KUNINGAN (MASS) – Dinas Perikanan dan Peternakan (Diskanak) Kabupaten Kuningan menyoroti kualitas air sebagai faktor utama penyebab kematian ratusan ikan dewa yang terjadi di kolam Cigugur sejak Kamis lalu.
Kepala Bidang Perikanan Diskanak Kuningan, Denny Rianto, menyampaikan rasa prihatin atas kejadian tersebut. Ia menjelaskan kematian ikan berlangsung secara bertahap sejak Kamis hingga Senin (2/2/2026), dengan jumlah ikan yang mati diperkirakan mencapai sekitar 200 ekor.
Menurut Denny, pada prinsipnya keberlangsungan hidup ikan sangat bergantung pada kualitas air dan kecukupan nutrisi. Jika kualitas air terjaga dan pakan tercukupi, maka daya tahan tubuh ikan akan kuat sehingga tidak mudah terserang penyakit.
“Beberapa hari terakhir cuaca sangat ekstrem. Sejak Kamis hujan turun hampir sepanjang hari dan berlanjut hingga Jumat, bahkan sebelumnya juga sering hujan. Kondisi ini berpengaruh terhadap kualitas air,” ujarnya.
Dari hasil pengamatan di lapangan, Diskanak menemukan kondisi air di kolam Cigugur kurang mendukung, ditambah dugaan ikan mengalami kekurangan pakan. Kombinasi perubahan cuaca ekstrem, kualitas air yang buruk, dan lemahnya daya tahan tubuh ikan memicu munculnya penyakit.
Denny menyebutkan, pada beberapa ikan ditemukan parasit berupa cacing yang menempel di bagian insang, mulut, dan kulit. Parasit tersebut menyebabkan iritasi, mengganggu nafsu makan ikan, hingga membuat ikan sering menggesekkan tubuhnya ke dinding kolam. Akibatnya muncul luka yang kemudian menjadi pintu masuk jamur dan penyakit lain.
“Dari luka itulah penyakit berkembang. Ini yang akhirnya menyebabkan kematian ikan,” jelasnya.
Sebagai langkah penanganan, Diskanak berupaya melakukan pipanisasi untuk menstabilkan kualitas air agar ikan yang masih sehat dapat diselamatkan. Namun, upaya karantina ikan yang sakit terkendala karena tidak tersedianya kolam khusus di lokasi tersebut.
“Kami seharusnya mengarantina ikan yang sakit dan melakukan pengobatan khusus. Tapi di sini tidak ada kolam alternatif, jadi cukup menyulitkan,” katanya.
Denny membandingkan kondisi tersebut dengan lokasi lain seperti Cibulan, yang memiliki kolam khusus untuk karantina sehingga penanganan ikan sakit bisa dilakukan lebih optimal.
Ia juga menegaskan kejadian tersebut bukan wabah, melainkan musibah. Pasalnya, kematian ikan hanya terjadi di Cigugur dan tidak menyebar ke lokasi lain seperti Cibulan, Pasawahan, atau Balong Dalem.
“Kalau wabah, seharusnya semua lokasi terdampak. Ini tidak, jadi perlu penanganan khusus di sini,” tegasnya.
Terkait dugaan pembagian debit air dengan PDAM, Denny mengaku belum mengetahui secara pasti. Namun ia menekankan fokus utama Diskanak adalah bagaimana mengelola air agar volumenya cukup dan kualitasnya terjaga, sehingga sesuai dengan habitat ikan dewa yang idealnya hidup di air mengalir.
“Kalau airnya relatif tergenang seperti kolam renang, tidak segar, itu jelas berpengaruh. Ikan butuh air mengalir agar tetap sehat,” ujarnya.
Menurutnya, kunci utama pencegahan kejadian serupa adalah kualitas air yang baik dan nutrisi yang cukup. “Kalau kualitas air bagus dan makan bergizi, penyakit tidak mudah menyerang. Sama seperti manusia, kalau kurang gizi dan lingkungannya tidak sehat, penyakit mudah datang,” pungkasnya. (didin)







