Bismillah
Fitnah dan Bohong yang Tidak Lagi Tersembunyi (Filosofis Geoprofetik Al-Kahfi)
KUNINGAN (MASS) – Bahwa ada masa ketika keburukan bekerja dalam gelap. Keburukan bersembunyi di lorong-lorong sunyi, di ruang tanpa jendela, di balik pintu yang hanya terbuka bagi mereka yang telah menjual hati nuraninya. Tidak disadari bahwa PEMBEDA antara manusia dengan binatang adalah: Binatang tidak punya hati nurani.
Tetapi zaman ini berbeda: Banyak manusia kehilangan Hati Nurani. Kini, kegelapan tidak lagi menunggu malam. Ia berdiri di tengah siang, tersenyum di layar kaca, berjalan berdasi di karpet merah kekuasaan, dan disambut tepuk tangan oleh dunia manusia yang sudah sangat lelah untuk terus menerus marah.
Fitnah akhir zaman bukan lagi bisikan. Ia adalah siaran langsung, dimana benar menjadi salah dan kemudian salah bisa menjadi benar. Itulah Fitnah Dajjal, yang mungkin dibantu Digital Dajjal. Seperti hadirnya Demokrasi Elektoral plus Demokrasi Transaksional.
Dahulu manusia takut jika a’ib terbuka. Sekarang sistemlah yang takut jika kebenaran terlihat utuh. Maka yang dibuka hanya serpihan, yang bocor hanya sebagian, yang diungkap hanya cukup untuk membuat kita marah, tapi tidak cukup untuk membuat kita bisa bangkit dan bangun dari kegelapan.
Kita hidup di zaman dokumen rahasia yang “tidak sengaja” tersebar nama-nama besar yang tiba-tiba terseret, jaringan gelap yang sekejap terlihat, lalu tenggelam lagi dalam kabut narasi baru dengan bermacam narasi pengalihan isu. Seperti seseorang yang membuka tirai hanya satu jari, cukup untuk menunjukkan bahwa di dalam memang ada sesuatu yang busuk dan dzolim, tetapi tidak cukup untuk memperlihatkan seluruh wajah kebusukan dan kedzoliman itu.
Inilah Fitnah Dajjal : Bukan sekadar kejahatan, melainkan kabut yang menyelimuti kejahatan itu agar manusia tidak lagi mengetahui mana monster, mana penyelamat palsu.
Surah Al-Kahfi mengajarkan kita tentang Gua
Tentang sekelompok pemuda yang memilih bersembunyi demi menyelamatkan iman. Mereka masuk ke ruang gelap justru agar cahaya tetap hidup di dalam dada, kendati di gua gelap dipandang mata.
Hari ini, gua itu seperti terbalik, bukan orang beriman yang bersembunyi di dalamnya, melainkan kebenaran yang dikurung dan tidak boleh kebenaran nampak, karena dihalangi dan dijegal banyak karakter Dajjal berbisik yang disebut: Fitnah Dajjal!
Waspada untuk para pemegang panggung kekuasaan, karena dengan halus dan santun karakter Dajjal terus menempel erat, selalu ingin bersama. Sementara kebohongan dari pembohong bebas berjalan di luar dengan wajah paling meyakinkan seperti MEMBAWA AMANAH.
Dajjal tidak selalu datang dengan tanduk dan api. Kadang ia datang sebagai sebuah sistem informasi, sebagai jaringan kekuasaan, sebagai elite yang tampak terhormat, namun membangun dunia di atas tubuh-tubuh yang tak pernah dihitung sebagai manusia korban Fitnah Dajjal.
Fitnah terbesar bukan hanya kejahatan mereka. Tetapi ketidakmampuan kita membayangkan hasil bahwa : kejahatan itu sedalam itu, seterstruktur itu, dan selama ini sedekat itu. Kita menyaksikan zaman ketika bayangan mulai terlihat di siang bolong.
