KUNINGAN (MASS) – Pendidikan merupakan hak dasar setiap warga negara, tanpa terkecuali bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Namun, pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus tidak dapat disamakan sepenuhnya dengan pendidikan pada umumnya. Diperlukan pendekatan khusus yang menyesuaikan dengan kemampuan, karakter, dan kebutuhan peserta didik. Hal tersebut tergambar jelas dari hasil observasi yang kami lakukan di SLB Al-Mufti Cikijing pada 17 Desember 2025.
SLB Al-Mufti Cikijing melayani sekitar 50 siswa dari jenjang SDLB, SMPLB, hingga SMALB dengan beragam hambatan, mulai dari tunagrahita, tunarungu, tunawicara, tunanetra (dengan penglihatan terbatas), tunadaksa, hingga autisme. Bahkan, terdapat pula siswa dengan hambatan ganda. Kondisi ini menuntut guru untuk memiliki kesabaran, kepekaan, serta kreativitas tinggi dalam mengelola pembelajaran.
Menurut salah satu guru SLB Al-Mufti, Bagus Mubarok, S.Pd, pembelajaran di SLB tidak bisa dipaksakan mengikuti pola pembelajaran sekolah umum.
“Anak-anak SLB itu tidak bisa kita samakan dengan anak reguler. Kita harus mengikuti kemampuan dan keinginan mereka. Kalau dipaksakan, justru pembelajaran tidak akan masuk”.
SLB Al-Mufti menerapkan pembelajaran akademik umum pada hari Senin hingga Rabu, seperti Matematika, IPAS, dan Bahasa Indonesia. Sementara itu, hari Kamis difokuskan pada pembelajaran vokasional, dan hari Jumat diisi dengan pembelajaran Pancasila atau yang kini disebut Pancawaluya. Pembelajaran vokasional menjadi salah satu ciri khas yang menonjol karena berorientasi pada praktik langsung.
“Pembelajaran vokasional itu penting supaya anak-anak punya bekal life skill. Tujuannya agar setelah lulus mereka bisa lebih mandiri, baik secara ekonomi maupun sosial,”
Dalam praktiknya, siswa diajak langsung ke lingkungan sosial, seperti minimarket, untuk belajar melakukan transaksi jual beli secara mandiri. Sebelum kegiatan dilakukan, guru memberikan pengarahan agar siswa memahami tahapan yang akan dijalani. Pendekatan ini menjadi bukti bahwa pembelajaran di SLB tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi juga menyatu dengan kehidupan nyata.
Tantangan lain yang tidak kalah besar adalah pembentukan karakter dan pengelolaan emosi siswa, khususnya saat siswa mengalami tantrum. Dalam menghadapi kondisi tersebut, guru di SLB Al-Mufti mengedepankan pendekatan emosional yang penuh empati.
“Kalau anak sedang tantrum, biasanya saya peluk dulu. Kalau dipaksa atau dipegang dengan keras, malah makin berontak. Dengan dipeluk, anak lebih tenang,”.
SLB Al-Mufti juga melibatkan orang tua dalam proses pendidikan anak. Guru secara berkala melakukan asesmen dan komunikasi dengan orang tua untuk memastikan adanya kesinambungan antara pembelajaran di sekolah dan di rumah.
Berdasarkan hasil observasi ini, SLB Al-Mufti Cikijing menunjukkan praktik pendidikan yang tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan kemandirian, karakter, dan kesiapan sosial siswa. Pendidikan yang dijalankan bukan sekadar mengajar, melainkan mendampingi dan memanusiakan peserta didik sesuai dengan potensi mereka.
Sudah sepatutnya masyarakat dan pemangku kebijakan memberikan perhatian lebih terhadap pendidikan luar biasa. Anak-anak berkebutuhan khusus bukanlah individu yang harus dikasihani, melainkan generasi yang membutuhkan ruang, kesempatan, dan pendekatan yang tepat untuk berkembang secara optimal.
Penulis (Kelompok):
Anggun Gustina
Devi Triana
Rika Nur Handayani
Rika Nurul Fazriah
Waktu Observasi:
17 Desember 2025










