KUNINGAN (MASS) – Merespon mati massalnya ikan dewa di Balong Girang Cigugur yang diyakini keramat dan simbol warisan leluhur,masyarakat menggelar ritual sakral secara batin.
Ritual yang digelar Kamis (12/2/2026) malam, itu menjadi rangkaian awal dari prosesi spiritual yang puncaknya direncanakan berlangsung pada hari Minggu.
Kegiatan dimulai pukul 22.00 WIB hingga lewat tengah malam, diikuti sekitar 70 orang yang terdiri dari seniman, budayawan, pemerhati lingkungan, dan warga dari berbagai wilayah di Kabupaten Kuningan. Rangkaian diisi doa bersama, ruwatan dengan seni karinding, serta pembacaan rajah dalam suasana hening.
Perwakklan warga, Rasudi Taros, menyebut ritual tersebut sebagai ikhtiar batin untuk memulihkan keseimbangan alam. Prosesi juga menekankan nilai tata titi Sunda—aturan hidup masyarakat Sunda yang menjunjung adab, harmoni dengan alam, serta penghormatan kepada warisan karuhun.
“Kami prihatin. Ikan dewa ini bagian dari sejarah dan kepercayaan warga. Ritual ini ikhtiar batin agar alam kembali seimbang dan musibah berhenti,” ujarnya.
Prosesi inti dipimpin budayawan seni buhun sekaligus pengolah energi, Abah Sangha Sundana. Ia membacakan rajah yang berisi doa-doa keselamatan dan pengingat hubungan manusia dengan alam.
Menurutnya, dalam kepercayaan lokal, ikan dewa kerap dikaitkan dengan kisah prajurit Prabu Siliwangi yang menjaga wilayah tersebut. Namun ia mengingatkan agar masyarakat memaknai peristiwa secara bijak.
“Ada yang bertanya apakah ikan dewa yang dipercaya jelmaan prajurit Siliwangi yang mati berguguran ini pertanda pemimpin sekarang bukan darah Siliwangi. Dalam pandangan budaya, itu bagian dari simbol dan pengingat, bukan untuk menghakimi. Pesan utamanya tetap sama: pemimpin dan rakyat harus menjaga alam dan berlaku adil,” tuturnya.
Ia menambahkan, ajaran karuhun Sunda menempatkan alam sebagai saudara kehidupan.
“Karuhun mengajarkan, alam harus dirawat dengan tata titi dan rasa hormat. Kalau manusia serakah atau lalai, alam memberi tanda agar kita kembali sadar,” katanya.
Selain doa, warga juga berdiskusi mengenai pentingnya menjaga kualitas air dan lingkungan balong. Sejumlah peserta berharap ada langkah teknis dari pihak terkait untuk menyelamatkan populasi ikan yang tersisa. (eki)








