak-anak memahami Al-Qur’an,” ujar Kepala SDIT Al-Multazam, Tita Yulianti.
Selain turjuman, capaian santri juga terlihat dalam kategori lain. Sebanyak 40 santri lulus tartil, sementara pada kategori tahfidz tercatat:
- Juz 30: 159 santri
- Juz 29: 41 santri
- Juz 28: 8 santri
- Juz 27: 2 santri
- Juz 26, Juz 1, dan Juz 2: masing-masing 1 santri
Total capaian mencapai 278 kategori. Di antara ratusan peserta, satu nama mencuri perhatian. Muhammad Ulinnuha berhasil meraih Terbaik I Hafalan Al-Qur’an Terbanyak, menjadikannya salah satu santri dengan capaian paling menonjol dalam kegiatan tahun ini.
Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa ketekunan dan konsistensi dalam menghafal Al-Qur’an sejak dini mampu menghasilkan hasil yang luar biasa.

Ketua I Yayasan Pendidikan Islam Al-Multazam, KH. Adin Nurhaedin, mengingatkan bahwa capaian ini bukanlah akhir dari perjalanan belajar Al-Qur’an.
“Hari ini bukan akhir, melainkan awal untuk terus bersama Al-Qur’an sepanjang hidup,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya memahami Al-Qur’an, sejalan dengan hadirnya program turjuman.

Sementara itu, dr. Hj. Susi Lusiyanti, MM, Staf Ahli Bupati Kuningan Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia, yang mewakili Bupati Kuningan, menyebut kegiatan ini sebagai langkah penting dalam membangun generasi muda yang berkarakter.
“Di tengah tantangan moral saat ini, kita butuh generasi yang kuat secara iman. Al-Qur’an menjadi fondasinya,” katanya.
Momen haru juga datang dari wali santri. Salah satunya, Dian Amanah, mengaku bangga saat anaknya mampu menjelaskan arti bacaan Al-Qur’an yang sebelumnya tidak ia pahami.

“Anak saya justru mengajari saya. Itu kebahagiaan yang luar biasa,” ujarnya.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pembelajaran Al-Qur’an tidak hanya berhenti pada hafalan, tetapi juga bergerak ke arah pemahaman. Hadirnya turjuman pun disebut sebagai langkah baru dalam memperkuat kualitas pendidikan Al-Qur’an di tingkat dasar. (eki)