Tak Cukup Bersuarakan Perubahan, BEM UBHI dan GMNI Kuningan Turun Langsung Layani Masyarakat

KUNINGAN (MASS) – Gerakan mahasiswa dituntut tidak hanya hadir melalui ruang diskusi, kritik, maupun demonstrasi, tetapi juga mampu mengambil peran nyata dalam menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat. Semangat itu ditunjukkan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Bhakti Husada Indonesia (UBHI) bersama Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Kuningan melalui kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Windujanten, Kecamatan Kadugede, Kabupaten Kuningan.

Kegiatan yang berlangsung di Balai Desa Windujanten itu menghadirkan penyuluhan mengenai Pencegahan Penyakit Tidak Menular (PTM) serta pemeriksaan kesehatan gratis bagi masyarakat.

Kolaborasi ini menjadi gambaran gerakan mahasiswa memiliki ruang pengabdian yang lebih luas daripada sekadar aktivitas di lingkungan perguruan tinggi. Persoalan kesehatan masyarakat, misalnya, merupakan salah satu realitas sosial yang membutuhkan perhatian dan keterlibatan berbagai pihak, termasuk kalangan mahasiswa.

Melalui kegiatan ini, BEM UBHI dan GMNI Kuningan berupaya membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan serta melakukan langkah pencegahan penyakit sejak dini.

Sekretaris DPC GMNI Kuningan, Rifki Setia Nugraha menyampaikan, mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk memastikan ilmu pengetahuan yang diperoleh di perguruan tinggi tidak hanya menjadi bekal akademik, tetapi juga memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat.

Menurutnya, pengabdian merupakan bagian penting dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang harus diwujudkan melalui tindakan konkret.

“Mahasiswa bukan cuma belajar di ruang kuliah. Ada tanggung jawab untuk bagaimana ilmu yang dipelajari bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujar Rifki, Munggu (1/11/2026).

Ia menjelaskan, kesehatan menjadi salah satu aspek mendasar dalam kehidupan yang perlu mendapatkan perhatian bersama. Sebab, kondisi kesehatan yang baik merupakan modal penting bagi masyarakat untuk menjalankan berbagai aktivitas dan meningkatkan kualitas hidup.

“Kalau tubuh sehat, kita bisa melakukan banyak hal dengan lebih baik. Karena itu, melalui kegiatan ini kami ingin mengajak masyarakat lebih peduli terhadap kesehatan, terutama dalam mencegah penyakit tidak menular,” katanya.

Selain memberikan edukasi kesehatan, kegiatan ini juga menyediakan pemeriksaan kesehatan gratis sebagai bentuk pelayanan langsung kepada masyarakat. Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesadaran warga untuk lebih mengenali dan memperhatikan kondisi kesehatannya.

Sementara itu, Presiden Mahasiswa UBHI, Aisyah Haryana Pebriani menegaskan, organisasi mahasiswa tidak boleh hanya disibukkan dengan dinamika internal maupun agenda seremonial di lingkungan kampus. Menurutnya, keberadaan organisasi mahasiswa harus memiliki orientasi kebermanfaatan yang dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat.

Ia menilai kolaborasi antara BEM UBHI dan GMNI Kuningan menjadi salah satu bentuk penting dalam membangun gerakan mahasiswa yang tidak terjebak pada sekat-sekat organisasi.

“Pengabdian bukan sekadar menjalankan agenda kegiatan. Yang lebih penting adalah bagaimana keberadaan mahasiswa bisa memberikan kebermanfaatan yang benar-benar dirasakan masyarakat,” tutur Aisyah.

Aisyah menekankan bahwa masyarakat tidak seharusnya hanya diposisikan sebagai objek dalam setiap program pengabdian. Sebaliknya, masyarakat harus ditempatkan sebagai mitra yang memiliki pengalaman, pengetahuan, serta persoalan nyata yang perlu didengar dan diperhatikan.

“Gerakan mahasiswa harus melampaui batas organisasi dan sekat-sekat kepentingan. Intelektualitas tidak seharusnya berhenti di ruang diskusi, tetapi harus diwujudkan melalui keberanian mengambil peran dan tanggung jawab sosial,” katanya.

Ia juga mengingatkan, mahasiswa harus mampu melampaui peran sebagai pengamat yang hanya memberikan kritik terhadap berbagai persoalan sosial. Kritik dan idealisme, menurutnya, harus berjalan beriringan dengan tindakan nyata.

“Mahasiswa tidak boleh berhenti sebagai penonton yang pandai mengomentari keadaan. Kita harus menjadi bagian dari kekuatan yang bekerja, mengabdi dan mengambil tanggung jawab atas realitas sosial. Idealisme bukan untuk dipajang dalam pidato, tetapi diperjuangkan melalui tindakan,” pungkasnya. (didin)