KUNINGAN (MAS) – Kabupaten Kuningan semakin mengukuhkan jati dirinya sebagai benteng budaya sekaligus pusat edukasi dengan akan hadirnya Tugu Angklung. Pembangunan ikon baru ini menjadi manifestasi nyata dari semangat pelestarian warisan leluhur yang disinergikan dengan visi besar Kuningan sebagai Kabupaten Pendidikan dan Daerah Tujuan Wisata.
Tugu ini bukan sekadar monumen fisik, melainkan simbol kolaborasi budaya. Di baliknya, tersimpan pesan kuat tentang penyatuan Seni Angklung yang Bisa harmonis dengan keteguhan Seni Silat tradisi. Keduanya merupakan pilar karakter masyarakat Kuningan: lembut dalam rasa, namun tangguh dalam prinsip.
Tugu Angklung ini adalah representasi dari harmoni budaya. Ini bisa menjadi kurikulum kehidupan bagi masyarakat. Sebagai Kabupaten Pendidikan, kami ingin tugu ini menjadi laboratorium visual bagi pelajar untuk mengenal akar budayanya. Sementara sebagai Kabupaten Pariwisata, tugu ini adalah landmark yang menyambut wisatawan dengan narasi kekayaan lokal yang otentik.
Menariknya Bagi Kami, pembangunan simbol kebanggaan ini merupakan buah kolaborasi sektor ekonomi dan budaya. Didanai melalui hibah atau dana CSR, salah satunya dari Perumda BPR Bank Kuningan, proyek ini membuktikan bahwa kemajuan ekonomi daerah berjalan selaras dengan pelestarian nilai-nilai tradisi tanpa membebani APBD.
Kehadiran Tugu Angklung ini mengusung tiga misi strategis:
- Edu-Budaya (Pendidikan): Menjadi sarana edukasi luar ruang bagi siswa untuk mempelajari filosofi angklung dan silat sebagai bagian dari jati diri bangsa.
- Destinasi Ikonik (Pariwisata): Memperkuat daya tarik Kuningan dengan menghadirkan titik swafoto yang memiliki nilai sejarah dan artistik tinggi bagi wisatawan.
- Ekosistem Seni: Mendorong pementasan kolaboratif antara komunitas angklung dan perguruan silat dalam berbagai agenda wisata daerah.
Kami berharap Pemerintah Kabupaten Kuningan Tugu Angklung ini menjadi “spirit pelestarian” yang terus bergetar di hati setiap warga dan pengunjung. Dengan semangat kolaborasi, Kuningan siap membuktikan bahwa warisan budaya adalah bahan bakar utama untuk memajukan pendidikan dan pariwisata di masa depan.
Namun, pembangunan Tugu Angklung ini jangan sampai berhenti pada aspek estetika visual semata. Pemerintah Kabupaten Kuningan ditantang untuk membuktikan bahwa spirit pelestarian ini juga menyentuh substansi, seperti penguatan kurikulum angklung dan silat di sekolah-sekolah serta dukungan nyata bagi kesejahteraan para seniman lokal.
Oleh: Fery Rizkiana Tri Putra S. HUT
Ketua Komite Pemuda Asli Kuningan (KOMPAK)











