KUNINGAN (MASS) – Setiap sore, sejak pukul 15.30 hingga adzan magrib berkumandang, suasana Blok Pahing, Desa Kertayasa, berubah menjadi lautan manusia. Lebih dari 30 pedagang takjil berjejer rapi menawarkan aneka hidangan berbuka, dari kolak, gorengan, es buah, hingga makanan berat.
Ribuan pembeli memadati kawasan ini, menciptakan denyut ekonomi yang terasa nyata di tengah masyarakat. Kampung Kuliner Takjil ini bukan sekadar tempat berburu menu berbuka, tetapi telah menjadi ruang pertemuan sosial warga lintas usia.
Menariknya, geliat ekonomi ini tidak hanya digerakkan oleh pedagang lama. Anak-anak sekolah dari tingkat SD, SMP, SLTA hingga mahasiswa turut ambil bagian belajar berjualan. Di sela tugas dan kegiatan belajar, mereka mengasah keberanian, kemandirian, serta memahami langsung praktik ekonomi kerakyatan.
Momentum Ramadan di Kertayasa menjadi laboratorium sosial yang hidup di mana pendidikan karakter berjalan berdampingan dengan semangat kewirausahaan.
Kehadiran Kampung Kuliner Takjil Blok Pahing menunjukkan bahwa desa mampu menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi berbasis komunitas. Dengan pengelolaan yang baik termasuk penataan parkir, kebersihan, dan keamanan kawasan ini berpotensi menjadi ikon musiman yang dinanti setiap tahun.
Ramadan di Kertayasa bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang menguatkan solidaritas dan menggerakkan ekonomi rakyat dari desa.
Oleh : Dadan Satyavadin, Pemerhati Kebijakan Publik.
















