Connect with us

Hi, what are you looking for?

Kuningan Mass
Awang Dadang Hermawan, Pemerhati Intelijen, Sosial Politik dan SARA.

Nasional

Dampak Krisis Global dari Level Negara Hingga Individu

Bismillah

KUNINGAN (MASS) – “Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, yaitu urusan dari sisi Kami. Sesungguhnya Kamilah yang mengutus rasul-rasul.” (QS. Ad-Dukhan: 4-5).

Menjelang kita memasuki malam ke-21 Ramadhan, pintu pertama menuju Lailatul Qadar.

Namun tahun ini, malam-malam penentuan itu datang di tengah badai yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dua kutub psikologi telah bertemu di titik nadir. (AS-ISRAEL VS IRAN).

Samson Option Israel berhadapan dengan AL Mahdi Option Iran. Stok rudal Tomahawk menipis, sementara ribuan drone dan rudal hipersonik siap diluncurkan.

Pangkalan-pangkalan AS di Teluk lumpuh total, sementara personel China dan Rusia profesional telah tiba di Teheran sebagai “Bantuan Moral Strategis”.

Pertanyaannya: apa yang akan terjadi jika perang ini terus bereskalasi?

Advertisement. Scroll to continue reading.

Bukan hanya di level geopolitik, tetapi di semua level: negara, komunitas, keluarga, dan individu.

Dan yang lebih penting: bagaimana kita harus bersiap di malam-malam penentuan ini? (Malam Laitul Qadar ini?).

Dikisah Nabi Khidr Alaihi Salam bersana Nabi Isa Alaihi Salam (Konteks pandangan Mata Khidr), mengajak kita tidak hanya membaca tanda-tanda zaman, tetapi juga memetakan skenario, bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk mempersiapkan diri dari kemungkinan yang tidak dikenendaki.

Karena sungguh, ketika takdir ditetapkan di Lailatul Qadar, kita ingin menjadi hamba yang  Profesional, punya integritas, bukan hamba yang lengah, lemah dan putus asa dalam menjalani liku hidup dan kehidupan ini.

I. NEGARA JANGAN GAGAL LINDUNGI RAKYATNYA

Pada level tertinggi, negara adalah entitas yang bertanggung jawab atas keselamatan warganya. Namun dalam skenario terburuk, negara bisa gagal menjalankan fungsi ini.

Berapa lama lagi dunia akan menahan nafas?

Advertisement. Scroll to continue reading.

Skenario 1: Eskalasi Nuklir Terbatas

Jika Israel mengaktifkan Samson Option (Tombol Nuklir Israel yang disiapkan untuk mati bersama, ketimbang dipermalukan dunia karena kalah perang), target pertama kemungkinan adalah fasilitas nuklir Iran di Natanz, Fordow, dan Isfahan. Dampaknya:

Radiasi akan menyebar ke seluruh kawasan Teluk, memaksa evakuasi massal penduduk Irak, Kuwait, dan Arab Saudi bagian timur.

Diawali dari negara manapun Nuklir diluncurkan,  dipastikan “Nuklir – Nuklir negara lainnya digunakan dan itu yang dalam “Nubuah disebut Malhamah Qubro”, di Nasrani disebut “Armagedon”, yang memiliki kesamaan arti: Itulah perang besar (Perang Dunia III).

Kembali kepersoalan saat ini: Perang AS – Zionis Israel VS Iran, jika tidak segera diakhiri, beresiko rantai pasokan minyak dunia akan terputus total. Harga minyak bisa melonjak hingga $300 per barel.

Negara-negara Teluk yang selama ini menjadi sekutu AS akan memutuskan hubungan diplomatik.

Turki, sebagai anggota NATO, akan terpaksa merespons karena kedekatan geografis dan dampak radiasi.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Rusia dan China, yang memiliki personel di Iran, akan terlibat langsung.

Indonesia, sebagai negara pengimpor minyak, akan menghadapi krisis ekonomi terparah dalam sejarah. Subsidi BBM akan jebol dalam hitungan hari. Inflasi bisa mencapai dua digit. Nilai tukar rupiah akan terpukul.

Skenario 2: Perang Regional Total

Jika Iran merespons dengan serangan besar-besaran ke Israel dan pangkalan-pangkalan AS, konflik akan meluas ke seluruh Timur Tengah. Hizbullah di Lebanon, Ansarullah di Yaman, milisi di Irak dan Suriah akan bergerak serentak.

Dampaknya:

Selat Hormuz akan ditutup total, menghentikan 20% pasokan minyak dunia.

