KUNINGAN (MASS) – Baru-baru ini kita sering menyaksikan di medsos, tentang tes kepada siswa-siswa kita. Anak setingkat SLTP tidak bisa baca tulis, anak-anak setingkat SLTA tidak tahu 2 tahun berapa bulan, tidak tahu 3 X 4, dan perkalian-perkalian. Bahkan jual krupuk harga lima belas ribu, dibeli dua, tidak tahu pengembaliannya berapa.
Diminta menyanyikan lagu wajib tidak ada yang bisa, baca Quran tidak bisa, apalagi nama-nama negara dan lain-lain.
Sungguh ironis memang di zaman teknologi yang semakin hebat, zaman semuanya dipermudah zaman informasi yang mudah di akses, siswa-siswa kita lemah dalam pengetahuan dasar.
Menurut masyarakat pada umumnya menilai bahwa mutu pendidikan makin menurun. Memang susah mengukur mutu pendidikan itu. Dari nilai siswa tidak bisa, dari serapan lulusan juga tidak bisa. Sering pemerintah mengukur dari administrasi itupun tidak bisa jadi ukuran. Diukur dengan 8 standar pendidikan berdasarkan PP No 57 tahun 2021, juga tidak akurat.
Contohnya guru, sekarang guru sudah punya status professional. Secara formal mereka sudah S1 semua, sudah punya sertifikat pendidik, sudah punya tunjangan profesi dan sudah menguasai empat kompetensi pendidik. Seharusnya sudah ahli dan mendongkrak kwalitas proses belajar.
Coba kita amati sekolah-sekolah pendidikan dasar, SD/ MI sd SMP/MTs, bagaimana proses belajarnya? Saya tidak berani mengevaluasi atau menilai, karena ini sudah dianggap baik oleh mereka. Setiap ganti kurikulum, pelatihan-pelatihan, kumpul-kumpul sosialisasi dan mereka selalu mengatakan sekarang lebih baik dan seterusnya begitu.
Saya hanya berani menyarankan sederhanakan saja. Kalau dulu jargon di SD itu CALISTUNG (baca tulis dan hitung), anak SD cukup kuasai tiga itu saja. Nanti dalam membaca anak bisa mendongeng, bisa cerita dan lain lain, dalam menulis anak bisa mengarang dan lain lain, dalam berhitung anak menguasai perkalian, atau istilahnya raraban.
Pendidikan dasar harus menguasai materi-materi dasar, kita terjemahkan Taksonomi Bloom, yang disusun oleh Benjamin Bloom tahun 1956, atau kita suka menyebutnya tiga ranah pendidikan.
- Satu domain Cognitif, aspek tentang pengetahuan
- Dua domain Afektif, aspek yang menekankan perasaan dan emosi, sikap dan minat
- Tiga domain Psikomotorik, aspek yang menekankan sikap motorik, olahraga, menulis dan lain lain
Urut ketiga domain ini, mana yang seharusnya untuk porsi pendidikan dasar. Kalau kita sudah benar mengurut ini dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi dengan benar dan profesional, maka akan terwujud tujuan pendidikan nasional yang diatur dalam UU SIDIKNAS No 20 tahun 2003.***
Penulis : H Dedi Supardi MPd (Mantan Ketua PGRI Kuningan/Mantan Sekretaris Dinas Pendidikan Kuningan)
