KUNINGAN (MASS) – Terminologi hablum minal alam (hubungan manusia dengan alam) pada konteks syiar Islam, muncul lebih belakangan dibanding dua terminologi sebelumnya yaitu hablum Minallah (hubungan manusia dengan Allah SWT) serta hablum minannas (hubungan manusia dengan sesama manusia). Pada ranah ilmu sosiolinguistik, kelahiran frasa baru “hablum minal alam” ini relevan dengan istilah neologisme yang dikemukakan ahli bahasa Alain Rey pada bukunya Essay on Terminology (1995) yang menjelaskan bahwa neologisme muncul karena perubahan sosial, kebutuhan baru dalam masyarakat, serta faktor budaya yang memengaruhi penerimaan “kata” dan atau “istilah” baru.
Beberapa krisis lingkungan pada skala global, regional maupun lokal yang pada era masifnya teknologi informasi ini terus menjadi sajian berita sehari-hari sepertinya telah membuat kesadaran publik terhadap pentingnya penyelamatan lingkungan menjadi meningkat. Dari skala kebijakan negara adidaya Amerika yang kaum intelektualnya sempat menggaungkan “kode hijau” sebagai peralihan ambisi Amerika dari status sebagai polisi dunia (Code Red) menjadi pemimpin penyelamatan lingkungan dunia (Code Green), hingga pada skala yang lebih kecil di sekitar kita yaitu banyaknya labelitas “eko” dan “green” pada berbagai entitas yang menunjukan komitmen kepedulian mereka pada lingkungan semisal ekoteologi, ekoproperti, green kampus, green city, green UKM dsb.
Dari perubahan sosial tersebut maka konsep hablum minal alam yang muncul dalam konteks syiar Islam adalah sebuah respon teologis Ummat Islam terhadap adanya krisis lingkungan yang eskalasinya semakin mengkhawatirkan! Dan karena bahasa pada hakikatnya adalah kesepakatan sosial (Saussure, 1916), maka terminology hablum minal alam bisa dijadikan gerbang makna untuk menggali lebih jauh konsep-konsep inti ajaran Islam perihal relasi muslim dengan alam lingkungannya pada konteks dua abad pasca revolusi industri Prancis yang banyak dituding oleh para pakar sebagai fase awal antroposen pada sejarah Bumi yaitu ketika tindakan manusia secara kolektif memberikan dampak luar biasa terhadap perubahan alam.
Frasa hablum minal alam; atau ada beberapa intelektual muslim juga yang memakai frasa hablum minal biah (hubungan manusia dengan lingkungan) memang tidak ditemukan secara eksplisit dalam Al Qur’an; pada Kitabullah yang bisa kita temukan adalah ayat yang relevan dengan terminologi habluminallah dan habluminannas yaitu pada (QS.ALI Imran, 3: 112) yang isinya sbb:
ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ ٱلذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوٓا۟ إِلَّا بِحَبْلٍ مِّنَ ٱللَّهِ وَحَبْلٍ مِّنَ ٱلنَّاسِ وَبَآءُو بِغَضَبٍ مِّنَ ٱللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ ٱلْمَسْكَنَةُ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا۟ يَكْفُرُونَ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ وَيَقْتُلُونَ ٱلْأَنۢبِيَآءَ بِغَيْرِ حَقٍّ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوا۟ وَّكَانُوا۟ يَعْتَدُونَ
Mereka diliputi kehinaan dimana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang pada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia. Mereka pasti mendapat murka Allah, dan kesengsaraan ditimpakan pada mereka, yang demikian itu karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa hak (alasan yang benar). Yang demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas.
Ayat ini adalah rangkaian dari ayat 110 – 115 Ali Imran; bagian dari surat Madaniyah yang secara konteks historis lahir pada peristiwa banyaknya gangguan dari kaum Yahudi pada masa-masa awal syiar Rasululah SAW di Madinah… Ibn Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-Azim: 48 menuliskan:
Ayat ini dan ayat-ayat sebelum serta sesudahnya berada dalam konteks pembahasan tentang Bani Israil, khususnya kekufuran mereka terhadap ayat-ayat Allah dan Pembunuhan para Nabi tanpa hak. Ayat ini turun mengenai Yahudi yang berada di Madinah yaitu mereka yang memusuhi Rasul, menentang beliau, merasa iri pada kenabian dan kehormatan yang Allah berikan pada beliau serta berusaha mencelakakan beliau. Mereka menampakan kecintaan di luar tapi menyembunyikan permusuhan di dalam hati., sering mengajukan pertanyaan untuk menguji beliau. Menyelewengkan kalimat dari tempatnya…
Manakala kalimat hablum minal alam lahir dengan berdasar dua idiom yang ada pada ayat ini maka relevansi konteksnya adalah telah terjadi gangguan pada ajaran kenabian dari manusia-manusia atau kaum yang berkarakter tidak komit baik tidak komitmen secara vertikal maupun tidak komitmen secara horisontal, relevansinya pada kasus penyebab krisis iklim dekade belakangan ini adalah adanya pelangaran-pelanggaran dari entitas baik itu individu, perusahaan, atau bahkan negara-negara yang tidak komit pada etika, regulasi dan atau ratifikasi yang telah disepakati bersama untuk menjaga keselamatan lingkungan secara lokal, regional serta global.
