KUNINGAN (MASS) – Pendidikan bukan hanya tentang sistem, pendidikan tidak hanya dilihat dari angka-angka nilai, tapi pendidikan yang sebenarnya adalah proses dalam mengembangkan potensi diri. Dimana anak didik seharusnya dilatih untuk mengembangkan potensi, meningkatkan rasa ingin tahu dan proses belajar menjadi pribadi yang lebih baik, dimana seseorang tidak harus selalu langsung bisa dalam melakukan sesuatu, tetapi momen dimana sesorang bisa belajar dari sebuah kesalahan atau sebuah kegagalan.
Kebanyakan sekolah-sekolah sekarang hanya mementingkan bagaimana cara agar muridnya mendapatkan nilai tinggi, cara agar terlihat bagus dan layak di mata masyarakat sehingga menarik banyak siswa untuk mendaftar, serta cara cepat mencapai hasil akhir pembelajaran, mereka lupa bahwasanya sekolah bukan hanya tentang akreditasi tetapi sekolah merupakan tempat berlangsungnya pendidikan, tempat dimana para guru mendidik, tempat seorang siswa belajar, berkembang, bertumbuh dan berproses.
Sekarang ini seorang tenaga pendidik atau guru lebih takut melakukan kesalahan administrasi dari pada takut melakukan kesalahan dalam mendidik murid. Di sisi lain sistem administrasi juga penting karena dapat mempengaruhi kelancaran jalannya pembelajaran, mempengaruhi reputasi dan akreditasi sekolah, serta mengelola data operasional dan keuangan. Sistem administrasi yang seharusnya digunakan untuk mengatur dan mengarahkan aktivitas disekolah untuk menciptakan pendidikan yang lebih terstruktur untuk mencapai hasil yang optimal, yang terjadi malah sebaliknya.
Sistem administrasi sekolah yang ketat, dokumen yang banyak dan sulit sering kali membebani tenaga pendidik dan staf menyebabkan fokus tenaga pendidik teralihkan,. Hal ini menyebabkan kurangnya pendekatan dan penyampaian yang diberikan oleh guru kepada para siswa saat dikelas maupun diluar kelas, serta hilangnya motivasi guru kepada murid. Hal ini akan berdampak pada kegagalan dalam mendidik siswa, sehingga pendidikan yang terjadi di sekolah bukan mendidik tetapi hanya sebatas penyampaikan materi yang dilakukan dilingkungan sekolah.
Kegagalan guru dalam mendidik berakar dari kurangnya pendekatan, metode mengajar yang monoton, dan minimnya persiapan. Hal ini mengakibatkan rendahnya motivasi siswa untuk mengikuti pembelajaran, terabaikannya pengembangan nilai-nilai karakter, ketidakmampuan memahami karakter murid yang akan berdampak pada pengembangan pembelajaran. pendidikan bukan hanya sekadar ajang transfer ilmu, bukan hanya soal memberikan penjelasan dan tugas. Pendidikan dapat hidup dan berdampak dengan adanya dialog antara guru yang menjelaskan dengan murid yang bertanya, hal ini akan menimbulkan rasa ingin tahu dan rasa ingin berkembang dalam diri anak didik tersebut.
Kegagalan dalam mendidik ini berdampak juga pada masa depan individu maupun sosial seperti: penurunan prestasi akademik, keterlambatan belajar, dan masalah perilaku seperti agresivitas atau perundungan. Hal ini memicu rendahnya kepercayaan diri, masalah mental, terbatasnya keterampilan hidup, hingga potensi terjebak dalam lingkaran kemiskinan dan pengangguran di masa depan. Administrasi Pendidikan yang dilakukan benar dan tepat akan menciptakan sumber daya manusia yang maju dan cerdas, yang akan memajukan bangsa dan meningkatkan kualitas ekonomi baik secara individu maupun golongan, dan dapat menekan angka kemiskinan.
Jika kita lihat fakta dilapangan, sampai hari ini pendidikan di sekolah masih menunjukkan ironi yang memprihatinkan. Dimana banyak sekolah diluaran sana yang lebih takut terhadap kesalahan dalam pengelolaan administratif daripada kegagalan dalam mendidik. Fokus pendidikan yang seharusnya bertumpu pada kualitas belajar kini tergeser oleh ketakutan terhadap berkas dokumen administrasi. Ketika rasa cemas terhadap administrasi lebih dominan daripada kegelisahan atas mutu pendidikan, maka ada yang keliru dalam cara kita memaknai esensi sekolah itu sendiri.
Oleh: Siti Melinda, Kader IMM Kuningan
















