Yuk berefleksi mumpung Ramadan !!!
KUNINGAN (MASS) – Satu sore di sebuah kantor pemerintahan. Tepat di bulan Ramadan. Langit perlahan meredup. Azan hampir mengudara. Seorang pejabat menatap berkas terakhir sebelum berbuka. Sejak fajar ia menahan lapar. Tenggorokannya kering. Kepalanya sedikit pening. Ia menghitung menit menuju magrib.
Di mejanya ada dua hal. Dokumen persetujuan proyek. Dan sebuah pesan singkat yang menjanjikan kompensasi jika tanda tangan dipercepat. Ia berpuasa. Tetapi apakah ia benar benar sedang belajar menahan diri.
Azan berkumandang. Air diteguk, ia berbuka. Namun keputusan moralnya telah dibuat lebih dulu. Di situlah “PR” besar itu lahir. Jika puasa adalah latihan menahan diri, mengapa di kabupaten yang penuh orang berpuasa, tangan masih mudah mengambil yang bukan haknya.
Restorasi Moral
Semenjak hadir. Islam datang bukan sebagai kumpulan ritual. Ia adalah restorator moral. Memperbaiki akhlak umat manusia. Ia mengguncang struktur ketidakadilan di Makkah. Ia menantang penumpukan harta oleh elite. Ia membela hamba sahaya. Ia lantang mengingatkan bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan hak istimewa.
Puasa bukan sekadar menahan makan dan minum. Puasa adalah sekolah integritas. Ia melatih manusia menahan diri dari yang halal agar punya daya tangkal mengambil yang haram. Ia melatih empati agar yang kaya merasakan lapar orang miskin. Ia melatih kejujuran agar yang berkuasa tidak tergoda menyalahgunakan wewenang. Restorasi peradaban manusia dari kegelapan menuju cahaya.
Puasa sejatinya adalah latihan berkata tidak. Tidak pada nafsu. Tidak pada keserakahan. Tidak pada peluang menyimpang.
Namun jejak sejarah menemukan fakta, dimana pesan besar itu jadi mengerdil. Agama yang lahir sebagai visi moral sosial perlahan direduksi menjadi kepatuhan formal. Yang dinilai adalah sah atau tidak sah. Yang dihitung adalah jumlah ritualnya, bukan dampaknya. Puasa dianggap selesai saat magrib tiba, bukan saat keserakahan berhasil ditundukkan. Alhasil, ritual tetap hidup. Integritas publik melemah.
Agar di negara atau entitas sosial yang masyarakat dan pejabat pemerintahannya sering berpuasa sebulan penuh, korupsi dan penyimpangan moralnya bisa ditekan atau dinihilkan, maka ;
- PUASA harus membentuk watak Disiplin Moral
Bila kita sanggup menahan lapar, kita harusnya mampu menahan tamak. Bila kita mampu menahan haus, seharusnya juga sanggup menahan ambisi kekuasaan. Bukankah pada hakekatnya puasa itu cara membangun karakter yang tetap teguh ketika tidak ada yang melihat.
Jangan sampai setelah ramadan lewat praktik mark up proyek, jual beli izin, dan transaksi kekuasaan tetap berjalan, itu berarti yang berubah hanya jadwal makan, bukan struktur keinginan.
Nabi SAW mengingatkan bahwa betapa banyak orang berpuasa tetapi tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan dahaga. Peringatan itu terasa sangat relevan di ruang rapat dan meja anggaran.
- SPIRITUALITAS yang menguatkan Integritas
Puasa harusnya menaikan kadar spiritualitas diri. Rangkaian ibadahnya membentuk watak positif seseorang. Nilai-nilai Islam harus mampu membentuk karakter jujur, profesional, responsibel dan akuntabel. Setiap peribadatan vertikal dan horizontal meningkatkan integritas dan kapabilitasnya.
Jangan sampai spiritualitas hanya menjadi identitas simbolik. Dimana kesalehan publik hanya dinilai dari ritual yang terlihat. Rajin berpuasa, rajin beribadah, aktif dalam seremoni keagamaan. Tetapi transparansi anggaran dan integritas jabatan jarang menjadi ukuran spiritualitas.
