KUNINGAN (MASS) – Di tengah gencarnya narasi pendidikan inklusif dalam berbagai kebijakan nasional, praktik pemenuhan hak pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus masih menyisakan persoalan mendasar. Ketidaksiapan sistem pendidikan, keterbatasan sumber daya, serta rendahnya pemahaman sebagian masyarakat menjadi realitas yang tidak bisa diabaikan.
Berangkat dari realitas tersebut, kami melaksanakan kegiatan observasi ke SLB Ar-Rahman Sukamulya sebagai bagian dari tugas mata kuliah Pendidikan Inklusif yang diampu oleh Ibu Okky Ayu Setyowati M.Pd Kegiatan observasi ini dilaksanakan pada Hari Jumat, Tanggal 19 Desember 2025. Dalam situasi tersebut, SLB Ar-Rahman Sukamulya tampil sebagai potret nyata upaya menghadirkan pendidikan yang berpihak pada kemanusiaan, bukan sekadar pemenuhan administratif kebijakan.
Sebagai lembaga pendidikan khusus, SLB Ar-Rahman Sukamulya menyediakan ruang belajar yang aman, ramah, dan inklusif bagi anak berkebutuhan khusus. Sekolah ini memandang peserta didik bukan sebagai objek belas kasihan, melainkan sebagai individu yang memiliki potensi, kemampuan, dan hak yang setara untuk berkembang. Orientasi pendidikan tidak semata diarahkan pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter, kemandirian, dan kemampuan sosial peserta didik. Pendekatan ini menegaskan bahwa pendidikan inklusif tidak dapat dipaksakan dalam satu pola seragam, melainkan harus berangkat dari kebutuhan nyata setiap anak.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala Sekolah Bapak Andri Wahyudi S.Pd.Gr. menegaskan bahwa anak berkebutuhan khusus memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan. SLB hadir sebagai wadah untuk memastikan hak tersebut terpenuhi sesuai dengan kebutuhan setiap anak. Pernyataan ini menjadi pengingat penting bahwa keberadaan SLB bukanlah simbol segregasi, melainkan bentuk nyata tanggung jawab negara dan masyarakat dalam menjamin hak pendidikan yang adil dan bermartabat.
Melalui kegiatan observasi ini, mahasiswa diajak untuk tidak hanya memahami kondisi peserta didik berkebutuhan khusus, tetapi juga membangun kesadaran kritis terhadap sistem pendidikan inklusif di Indonesia. SLB Ar-Rahman Sukamulya menjadi cermin bahwa pendidikan inklusif tidak cukup berhenti pada wacana dan regulasi, melainkan menuntut komitmen kolektif dari sekolah, pemerintah, dan masyarakat. Tanpa dukungan nyata dan berkelanjutan, pendidikan inklusif berisiko menjadi jargon kebijakan yang kehilangan makna di lapangan.
Penulis: Ferani Putri Nur Aulia, Siti Huwaida Dzakiyyah, Tarissa Eka Prasilia, Mahasiswa PGSD, Universitas Islam Al-Ihya Kuningan.










