KUNINGAN (MASS) – Kisah pilu terpotret dari kondisi kemiskinan di Kabupaten Kuningan. Seorang lansia bernama Manis, asal Dusun Cikopo RT 13 RW 5, Desa Cibinuang, Kecamatan Kuningan ini, bercerita banyak soal bagaimana bertahan hidup meski perhatian pemerintah padanya, minim.
Sudah laman Nenek Manis ini hidup sebatang kara setelah ditinggal wafat oleh suaminya. Tanpa anak yang mendampingi dan ponakan yang tinggal berjauhan, ia harus berjuang sendirian untuk memenuhi kebutuhan perutnya sehari-hari.
Nenek menceritakan adanya ketimpangan distribusi bantuan sosial di lingkungannya. Ia merasa seringkali bantuan justru tidak tepat sasaran atau jatuh ke tangan warga yang secara ekonomi jauh lebih mampu. Sementara dirinya, yang masuk kategori lansia tidak mampu, justru jarang tersentuh program bantuan sosial.
“Sudah lama tidak mendapat bantuan. Justru yang kaya dapat bantun beras, uang. Saya kondisi seperti ini tidak dapat,” ujar Nenek Manis.
Nenek mengingat kembali bantuan terakhir yang ia terima terjadi pada Januari 2025. Saat itu pun, bantuan uang yang diterimanya tidak utuh karena dipotong untuk biaya administrasi dan transportasi petugas. Sejak saat itu, terhitung sudah satu tahun penuh ia tidak lagi merasakan manfaat dari program bantuan sosial pemerintah desa maupun pusat.
“Udah satu tahun belum dapat lagi. Saya pasrah aja, ada yang memberi rezeki saat lebaran seperti beras, zakat suka dihemat untuk bayar listrik atau gas,” tuturnya.
Karena keterbatasannya, Nenek menghemat demi mencukupkan persediaan beras yang kian menipis, ia terpaksa memasak nasi hanya dua hari sekali agar persediaan beras bisa bertahan lebih lama.
“Kalo masak nasi dihemat-hemat. Misal sekarang masak pagi, besoknya ngga, besoknya lagi masak. Kalo tidak gitu gimana lagi,” tutur Nenek sambil gemetar.
Meski terjepit dalam kemiskinan, Nenek tetap memegang teguh martabatnya. Ia mengaku tidak ingin meminta-minta atau memohon bantuan jika tidak diberikan secara ikhlas oleh pihak berwenang. Baginya, bantuan yang tidak disertai keikhlasan dari pemberinya justru akan membebani hatinya. (didin)










