KUNINGAN (MASS) – Ramadhan bukan sekadar tamu agung, tetapi tamu agung yang membawa keberkahan yang nyata dengan turunnya Al-Qur’an sebagai panduan kehidupan dan hidayah bagi umat manusia (hudal lil muttaqindanhudal linnas).
Oleh karena itu, Ramadhan membutuhkan strategi, bukan sekadar tradisi. Dengan strategi yang tepat, Ramadhan dapat melahirkan manusia-manusia istimewa yaitu bertakwa (la’allakum tattaqun).
Paling tidak, untuk meraih keberkahan Ramadhan maka diperlukan upaya maksimal yang terukur dan struktur dengan menjalankan empat pilar utama sebagai strategi cerdas.
Pertama, shiyam (puasa). Puasa yaitu menahan diri dari makan dan minum, serta segala hal yang membatalkan puasa mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari dengan niat ibadah. Puasa ini melatih fisik dalam aspek kedisiplinan dan pengendalian diri, dengan berbagai program kerja yang hendaknya dilakukan secara terukur dan terstruktur, di antaranya adalah berbuka dengan segera, sahur di akhir waktu, serta menjaga lisan dan pandangan mata dari berbuat doa yang dapat merusak pahala puasa. Hasil akhir (goal) dari puasa ini adalah mencapai derajat takwa.
Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqarah [2]: 183)
Kedua, qiyam (shalat malam atau tarawih). Yaitu menghidupkaan malam Ramadhan dengan ibadah shalat khususnya shalat Tarawih atau shalat Tahajud secara istikamah. Qiyam ini dilakukan untuk melatih ruhani yaitu mengokohkan hubungan vertikal dengan Allah (hablum minallah). Program qiyam ini di antaranya shalat wajib lima waktu secara berjamaah, shalat Tarawih berjamaah, dan shalat Tahajud serta menjaga shalat-shalat sunnah yang lainnya. Hasil akhir (goal) dari qiyam ini adalah sarana penggugur dosa masa lalu.
Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ketiga, ith’am (memberi makan). Yaitu dengan memperbanyak sedekah khususnya memberikan hidangan berbuka (ifthar) kepada orang yang berpuasa atau memberi makan fakir miskin, karena Ramadhan adalah bulan kedermawanan. Ith’am ini melatih kecerdasan sosial melalui kepedulian dan rasa empati. Hasil akhir (goal) dari ith’am ini adalah mendapat pahala puasa orang lain tanpa mengurangi pahala yang berpuasa.
Rasulullah SAW bersabda, “Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR Tirmidzi).
Keempat, Qur’an (berinteraksi dengan Al-Qur’an). Ramadhan adalah syahrul qur’an (bulan Al-Qur’an) dengan agenda meliputi membaca (tilawah), mengkhatamkan, mempelajari makna (tadabur) hingga menghafalkan Al-Qur’an. Al-Qur’an merupakan panduan intelektual yang menghasilkan ilmu dan pemahaman, karena Al-Qur’an sebagai panduan kehidupan. Hasil akhir (goal) dari program ini adalah menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk kehidupan dan pembeda (al-furqon).
Allah SWT berfirman, “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (QS Al-Baqarah [2]: 185).
Dengan melaksanakan empat pilar utama di atas kaum Muslimin akan meraih derajat takwa dan keluar dari bulan Ramadhan sebagai pribadi baru, diampuni dosanya, dan diterima amalnya. Amin.
Imam Nur Suharno
Kepala Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat
