Negara-negara Teluk akan menjadi medan perang. Infrastruktur vital seperti kilang minyak, pembangkit listrik, dan fasilitas desalinasi air akan hancur.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Jutaan pengungsi akan mengalir ke Yordania, Turki, dan Eropa.

Ekonomi global akan memasuki resesi terdalam sejak Depresi Besar 1930-an.

Bagi Indonesia, dampaknya tidak hanya ekonomi. 58 ribu jemaah umrah yang masih tertahan di berbagai bandara akan semakin sulit dipulangkan.

Ribuan WNI yang bekerja di kawasan Teluk akan kehilangan mata pencaharian. Pengiriman remitansi akan terhenti.

Skenario 3: Runtuhnya Tatanan Global

Jika konflik ini memicu perang terbuka antara AS dan China (melalui keterlibatan China di Iran), dunia akan memasuki fase yang oleh para analis disebut “Perang Dunia III”.

Tiga tahun yang lalu saya sudah menulis dengan judul tulisan Perang Dunia III akan terjadi.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Ini bukan lagi perang regional, tetapi konfrontasi antara dua kekuatan nuklir terbesar.

Dampaknya:

Rantai pasok global akan hancur total. Tidak ada lagi “barang impor” yang bisa diandalkan.

Sistem keuangan global akan kolaps. Dolar AS mungkin kehilangan statusnya sebagai mata uang cadangan dunia.

Perang siber akan melumpuhkan infrastruktur vital di semua negara, termasuk Indonesia.

Blok-blok kekuatan akan terbentuk, memaksa semua negara memilih pihak.

Indonesia, dengan prinsip bebas aktif, akan berada dalam posisi paling sulit dalam sejarah. Tekanan untuk memihak akan sangat besar. Dan pilihan yang salah bisa berakibat fatal.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Apa yang harus dilakukan negara?

Pemerintah RI harus segera menyiapkan skenario darurat nasional untuk semua kemungkinan, termasuk evakuasi WNI, stabilisasi harga pangan, dan pengamanan infrastruktur vital.

Cadangan pangan dan energi harus diamankan. Stok beras, minyak goreng, dan bahan bakar harus cukup untuk setidaknya enam bulan ke depan.

Sistem pertahanan siber harus diperkuat. Serangan terhadap infrastruktur vital seperti listrik, air, dan perbankan harus diantisipasi.

Diplomasi harus diarahkan untuk membangun jejaring dengan negara-negara yang tidak memihak, termasuk China, Rusia, dan negara-negara Global South lainnya.

II. SKENARIO TERBURUK LEVEL KOMUNITAS.

Pada level komunitas, krisis besar akan menguji solidaritas sosial.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Dalam skenario terburuk, tekanan ekonomi dan ketakutan bisa mengubah tetangga menjadi tidak harmonis antar sesama.

Skenario 1: Krisis Pangan dan Konflik Horizontal

Dengan lonjakan harga pangan dan kelangkaan barang, potensi konflik horizontal meningkat. Perebutan sumber daya: air, makanan, bahan bakar, bisa memicu bentrokan antarwarga.

Di kota-kota besar, antrian panjang di SPBU dan pasar tradisional bisa memicu kerusuhan. Kelompok-kelompok yang paling rentan: buruh harian, pedagang kecil, pengemudi ojek online, akan menjadi yang pertama terkena dampak.

Skenario 2: Polarisasi Sosial Akibat Konflik Global

Perang di Timur Tengah memiliki dimensi keagamaan yang kuat. Di Indonesia, polarisasi antara kelompok yang pro-Iran dan pro-Palestina versus kelompok yang lebih pragmatis bisa memanas.

Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di Kab/Kota/Prov. – Baiknya agar berkumpul antar tokoh umat ber-agama dan menyuarakan pentingnya Persatuan indonesia. Manfa’atkan apa adanya, bantuan operasional dari pemerintah.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Kemudian?

Isu Board of Peace bisa menjadi pemicu. Mereka yang mendukung pemerintah RI bertahan di BoP akan dianggap “pro-AS dan pro-Israel”, sementara mereka yang mendesak keluar akan dianggap “radikal”.

Jangan sampai pemikiran itu menggelinding sampai myentuh level Kab/Kota di-seluruh Indonesia.

Polarisasi ini bisa merusak kohesi sosial yang selama ini dibangun dengan susah payah.

