KUNINGAN (MASS) – Angka stunting di Kabupaten Kuningan saat ini terpantau masih sangat dinamis. Berdasarkan data terbaru, terjadi fenomena unik di mana beberapa kecamatan berhasil mencatatkan penurunan kasus, namun di sisi lain terdapat beberapa kecamatan yang justru mengalami kenaikan jumlah anak stunting.
Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kuningan, dr H Edi Martono MARS, usai menghadiri Rapat Koordinasi Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) di Ruang Rapat Sang Adipati, Selasa (21/4/2026). Menurutnya pergerakan angka ini sangat dipengaruhi oleh ketelitian pelacakan di lapangan serta standar alat ukur yang digunakan.
Meskipun grafiknya bervariasi, dr. Edi menilai secara umum upaya penurunan stunting di Kuningan sudah menunjukkan arah yang lebih baik. Namun, ia tidak menampik bahwa target “Zero Stunting” atau nol kasus merupakan tantangan yang sangat berat untuk dicapai dalam waktu singkat.
“Kalau ditanya soal target zero stunting, itu memang sulit sekali. Saat ini angka kita berada di kisaran 10,28 persen, sementara angka nasional sendiri berada di angka 15 persen,” ujarnya.
Lebih lanjut, dr. Edi menjelaskan penanganan stunting tidak bisa hanya mengandalkan sektor kesehatan saja. Diperlukan kerja sama lintas sektor, terutama peran Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang berada di bawah naungan Dinas DPPKBP3A, serta para kader di tingkat desa yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
“Perlu pendamping keluarga pendamping keluarganya udah ada di dinas DPPKBP3A, Nah ini yang akan dikolaborasikan dengan Dinas Kesehatan, jadi pemberian makanan tambahan itu dari Dinas Kesehatan programnya, tapi dilaksanakan juga oleh kader,” tegasnya.
Kadinkes sebut peran penting kader dan pendamping keluarga dibutuhkan. Mereka bertugas memberikan arahan dan memastikan makanan tambahan tersebut benar-benar dikonsumsi oleh anak dengan cara yang benar. Kader juga harus aktif berkoordinasi dengan Puskesmas jika menemukan kendala terkait pemahaman gizi di tengah warga.
“Ketika makanan itu sudah ada pendamping kader ini yang bisa memberikan arahan nih, Begini nih bagusnya,” tuturnya.
Puskesmas sendiri tetap menjadi motor penggerak dalam memberikan sosialisasi gizi kepada para kader yang notabene adalah warga setempat. Dengan bimbingan dari ahli gizi Puskesmas, para kader yang tadinya orang awam diharapkan mampu mengedukasi ibu-ibu di desanya tentang pola makan yang sehat bagi tumbuh kembang anak.
“Nah untuk kolaborasi dengan Puskesmas, mungkin karena namanya kader, mungkin bisa jadi orang awam dari desa di sekitarnya koordinasinya dengan puskes untuk memberikan sosialisasi tentang gizi itu ya,” pungkasnya. (raqib)