KUNINGAN (MASS) – Kalimat itu ditulis R.A. Kartini lebih dari 100 tahun lalu. Saat itu, perempuan Jawa dikurung tembok tradisi. Tidak boleh sekolah tinggi. Tidak boleh bersuara. Masa depannya sudah diputuskan: dipingit, lalu dinikahkan. Gelap.
Tapi Kartini memilih tidak diam. Dari kamar pingitannya di Jepara, ia menulis surat. Satu per satu. Kepada teman-temannya di Belanda. Isinya keluh kesah, tapi juga harapan. Ia percaya, segelap apa pun malam, matahari pasti terbit. Dari tulisan itulah lahir buku Door Duisternis tot Licht, yang kita kenal Habis Gelap Terbitlah Terang.
Gelap itu pasti, tapi tidak selamanya. Hidup orang dewasa isinya siklus gelap dan terang. Satu masalah selesai, muncul yang lain. Kalau tidak kuat mental, kita bisa menyangka hidup ini isinya gelap saja.
Padahal Allah SWT sudah memberikan rumus kehidupan dalam Al-Qur’an, “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6).
Allah tidak mengatakan “setelah” susah ada mudah. Tapi “bersama” susah ada mudah. Diulang dua kali. Artinya, saat kita sedang di titik tergelap, benih terangnya sudah Allah tanam di situ juga. Tinggal kita kuat tidak menggalinya.
Kartini mengajarkan: gelap dilawan dengan ilmu dan aksi. Kartini tidak hanya meratapi gelap. Tiga hal yang ia lakukan saat “gelap”: Belajar. Ia doyan membaca. Koran, majalah, buku dari Eropa. Ia tahu, kebodohan adalah gelap paling pekat. Ilmu adalah korek pertama untuk menyalakan terang.
Menulis dan bersuara. Ia tidak bisa demo ke jalan. Tapi ia bisa kirim surat. Satu suratnya mengubah cara pandang orang Belanda tentang perempuan Jawa. Suara kita mungkin kecil, tapi jangan diremehkan. Mulai dari yang kita bisa. Ia mendirikan sekolah untuk anak gadis di rumahnya. Tidak menunggu menjadi menteri. Tidak menunggu kaya. Mulai dari kamar, dari rumah. Terangnya menyebar.
Hal itu sejalan dengan sabda Nabi SAW: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus menerus meskipun sedikit.” (HR. Bukhari Muslim). Terang tidak harus langsung seperti lampu stadion. Cukup seperti lilin. Tapi jangan padam.
Ujian orang dewasa: bertahan di fase gelap. Bedanya anak kecil dengan orang dewasa adalah caranya menghadapi gelap. Anak kecil nangis minta gendong. Orang dewasa harus bisa gendong dirinya sendiri, bahkan gendong orang lain, sambil yakin terang akan datang.
Nabi Ya’qub AS kehilangan Yusuf puluhan tahun lamanya. Gelap. Tapi ucapannya apa? “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Yusuf: 86). Ia tahu: di balik gelap kehilangan, ada terang pertemuan. Dan benar, 40 tahun kemudian mereka bertemu lagi.
Tugas kita saat ini: menjadi lentera kecil. Mungkin hari ini hidup kita sedang terang. Alhamdulillah. Maka jadilah lentera bagi yang sedang gelap. Temani teman yang sedang diuji. Dengarkan curhat tanpa menghakimi. Karena Kartini juga terang karena ada orang yang mau membaca suratnya. Terang itu menular. Tapi syaratnya, harus ada yang mau menyalakan dulu.
Dengan demikian, jika hari ini kita sedang dalam fase gelap: sakit, sepi, gagal. Ingat kisah perjuangan Kartini. Ingat Nabi Ya’qub. Ingat janji Allah dalam surat Al-Insyirah. Gelap tidak mengalahkan kita, kecuali kita yang menyerah.
Bertahanlah satu malam lagi. Ikhtiar satu kali lagi. Doa satu kali lagi. Karena sunnatullah-nya: habis gelap, terbitlah terang. Bukan mungkin. Tapi pasti. Tugas kita hanya tidak mati di dalam gelap.
Semoga Allah senantiasa membimbing kita semua agar tetap dalam naungan Islam hingga akhir hayat. Amin.
Penulis : Imam Nur Suharno
Pembina Majalah Husnul Khotimah Kuningan, Jawa Barat