Skandal demi skandal seperti retakan di dinding raksasa. Nama-nama yang dulu kebal kini sekilas tersentuh. Jaringan yang dulu “teori konspirasi” perlahan berubah menjadi arsip sebuah institusi.
Namun setiap pengungkapan terasa aneh: cukup untuk mengejutkan, tidak cukup untuk meruntuhkan. Karena karakter Dajjal memberi Kertas dan penyampai aspirasi plus informasi tersenyum, selesai, dengan tidak menyadari, Kertas yang diberikan kepada penyampai aspirasi, tidak disadari telah ikut sama menjadi karakter Dajjal. Seolah dunia ini dijaga oleh tangan-tangan tak terlihat yang memastikan kebenaran hanya boleh muncul dalam dosis yang tidak mematikan system.
Di sinilah Al-Kahfi berbicara kembali, menyoal fitnah harta, tentang fitnah ilmu tanpa iman, tentang fitnah kekuasaan yang merasa paling berhak mengatur takdir manusia lainnya. Dan kita mulai sadar, fitnah akhir zaman bukan peristiwa tunggal. Fitnah Dajjal adalah ekosistem. Sebuah dunia di mana anak-anak bisa menjadi komoditas, rahasia bisa menjadi mata uang, dan dosa bisa dicuci dengan tupoksi yang lagi disandang.
Kemudian? Ada sebagian arsip dibuka, sebagian nama disebut, sebagian jaringan diakui. Dunia tempat berpijak terkejut. Dunia lain marah, Dunia trending hanya beberapa hari. Kemudian? dunia lupa.. Dan lupa.
Itulah fitnah; bukan membuat manusia tidak tahu, tetapi membuat manusia tahu “tanpa lagi mampu peduli dan cukup lama untuk bisa berubah”.
Maka pertanyaannya bukan lagi: “Di mana Gua untuk bersembunyi?”. Tetapi: “Di mana hati nurani yang masih bisa membedakan cahaya dan kilau tipuan?”.
Karena di zaman ketika bayangan sudah tampak di siang bolong, yang benar-benar buta bukanlah mata, melainkan jiwa yang telah terlalu lama berdamai dengan kegelapan yang dibuat terlihat wajar dan lumrah.
Dan mungkin, tepat ketika dunia sibuk membahas potongan-potongan arsip gelap para elite, Al-Kahfi berbisik pelan kepada orang beriman:
Jangan hanya sibuk membaca daftar nama. Bacalah peta fitnahnya! Karena yang sedang runtuh bukan sekadar reputasi manusia, melainkan topeng sebuah peradaban. Dan setiap topeng yang jatuh adalah tanda bahwa waktu peringatan hampir habis.
EPSTEIN FILES: Tersingkapnya Aib Peradaban menuju fase ketika fitnah menanggalkan bayangannya
Ada fase ketika suatu keburukan bekerja dalam bayangan. Karena biasanya suatu kesalahan tidak berdiri sendiri. Terkadang Kesalahan menempel pada struktur, pada sistem, pada wajah-wajah terhormat. Kesalahan juga bisa tidak terlihat jelas, tetapi pengaruhnya merambat terasa.
Sebagian mufassir mengaitkan gambaran “bayangan yang bercabang tiga” dalam Surat Al-Mursalat ayat 30, sebagai simbol situasi dan kondisi yang tampak menaungi, padahal menipu. Apa yang dulu bekerja di balik tirai, kini mulai menampakkan wajahnya.
Beberapa hari terakhir, dunia diguncang oleh pembukaan dokumen besar yang selama bertahun-tahun hanya beredar sebagai bisik-bisik adanya: Arsip kejahatan, jaringan elite, relasi gelap antara kekuasaan, uang, dan eksploitasi manusia.
Rilis dokumen investigatif besar terkait jaringan Jeffrey Epstein oleh otoritas Amerika Serikat memicu kembali diskusi global tentang bagaimana kejahatan bisa bersembunyi di balik struktur terhormat.