Persatuan indonesia itu WAJIB DIJAGA

Skenario 3: Runtuhnya Jaringan Sosial

Dalam krisis berkepanjangan, jaringan sosial yang biasanya menjadi penyangga seperti hiat : arisan, pengajian, gotong royong, bisa runtuh dan memerlukan waktu tidak mudah untuk kembali baik.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Orang-orang akan lebih fokus pada survival diri sendiri dan keluarga, mengabaikan solidaritas komunitas.

Ini adalah skenario terburuk dan berbahaya: ketika masyarakat berubah menjadi kumpulan individu yang hanya peduli pada diri sendiri, tanpa rasa saling percaya dan saling membantu.

Kemudian harus segera dilakukan komunitas adalah:

Perkuat jejaring ketahanan pangan lokal. Hidupkan kembali lumbung pangan desa, tanam sayuran di pekarangan rumah, budidayakan ikan dalam tempat yang bisa dianggap cukup.

Aktifkan kembali sistem gotong royong. Di masa krisis, tetangga adalah garis pertahanan pertama. Kenali tetangga sekitar, bangun komunikasi, dan sepakati mekanisme saling membantu.

Jaga komunikasi yang sehat di tingkat RT/RW. Informasi yang akurat dan tidak provokatif harus disebarkan untuk mencegah kepanikan.

Perkuat forum-forum keagamaan. Masjid, gereja, pura, vihara bisa menjadi pusat ketahanan sosial dan spiritual.

Advertisement. Scroll to continue reading.

III. SKENARIO  LEVEL KELUARGA: KETIKA RUMAH TAK LAGI MENJADI SURGA

Keluarga adalah unit terkecil masyarakat, sekaligus benteng terakhir dalam krisis. Namun dalam skenario terburuk, tekanan ekonomi dan psikologis bisa merusak fondasi keluarga.

Skenario 1: Krisis Ekonomi Rumah Tangga

Dengan inflasi tinggi dan potensi PHK massal, banyak keluarga akan kehilangan sumber pendapatan. Tabungan akan terkuras. Hutang akan menumpuk. Anak-anak mungkin harus putus sekolah.

Dalam skenario terburuk, keluarga bisa kehilangan tempat tinggal karena tidak mampu membayar cicilan KPR atau sewa rumah.

Skenario 2: Stres dan Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Tekanan ekonomi dan ketidakpastian masa depan bisa memicu stres berkepanjangan. Dalam keluarga yang tidak siap, stres ini bisa berujung pada kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Advertisement. Scroll to continue reading.

Data menunjukkan bahwa krisis ekonomi selalu diikuti oleh peningkatan kasus KDRT.

Anak-anak akan menjadi korban paling rentan. Selain berisiko mengalami kekerasan, mereka juga bisa mengalami trauma psikologis yang akan mempengaruhi perkembangan mereka di masa depan.

Skenario 3: Disintegrasi Keluarga

Dalam situasi paling ekstrem, keluarga bisa bubar. Orang tua mungkin terpaksa bekerja di kota lain, meninggalkan anak-anak. Pasangan mungkin bercerai karena tekanan ekonomi. Anak-anak mungkin terlantar.

Ini adalah skenario yang paling menyakitkan, ketika institusi yang seharusnya menjadi tempat berlindung yang paling aman justru GAGAL MENJAGA.

Apa yang harus dilakukan keluarga?

Siapkan dana darurat. Idealnya, setiap keluarga memiliki tabungan yang cukup untuk bertahan 6 bulan mulai bulan Maret 2026 tanpa pendapatan. Jika belum, mulailah menyisihkan sebagian pendapatan mulai sekarang.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Hidup sederhana dan kurangi hutang. Ini saatnya kembali ke gaya hidup minimalis. Belanjakan hanya untuk kebutuhan pokok. Lunasi hutang-hutang yang memberatkan.

Bangun komunikasi yang sehat. Diskusikan situasi dengan semua anggota keluarga. Dengarkan kekhawatiran masing-masing. Cari solusi bersama. Jangan biarkan masalah dipendam sendiri.

Perkuat pendidikan agama di rumah. Di masa krisis, IMAN adalah sumber kekuatan terbesar. Ajarkan anak-anak untuk berdoa, bersabar, dan bertawakal. Tanamkan nilai-nilai keislaman – ke-agamaan yang kokoh.

Siapkan rencana darurat. Tentukan titik kumpul jika terjadi sesuatu. Siapkan tas siaga bencana berisi dokumen penting, makanan, air, dan obat-obatan. Pastikan semua anggota keluarga tahu apa yang harus dilakukan.

IV. SKENARIO TERBURUK LEVEL INDIVIDU: KETIKA DIRI SENDIRI MENJADI MUSUH TERBESAR

Pada level paling dasar, krisis adalah ujian bagi individu. Dalam skenario terburuk, seseorang bisa kehilangan dirinya sendiri di tengah kekacauan.

