KUNINGAN (MASS) – Wilayah Desa Mancagar, Kecamatan Lebakwangi, pada Kamis (6/3/2026) kemarin mengalami fenomena cuaca yang mengejutkan, yaitu hujan es. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan es ini berasal dari awan Cumulonimbus yang tumbuh tinggi dan melewati lapisan titik beku.
Prakirawan BMKG Kertajati, Tri Yulianto menjelaskan fenomena ini terjadi pada kondisi atmosfer yang labil. Dalam kondisi tersebut, butiran air di dalam awan membeku dan membentuk butiran es.
“Awan Cumulonimbus memiliki arus udara yang sangat kuat, baik naik maupun turun,” tuturnya saat diwawancara kuninganmass.com Jum’at (6/3/2026).
Butiran es akan terus membesar melalui proses pembekuan berulang di bagian atas awan yang sangat dingin, dengan suhu bisa mencapai di bawah -60°C. Ketika ukuran butiran es cukup besar dan didorong oleh arus udara turun (downdraft), maka es tersebut jatuh ke permukaan bumi. Meskipun fenomena ini berlangsung cepat, sering disertai oleh hujan lebat, petir, dan angin kencang.
“Kecepatan downdraft yang tinggi memastikan butiran es tidak sempat mencair di udara. Jadi, mereka sampai ke permukaan sebagai hujan es,” tambahnya.
Hujan es merupakan fenomena cuaca ekstrem yang dapat menyebabkan dampak serius, terutama bagi tanaman, kendaraan, dan bangunan. Oleh karena itu, masyarakat dihimbau untuk tetap waspada saat fenomena ini terjadi. Penting untuk mengetahui langkah-langkah yang perlu diambil untuk menjaga keselamatan.
Saat hujan es berlangsung, masyarakat disarankan untuk segera berlindung di dalam bangunan yang kokoh dan menghindari aktivitas di luar ruangan. Jika sedang berkendara, penting untuk segera menepi dan mencari tempat yang aman untuk berlindung. Selain itu, hindari berada di lokasi yang berpotensi terdampak angin kencang dan benda jatuh.
“Jauhkan juga kendaraan dari area terbuka, seperti di bawah pohon, baliho, atau bangunan tanpa atap,” pungkasnya. (raqib)

