Akan tetapi, meskipun tidak ada frase hablum minal alam yang tertulis eksplisit, pada AL Qur’anul Karim kita bisa menyelami ayat-ayat perihal menjaga alam serta lingkungan. Dua contoh paling krusial adalkah Al Fatihah sebagai surat pembuka pada Al Quran pada ayat pertamanya menggemakan pujian pada Allah SWT sebagai Tuhan Seru sekalian Alam, serta surat Al Anbiya ayat 107 juga menegaskan bahwa esensi tugas kenabian Rasulullah SAW adalah menebar rahmat pada semesta alam:
وَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَٰلَمِينَ
Kami tidak mengutus engkau (Muhamammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam” (QS. Al Anbiya, 21: 107)
Quraish Shihab, (2013) penulis tafsir Al Mishbah menjelaskan bahwa yang mendapatkan rahmat Allah SWT tersebut tidak hanya manusia tapi seluruh mahluk termasuk didalamnya tumbuh-tumbuhan, hewan, bahkan benda mati sekalipun.
Para ahli termasuk dari majelis Tajrih Muhamadiyah mengemukakan ada sekitar 800 ayat pada Al Qur’an yang membahas perihal alam. Dan pada tataran yang lebih elaboratif, Kemenag RI telah menerbitkan buku Tafsir Ayat-Ayat Ekologi; Membangun Kesadaran Ekoteologis Berbasis Al Qur’an.
Akan tetapi, AL Qur’an sebagai sebagai kitab suci yang paripurna. Sebagaimana konsep studi Al Qur’an Historis Sosiologis yang ditokohi Fazlurrahman seorang intelektual muslim asal Pakistan diawal abad 20 pemaknaan kita pada Al Qur’an tidak bisa hanya terpaku pada ayat-ayat yang tersurat saja secara parsial dan atomistik, akan tetapi secara substansial juga harus menyelami ayat-ayat lain yang secara konteks kausalitas serta sosiologinya sangat relevan dengan akar persoalan ekologi.
Kiranya penting bagi para intelektual serta para alim ulama untuk memperkaya perspektif ummat bahwa secara kualitatif ajaran-ajaran hablum minal alam pada Kitab suci Al Qur’an tidak melulu terkandung pada ayat-ayat yang berkonotasi langsung semata-mata, Akan tetapi terkandung pula pada ayat-ayat lain yang relevan secara historis sosiologis.
Perihal ayat yang berkonotasi langsung semisal pada ayat (QS. Ar-Rum, 30:41) sbb :
ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia (melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar). (QS Ar-Rum, 30: 41)
Akan tetapi juga ayat yang seolah tidak berkonotasi langsung padahal (tersirat) relevan dengan substansi atau akar persoalan terjadinya krisis iklim yaitu perihal kekuatan taubat dan relevansinya dengan bencana kekeringan.
وَيَٰقَوْمِ ٱسْتَغْفِرُوا۟ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوٓا۟ إِلَيْهِ يُرْسِلِ ٱلسَّمَآءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَىٰ قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا۟ مُجْرِمِينَ
“Dan (Hud berkata): Hai kaumku, mohon ampunan kepada Tuhanmu, lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan kepadamu hujan yang amat deras, dan Dia akan menambah kekuatan kepada kekuatanmu dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” (QS. Hud, 11:52)
Secara sosiologi Al Qur’an sebagai inti panutan nilai seolah memahami bahwa akar persoalan krisis iklim adalah pola pikir, pola sikap dan pola tindak manusia (antroposenistik) sehingga formula untuk menghentikan bencana kekeringan yang secara rasional bersifat metabolisme alam ini justru adalah taubat sebuah metabolisme ruhaniyah restoratif di kedalaman jiwa manusia; seperti halnya formula untuk menghentikan bencana kekeringan adalah dengan solat istisqa.
Sebegitu dahsyatkah pengaruh manusia terhadap alam serta lingkungan ini? Setiap fase kegelapan zaman selalu berakar pada jiwa manusia. Zaman jahiliyah yang menjadi konteks kelahiran Rasulullah SAW berakar pada kecanduan manusia yang gemar menyembah berhala. Pada masa kini banyak juga berhala-berhala kontemporer yang menjadi orientasi utama manusia mengalahkan Tuhan.
