KUNINGAN (MASS) – Fenomena matinya ratusan ikan dewa di kolam Cigugur, Kabupaten Kuningan menjadi perhatian masyarakat. Pasalnya kematian ikan tersebut diduga disebabkan oleh beberapa faktor, mulai dari cuaca ekstrem hingga kurangnya aliran air ke dalam kolam.
Namun ada juga yang menyangka, kematian ratusan ikan dewa karena airnya dibagi ke PAM Kuningan seperti yang ditulis netizen dalam kolom komentar postingan @kuninganmass dalam video mati massal ikan dewa di Instagram.
Menjawab hal itu, Manager Operasional PDAU Kuningan, Rohman, justru menyebutkan kematian ikan tersebut diduga dipicu oleh cuaca ekstrem, meski terdapat sejumlah faktor lain yang turut memengaruhi.
Ia menyebutkan, tanda-tanda gangguan pada ikan sudah terlihat sejak Selasa, 27 Desember 2025. Saat itu, ikan tampak tidak selincah biasanya. Kondisi memburuk pada Rabu ketika hujan lebat mengguyur wilayah Kabupaten Kuningan sejak pagi hingga malam hari. Kematian ikan mulai ditemukan pada Kamis.
“Dari kejadian itu, kami menyimpulkan bahwa cuaca yang sangat ekstrem menjadi pemicu. Sebelumnya air memang sempat surut, tapi itu fenomena yang biasa, kita sudah mengalaminya berkali-kali,” ujar Rohman, Senin (2/2/2026).
Ia menjelaskan, kondisi penyusutan air sebenarnya sudah sering terjadi ketika awal musim penghujan biasanya bulan Desember hingga Januari dan akan kembali naik pada Februari hingga Maret.
Karena itu, pada awalnya pihak pengelola tidak terlalu mengkhawatirkan kondisi tersebut. Namun setelah ditemukan ikan mati, PDAU segera berkoordinasi dengan Taman Nasional dan LPM untuk menambah debit air dari PDAM.
Terkait pembagian debit air, Rohman mengungkapkan sekitar 40 persen air digunakan untuk kolam ikan, sementara 60 persen dialirkan untuk kebutuhan PDAM. Pembagian tersebut, kata dia, sudah berlangsung sejak sebelum PDAU berdiri.
Menanggapi isu yang menyebut kematian ikan disebabkan oleh pengelolaan air PDAM, Rohman menilai kesimpulan tersebut terlalu dini.
“Kalau dibilang karena PDAM, kenapa baru sekarang terjadi? Sistem ini sudah ada sejak lama. Jadi kita harus hati-hati menyimpulkan, karena faktornya banyak,” tegasnya.
Ia juga menyoroti adanya temuan parasit cacing jangkar pada ikan di Cigugur. Menurutnya, hal itu menimbulkan pertanyaan tersendiri karena wilayah lain yang juga terdampak cuaca ekstrem tidak mengalami kematian ikan serupa.
“Cuaca ekstrem itu merata sampai Cirebon, tapi kenapa hanya di Cigugur yang parah? Ini masih kami kaji, belum bisa menyimpulkan,” katanya.
Rohman menambahkan, cacing jangkar bukan hanya menyerang ikan dewa, melainkan juga jenis ikan lain, dan secara ilmiah sudah umum ditemukan di berbagai habitat perairan.
Sebagai langkah penanganan, PDAU telah melakukan sejumlah upaya, diantaranya penggaraman untuk menaikkan PH air, pemberian herbal dari daun kenikir, penambahan debit air, perbaikan saluran air, serta pengangkatan ikan mati agar tidak menularkan penyakit.
Saat ini kondisinya masih campur, ada yang sehat dan ada yang sakit. Menariknya, ikan-ikan ini punya naluri sendiri. Ikan sehat akan berkumpul dengan yang sehat, sementara yang sakit cenderung bersama yang sakit,” pungkasnya. (didin)