Skenario 1: Kehilangan Pekerjaan dan Identitas

Advertisement. Scroll to continue reading.

Bagi banyak orang, pekerjaan bukan sekadar sumber pendapatan, tetapi juga sumber identitas dan harga diri. Kehilangan pekerjaan bisa memicu krisis identitas, depresi, dan kehilangan arah hidup.

Skenario 2: Gangguan Kesehatan Mental

Stres berkepanjangan, ketakutan akan masa depan, dan tekanan ekonomi bisa memicu berbagai gangguan kesehatan mental: kecemasan kronis, depresi, hingga gangguan stres pascatrauma (PTSD).

Data WHO menunjukkan bahwa setiap krisis besar selalu diikuti oleh lonjakan kasus kesehatan mental. Dan sistem kesehatan di Indonesia belum siap menghadapi lonjakan ini.

Skenario 3: Kehilangan Iman

Ini adalah skenario terburuk bagi seorang Mukmin: ketika ujian yang bertubi-tubi membuat seseorang kehilangan iman. Ketika doa-doa terasa tak terjawab. Ketika kesabaran habis. Ketika seseorang mulai bertanya, “Di mana Allah di tengah semua ini?”

Dalam situasi seperti ini, seseorang bisa terjerumus ke dalam keputusasaan yang dalam, dan keputusasaan dari rahmat Allah adalah dosa besar.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Apa yang harus dilakukan individu?

Perkuat hubungan dengan Allah. Di tengah badai, hanya Allah tempat berlindung yang paling aman. Perbanyak shalat, dzikir, dan doa. Jangan tinggalkan Al-Qur’an meskipun hanya beberapa ayat setiap hari.

Jaga kesehatan fisik. Tubuh yang sehat adalah modal utama menghadapi krisis. Makan makanan bergizi meskipun sederhana, istirahat cukup, dan olahraga ringan secara teratur.

Kelola stres dengan baik. Identifikasi sumber stres dan cari cara sehat untuk mengatasinya. Bisa dengan bercerita pada orang terpercaya, menulis jurnal, atau melakukan hobi yang menenangkan.

Perbanyak istighfar dan taubat. Dosa-dosa kita mungkin menjadi sebab datangnya musibah. Gunakan waktu ini untuk introspeksi dan memohon ampunan Allah.

Perkuat ilmu agama. Di tengah fitnah yang memuncak, ilmu adalah pelindung. Pelajari kembali akidah, terutama tentang akhir zaman dan tanda-tandanya. Pahami bahwa segala yang terjadi adalah atas izin Allah, dan di baliknya ada hikmah yang mungkin belum kita pahami.

Jangan putus asa dari rahmat Allah. Ingatlah firman Allah: “Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka

Advertisement. Scroll to continue reading.

 sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Az-Zumar: 53).

V. MALAM PENENTUAN: KETIKA TAKDIR DITETAPKAN

Di tengah semua skenario terburuk ini, kita memasuki malam-malam penentuan.

Diawali malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29 Ramadhan masih ada kedepan utk tetap yaqin adalah saat-saat di mana para malaikat turun membawa takdir tahunan.

Ibnu Abbas RA menjelaskan bahwa pada Lailatul Qadar, Allah menetapkan takdir untuk satu tahun ke depan: siapa yang akan hidup dan mati, siapa yang mendapat rezeki atau kesempitan, dan nasib bangsa-bangsa.

Artinya, takdir perang ini, apakah akan berakhir dengan kemenangan poros perlawanan, atau justru meluas menjadi konflik global, sedang ditetapkan di malam-malam ini.

Artinya, takdir Indonesia, apakah akan selamat dari krisis ekonomi, atau justru terpuruk lebih dalam, sedang ditetapkan juga di malam-malam dimaksud.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Artinya, takdir kita masing-masing, apakah akan diberikan kekuatan menghadapi ujian, atau justru lemah dan jatuh, sedang ditetapkan di malam-malam Lailatul Qadar ini.

Inilah mengapa Lailatul Qadar disebut “malam yang lebih baik dari seribu bulan.” Di malam inilah kita memiliki kesempatan untuk memohon kepada Allah agar menetapkan takdir yang terbaik bagi kita, bagi keluarga kita, bagi komunitas kita, bagi bangsa kita, dan bagi seluruh umat beriman.

Doa-doa yang bisa dipanjatkan:

1. Doa utama Lailatul Qadar:

“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.” (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan mencintai ampunan, maka ampunilah aku).