Erich From mengatakan perihal dua modus eksistensi manusia yaitu “Memiliki” dan “Menjadi”, Dalam kajianya hal yang merusak adalah modus memiliki yang telah membuat manusia hanya jadi mahluk konsumtif reduksionistik terhadap alam, dan modus “menjadi” yang telah membuat manusia menghalalkan segala cara untuk mencapai dan mempertahankan kekuasaan termasuk oknum penguasa yang menyiasati aturan perizinan hanya untuk sekadar mendapatkan pelicin demi tambahan dana kampanye saat dirinya akan mencalonkan sebagai pemimpin. Atau oknum penguasa yang takut untuk bertindak tegas saat alam lingkungan wilayahnya diranjah karena takut berhadapan dengan tembok kekuasaan yang lebih angker.
Selain du ayat di atas ada juga ayat yang seolah tidak relevan tapi justru sebenarnya sangat relevan dengan akar persoalan krisis iklim ini yaitu bagaimana kapitalisme industri telah benar-benar membuat manusia tersihir untuk terus menerapkan apa yang disebut oleh pakar lingkungan Thomas L Friedman (2009) budaya hidup energy iklim yang hiper konsumtif dan destruktif terhadap kelestarian alam. Padahal Al Qur’anul sudah memberikan relasi kemesraan non materialistik sebagaimana ayat favorit para penyair sufistik yang diantaranya adalah surat Al Hijr ayat 16:
وَلَقَدْ جَعَلْنَا فِى ٱلسَّمَآءِ بُرُوجًا وَزَيَّنَّٰهَا لِلنَّٰظِرِينَ
Dan sesungguhnya telah kami ciptakan gugusan bintang dilangit dan telah kami hiasi (langit) itu bagi orang-orang yang memandang(nya). (QS.AL Hijr,15: 16)
Ahli Tafsir Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar dari Universitas Islam Madinah menuliskan perihal frase keindahan bintang tersebut bahwa … “maknanya adalah keindahan ini hanyalah bagi orang-orang yang mentafaqurinya dan menjadikanya sarana untuk mengambil pelajaran tentang kekuasaan Allah”.
Inilah tipe manusia yang dianugerahi an nafsul muthmainah, ketenangan hati yang dicapai dengan berelasi secara mesra dengan alam dan kualifikasi semacam itu adalah tipe manusia yang kata Ibnu Al Arabi sudah menyatu dengan kosmos sehingga menyadari “Kehadiran Tuhan” pada setiap fenomena alam. Sehingga akan menyikapi setiap entitas alam juga adalah sesama mahluk Tuhan yang kadang bertasbih serta berdzikir, yang kadang mengalami bahagia saat diperlakuan penuh kasih sayang oleh manusia dan kadang pula akan merintih sedih saat dirinya dieksploitasi dengan serakah dan kejam oleh manusia.
Tipe manusia yang bisa merasakan gerataran penderitaan sesama mahluk alam inilah yang menurut filsuf Hanah Arendt sebagai tipe Vita Contemplatifa, yang akan selamat dari setiap sihir berhala kontemporer; sihir yang senantiasa mengajak manusia untuk lupa diri pada tugas utamanya sebagai khalifautallah fill ardh sehingga bukanya menjaga kelestarian alam serta lingkungan tetapi malah mereduksi alam demi mereguk dahaga kapitalistik yang sudah merambahi jiwanya.
Dari satu bahasan kecil tersebut patut kita perluas persepektif kita bahwa konsep hablum minal alam dalam Islam tidak boleh hanya kita selami hanya pada ayat ayat yang tersurat semata, tapi juga pada ayat-ayat yang meskipun tersirat tapi justru relevan dengan akar persoalan dari krisis energi iklim ini yaitu persoalan yang berakar dari antroposentrisme (pandangan manusia adalah pusat dari alam) sebagai dasar sistem kapitalisme yang membuat manusia selalu tak pernah puas dengan segala yang diberikan alam. Persepektif ini akan menjadikan spirit hablum minal alam menjadi samudra energi makna yang tak kalah kuat dengan energy makna dua frase lainnya yaitu hablum Minallah dan hablum minanas.
Dengan telaahan yang komprehensif pada ajaran Al Qur’an maka efektifitas dan daya maslahat spirirt hablum minal alam sebagai ekoteologi Islam akan relevan dan memiliki dampak restoratif bagi berbagai krisis lingkungan yang terjadi baik pada lingkup lokal, regional serta global. Dan pada titik inilah kita bisa menemukan relevansi identitas ajaran Islam sebagai rahmatan lil Alamin pada setiap dinamika zaman. Wallahualam Bishawab.
Penulis : Pandu Hamzah*
*) Pandu Hamzah, Aktif di komunitas Silalatu. Penulis Novel “Sebuah Wilayah yang Tidak ada di Google Earth”; sebuah novel bersetingkan Gunung Ciremai yang jadi rujukan para peneliti ekokritik sastra dari dalam dan luar negeri.
















