KUNINGAN (MASS) – Bagas Fuadi pemuda asal Kuningan yang mengemban ilmu di Timur tengah dan tak asing dengan adanya perang, bom dan suara tembakan. Ia berbagi pengalamannya sebagai mahasiswa di Hadramaut, Yaman, yang telah ia jalani selama lebih dari empat tahun. Yaman adalah negara yang dikenal masih bergelut dengan konflik, dan situasi di sana menjadi tantangan tersendiri bagi Bagas dan mahasiswa.
Bagas menjelaskan, meskipun Yaman merupakan negara konflik, mahasiswa Indonesia banyak yang tinggal di bagian selatan di Hadramaut, yang relatif lebih aman daripada bagian utara yang banyak dihuni kelompok Houthi. Bagas sendiri baru saja pulang ke tanah air pada awal tahun 2026, pasca menuntaskan studi sarjana.
“Di Yaman, konflik banyak terjadi di daerah yang dikuasai oleh kelompok Houthi di bagian utara, sementara kami berada di selatan,” tuturnya saat diwawancara kuninganmass.com pada Juamt (6/3/2026).
Namun, baru-baru ini, situasi di Hadramaut sempat tegang, Ia menambahkan situasi ini diperparah oleh kepentingan luar negeri. Bagas menjelaskan bentrokan ini tidak selalu langsung terlihat, tetapi lebih pada pengaruh kelompok-kelompok yang ada di lapangan.
“Uni Emirat Arab dan Arab Saudi punya kepentingan di Yaman. Uni Emirat Arab ingin Yaman selatan merdeka, sementara Arab Saudi tidak setuju,” ujarnya.
Dalam pandangannya, konflik yang berlarut-larut ini terkait erat dengan faktor politik dan sumber daya alam.
“Sejak Arab Spring, banyak negara Arab mengalami keruntuhan, termasuk Yaman. Ini semua berakar dari kepentingan politik dan ekonomi yang saling bertentangan,” tambahnya.
Dia menggambarkan betapa berbedanya dinamika politik di Yaman dibandingkan dengan Indonesia.
“Di sini, seperti contohnya Prabowo dan Jokowi yang pernah bermusuhan namun kemudian bisa berkoalisi. Itu jadi terlihat seperti kecil dibandingkan dengan apa yang terjadi disini, disini bisa hari ini bersekutu, besoknya bersitegang,” ujarnya.
Bagas juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap situasi di Yaman yang semakin memburuk. Menyelesaikan pendidikannya di tengah situasi penuh gejolak ini bukanlah hal yang mudah. Namun, Bagas menganggap pengalamannya sebagai pembelajaran berharga.
“Di sana, kita nggak bisa merasa aman. Kita perlu terus waspada karena situasi bisa berubah kapan saja,” pungkasnya. (raqib)

