Misteri Waktu Ilahi di Balik Epstein Files
Ada satu ayat yang bergetar pelan, tetapi menghunjam dalam:
“Seandainya Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan tersisa satu pun makhluk melata di bumi. Tetapi Dia menangguhkan mereka sampai waktu yang ditentukan.” (QS. An-Nahl: 61)
Ayat ini bukan sekadar penjelasan teologis. Ia adalah kode kosmik untuk membaca sejarah. Ia adalah peta untuk memahami mengapa kejahatan bisa tumbuh seperti akar di bawah tanah, merambat puluhan tahun, sebelum akhirnya menembus permukaan. Dan mungkin ini adalah salah satu ayat paling relevan untuk membaca fenomena seperti Epstein Files.
Mengapa kehancuran tidak instan?
Naluri moral manusia selalu bertanya: Jika ini jahat, mengapa dibiarkan begitu lama? Jika ini busuk, mengapa tidak langsung runtuh?
Jaringan gelap bisa bertahan puluhan tahun. Orang-orang kuat bisa hidup nyaman di atas penderitaan yang disembunyikan. Struktur dosa bisa berdiri seperti istana tak tersentuh, sementara korban menangis dalam sunyi. Padahal Allah Maha Melihat.
Di sinilah Al-Qur’an menjawab dengan cara yang tidak emosional, tetapi kosmik:
Karena dunia ini bukan ruang eksekusi instan. Dunia adalah laboratorium kesadaran. Jika setiap dosa langsung dihukum, manusia tidak pernah benar-benar memilih. Ia hanya akan taat karena takut refleks, bukan karena sadar. Penangguhan bukan kelemahan. Penangguhan adalah ruang ujian bagi jiwa-jiwa yang masih mencari cahaya.
Dalam lensa geoprofetik Al-Kahfi, kita belajar satu pola besar bahwa: Allah sering membiarkan sesuatu tumbuh, sampai sesuatu itu menampakkan wajah aslinya.
Kemudian daripada itu, dengan penuh rasa kesungguhan saya menyampaikan saran peningkatan kewaspadaan:
Kepada Yth. Presiden RI: Bapak Prabowo Subianto, bahwa : Pada tahun ini 2026, adalah tahun “Ujian berat dalam konteks kepemimpinan Kepala Negara Kesatuan Republik Indonesia”.
Di institusi tertentu, ada pesan moral strategis bahwa; Kebenaran itu akan menjadi benar diterima, apabila disampaikan tepat pada waktunya.
Terimakasih Wahai Zaman PENAMPAKAN
Mungkin kita mengeluh hidup di zaman penuh kemunafikan yang mulai terurai dan terbuka. Namun bisa saja terjadi, justru ini Semua Rahmat Allah yangTersembunyi. Karena bayangan yang terlihatlebih mudah dihindari daripada bayangan yang menyamar sebagai cahaya.
Zaman ini sedang memperjelas garis antara Haq dan Bathil. Memisahkan cahaya dan bayangan. Menampakkan apa yang sudah lama disembunyikan. Agar ketika pilihan dibuat, tidak ada yang bisa berkata: “Aku tertipu karena tidak pernah melihat”. Sehebat apapun Kebohongan yang ditutupi, akan terus menambah musibah, kendati pelan, tetapi pasti.
Nilai luhur Filosofis Surah Al Kahfi, sebenarnya berpesan: Bertaubatlah, karena Allah Subhannahu Wata’ala Maha Melihat, Maha Mengetahui. Kini pilihannya tinggal satu: Saat bayangan berjalan di siang bolong penuh bohong, apakah kita akan ikut berjalan di bawahnya, atau bergegas mencari gua tempat cahaya kebenaran masih turun dari langit dan Allah Subhannahu Wata’ala: Maha Pengampun.
Damai dihati… Damai dibumi… Damai itu indah “Di BUMI NKRI”
والله أعلم بالصواب
Hadanallahu Waiyyakum Ajma’in
Awang Dadang Hermawan
) *Pemerhati Intelijen, Sosial Politik dan SARA
############
16 – 2 – 2026