Terkecoh idiom sesat; Korupsi tidak selalu memalukan. Yang memalukan justru tertangkap. Atau bagaimana bisa leluasa korupsi tanpa tertangkap itu menjadi sejenis kebanggaan.
Jangan sampai agama hanya menjadi simbol keanggotaan, bukan standar akuntabilitas, ritual tetap ramai tetapi etika publik kehilangan daya koreksinya.
Saatnya kesejahteraan batin membentuk watak kuat yang produktif. Hidup maslahat dan barokah.
- Kesalehan Individu mewarnai Sistem Kekuasaan
Orang-orang soleh yang direstorasi ramadan harus segera menyatu. Bersinergi dan berkolaborasi. Naikan kualitas misi turunkan ego. Bahu membahu bekerja sama. Secara efektif, efisien dan produktif. Karena semua faham bahwa al haq terlalu mudah dipercundangi oleh kebatilan yang terorganisir.
Singkirkan ironi; Puasa membentuk hati. Tetapi negara membentuk aturan main. Jika aturan main memberi ruang manipulasi dan permisif pada pelanggaran, maka nurani dipaksa bertarung sendirian. Al hasil; politik menguat, nurani mengerontang.
Yang terjadi; biaya politik tinggi. Pembiayaan kampanye tidak transparan. Jaringan patronase membentuk loyalitas. Kekuasaan menjadi alat distribusi rente. Regulasi dapat dibelokkan. Pengawasan bisa dinegosiasikan.
Dalam sistem seperti itu, korupsi bukan sekadar penyimpangan moral. Ia menjadi bagian dari desain kekuasaan. Integritas menjadi mahal. Penyimpangan menjadi rasional. Ramadan harus merestorasi keadaan, kekuasaan harus segera pulih sehatkan. Agar kekuasaan memberi dampak pada keberkahan.
Refleksi Realitas menuju Kuningan Baru
- Jika kita mampu menahan diri dari seteguk air di siang hari karena keyakinan bahwa Tuhan melihat, mengapa kita tidak menahan diri dari mengambil yang bukan hak kita ketika manusia tidak melihat. Puasa mengajarkan kita menahan diri dari yang halal agar kita tidak mudah mengambil yang haram.
- Mungkin yang perlu direnungkan bukan berapa kali kita khatam membaca Qur’an, tetapi berapa banyak godaan yang berhasil kita tolak ketika tidak ada saksi. Bukan berapa panjang doa kita, tetapi seberapa jujur tanda tangan kita. Bukan seberapa keras kita berbicara tentang moralitas, tetapi seberapa teguh kita berkata tidak pada peluang menyimpang.
- Dalam ajaran Islam, puasa bukan sekadar kewajiban tahunan. Ia adalah proses pembentukan manusia yang sanggup menghadirkan keadilan dalam sistem sosial. Jika ritual meningkat tetapi korupsi tetap tinggi, maka yang hilang adalah internalisasi visi moral tersebut.
- Puasa tidak hanya menguji daya tahan lapar kita. Ia menguji apakah kita sanggup menahan tak mengambil yang bukan hak, ketika kekuasaan memberi peluang. Dan mungkin, di antara azan dan tanda tangan sebuah proyek, di situlah terlihat apakah puasa benar benar membentuk karakter bangsa, karakter Kuningan ke depan atau hanya menghiasi kalender.
- Transformasi karakter bangsa menuntut perpaduan antara kesalehan personal dan reformasi birokrasi. Hanya saat rasa takut kepada Allah SWT bersenyawa dengan ketegasan hukum dan tata kelola kelembagaan, puasa benar-benar menjadi perisai yang melumpuhkan tangan-tangan serakah di ruang kekuasaan.
- Reformasi moral harus berjalan bersama reformasi institusi. Karena moralitas tanpa sistem akan rapuh. Sistem tanpa moralitas akan dingin dan tak punya jiwa.
Wallahu ‘alam bish shawab
Oleh: Iman Priatna Rahman
(Pembelajar & Pemberdaya Kuningan)

