2. Doa untuk keselamatan bangsa:

“Allahumma shallimna wa shallim millatana wa shallim baladana min kulli fitnatin wa bala’.” (Ya Allah, selamatkan kami, selamatkan agama kami, dan selamatkan negeri kami dari segala fitnah dan bencana).

Advertisement. Scroll to continue reading.

3. Doa untuk saudara-saudara yang teraniaya:

“Allahumma ansyur ‘ala man zalamana wa ‘ada ‘alaina wa ‘ala ikhwanina al-mustadh’afin.” (Ya Allah, timpakanlah kehancuran kepada orang-orang yang menzalimi kami dan memusuhi kami serta saudara-saudara kami yang tertindas).

4. Doa untuk keteguhan iman:

“Allahumma tsabbit qalbi ‘ala dinik.” (Ya Allah, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).

5. Doa untuk kesabaran menghadapi ujian:

“Allahumma aj’ilni minash shabirin.” (Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang sabar).

VI. MEMBACA HIKMAH DI BALIK SKENARIO

Advertisement. Scroll to continue reading.

Pada konteks pandangan Khidr, kita membaca beberapa lapis makna dari pemetaan skenario ini:

Pertama, semua skenario ini adalah pengingat bahwa kita tidak memiliki kendali mutlak atas apa pun. Negara bisa goyah, komunitas bisa runtuh, keluarga bisa tercerai-berai, individu bisa kehilangan dirinya sendiri.

Hanya Allah yang Maha Kekal dan Maha Mengendalikan. Inilah makna tawakal: setelah berusaha maksimal, kita serahkan hasilnya kepada Allah.

Kedua, persiapan adalah bagian dari iman. Rasulullah ﷺ mengajarkan kita untuk bersiap menghadapi masa depan. Beliau sendiri mempersiapkan diri dan umatnya untuk berbagai kemungkinan.

Dalam konteks ini, memetakan skenario terburuk bukanlah bentuk pesimisme, tetapi bagian urgent dari ikhtiar

Ketiga, Lailatul Qadar adalah kesempatan untuk mengubah takdir. Para ulama menjelaskan bahwa doa bisa mengubah takdir.

Di malam-malam penentuan ini, kita memiliki kesempatan untuk memohon kepada Allah agar menetapkan takdir yang terbaik bagi kita, bagi umat Islam dan dunia.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Keempat, ujian adalah sunnatullah.

Tidak ada seorang pun yang luput dari ujian. Para Nabi pun diuji dengan berbagai cara.

Bahwa yang membedakan adalah bagaimana kita merespons ujian itu: dengan sabar dan tawakal, atau dengan putus asa dan kemarahan.

Kelima, setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Allah berfirman dalam Surat Al-Insyirah:

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6).

Janji ini pasti, meskipun waktunya tidak kita ketahui.

Di luar sana, dunia terus bergerak menuju ketidakpastian. Di Washington dan Tel Aviv, para pengambil keputusan bergulat dengan dilema nuklir. Di Teheran, rakyat yang kehilangan pemimpinnya justru semakin kuat dengan jihad sdh menjadi idiologi.                 

Advertisement. Scroll to continue reading.

Di Riyadh dan Abu Dhabi, para penguasa merasa ditinggalkan sekutu lamanya.

Dan di tengah semua itu, kita berdoa agar Allah menyelamatkan kita dari skenario terburuk. Kita berdoa agar Allah memberikan kekuatan untuk menghadapi skenario terbaik sekali pun.

Selamat mempersiapkan diri memasuki malam-malam penentuan.

Semoga Allah mempertemukan kita dengan Lailatul Qadar.

Semoga Allah menetapkan takdir yang terbaik untuk kita semua, untuk bangsa indonesia.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Hadanallahu Waiyyakum Ajma’in

Advertisement. Scroll to continue reading.

Awang Dadang Hermawan

*) Pemerhati Intelijen, Sosial Politik dan SARA

—————————–

    13 Maret 2026

Advertisement
Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Trending

You May Also Like

Netizen Mass

(Ketika Narasi Perdamaian Menjadi Topeng untuk kejahatan Perang) Bismillah “Dan mereka merencanakan tipu daya, dan Allah merencanakan tipu daya. Dan Allah sebaik-baik perencana tipu...

Netizen Mass

KUNINGAN (MASS) – Seberapa rapuhkah jalinan perekonomian global dan nasional di tengah gejolak geopolitik yang tak terduga? Pertanyaan ini menghantui kita di tengah kabar...