KUNINGAN (MASS) – Pernahkah Anda membayangkan sebuah ruang kelas di mana para siswa tidak lagi bertanya kepada guru, melainkan sibuk berbisik pada layar ponsel mereka? Fenomena ini bukan lagi sekadar bumbu film fiksi ilmiah, melainkan realitas yang kita hadapi saat ini dengan meledaknya penggunaan kecerdasan buatan atau AI di dunia pendidikan. Sebagai sebuah artikel ilmiah populer, tulisan ini menyajikan bahasan berbasis riset namun tetap menggunakan bahasa ringan agar mudah dipahami oleh masyarakat umum. Kehadiran alat seperti ChatGPT telah memicu perdebatan hangat: apakah ini adalah asisten belajar yang jenius, atau justru menjadi “jalan pintas” yang mematikan kreativitas siswa?
Dunia pendidikan saat ini sedang mengalami pergeseran besar. Berdasarkan data dan fakta riset terbaru, penggunaan teknologi digital di sektor industri maupun pendidikan telah meningkat pesat. Angka penggunaan AI bukan sekadar statistik kosong, melainkan cerminan betapa cepatnya teknologi meresap ke dalam tas sekolah anak-anak kita. Riset menunjukkan bahwa penggunaan yang tepat dapat meningkatkan efisiensi belajar, namun tanpa pengawasan, alat ini berisiko menjadi mesin penjawab otomatis yang mematikan daya analisis siswa secara tidak langsung.
Analisis Kritis: Kawan atau Lawan? Secara kritis, kita harus melihat bahwa faktanya AI sebenarnya memiliki potensi besar sebagai “tutor pribadi” yang tersedia 24 jam. Namun, pandangan penulis disini menekankan bahwasannya artikel ini harus memiliki struktur logis dan argumentatif. Bahaya muncul ketika siswa berhenti bertanya “mengapa” dan hanya peduli pada hasil akhir yang diberikan oleh mesin. Relevansi isu ini sangat nyata dengan realitas saat ini, di mana batas antara bantuan teknologi dan ketidakjujuran akademik menjadi semakin tipis. Selain itu ketergantungan pada teknologi yang dimana bahasa ‘’Adopsi AI’’ ini dalam instansi pendidikan memiliki resiko, yakni guru dan siswa akan terus bergantung pada teknologi tersebut. Maka oleh karena itu, penting bagi AI digunakan sebagai suatu alat bantu dan bukan sebagai pengganti guru.
Sebagai gambaran nyata, kita bisa melihat studi kasus pada sebuah sekolah menengah yang menemukan bahwa mayoritas esai siswa kini memiliki gaya bahasa yang identik dan sangat rapi, namun akan tetapi kehilangan sisi interpretasi atau pandangan personal penulisnya. Setelah ditelusuri, faktanya ternyata para siswa menggunakan bantuan kecerdasan buatan secara penuh tanpa melakukan penyuntingan, yang kemudian bisa diliat sebuah fenomena yang menunjukkan bahwa teknologi ini mulai mendominasi hasil nilai akhir. Isu ini sangat relevan dengan realitas saat ini, di mana tantangan utama bagi pembaca umum, khususnya pendidik, bukan lagi soal bagaimana mendapatkan informasi, melainkan bagaimana menjaga agar bukti dan argumen tetap valid serta objektif tanpa bergantung sepenuhnya pada mesin.
Sebagai kesimpulan pribadi, kecerdasan buatan hanyalah sekumpulan algoritma tanpa rasa dan empati. Peran guru sebagai inspirator dan pembentuk karakter tetap tidak tergantikan oleh robot secanggih apa pun. Mari jadikan AI sebagai kawan belajar yang membantu produktivitas, sembari tetap menjaga api kreativitas dan kemampuan berpikir kritis siswa agar tetap sejalan dengan kerangka otak berpikirnya. Serta terdapat juga tantangan yang perlu diatasi seiring dengan penggunaan AI dalam dunia pendidikan, yang kemudian beberapa tantangan tersebut meliputi kekhawatiran terhadap privasi data siswa, ketergantungan yang berlebihan pada teknologi, masalah implementasi AI, serta ketidakadilan dalam akses teknologi. Maka selain itu, penggunaan AI juga dapat memunculkan perilaku malas dalam membaca literatur dan mampu meningkatkan perilaku plagian di kalangan peserta diidk.
Penulis : Muhammad Zainal Hakim, Mahasiswa Sekolah Tinggi Teknologi Informasi NIIT Teknik Informatika










