Melihat Prosesi Pernikahan di Desa Gawangsa, ‘Meriah’ Tanpa Sound System

KUNINGAN (MASS) – Pernikahan adalah hal yang lumrah terjadi antara manusia, lelaki dan perempuan.

Syarat dan rukunnya, tertuang dalam aturan agama dan negara. Namun prosesinya, sangat tergantung dengan kebudayaan setempat.

Hal itulah yang akan diceritakan kuninganmass.com kali ini. Di Dusun Ragawangsa Desa Situgede Kecamatan Subang Kuningan, prosesi sakral dan meriah ini, harus dijalani tanpa sound system.

Sebelumnya, kuninganmass.com sendiri melakukan perjalanan panjang menuju ke tempat tersebut.

Dari pusat kecamatan saja, perjalanan sekitar 7-10 kilometer harus dilalui.

Meski sepanjang perjalanan disuguhi pemandangan gunung dan sawah yang indah, jalan yang menanjak dan menurun curam itu, cukup membuat kewalahan.

Apalagi, jalan yang menghubungkan antar desa-desa yang dilalui itu, tidak baik. Selain cornya banyak mengelupas, kondisi berembun, juga membuat ban sedikit licin.

Beberapa lobang di perjalanan juga, membuat pengendara motor matic kerepotan, karena bagian bawah, serinf terkena batu.

Kembali ke prosesi pernikahannya. Sejak datang, dari jalan raya, tidak terdengar suara ‘gonjreng-gonjreng’ kemeriahan seperti hajat pada umumnya.

Ternyata, selain karena jauhnya rumah dari jalan raya, alat pengeras yang dugunakan pun terbatas, hanya sebatas toa saja dengan sound kecil untuk memutar shalawat.

Sekilas tak ada yang berbeda dari prosesi pernikahan lainnya. Saat akad, hanya ada pengantin lelaki.

Pengantin perempuan datang setelah dinyatakan sah. Kidung dan rias semua serba normal, saweran pun demikian.

Gadget dan kemera menyala dimana-mana mengabadikan momen. Sampai akhir, tak ada yang berbeda, kecuali pengeras suara yang mengandalkan toa.

“Disini emang gak boleh speaker,” ujar salah satu rekan yang enggan dituliskan namanya.

Terjawab sudah, ternyata sejak turun-temurun, di daerah tersebut, speaker masihlah sebuah hal tabu.

Dari informasi yang dihimpun kuninganmass.com, bukan hanya sewaktu hajat, untuk keperluan adzan sembahyang pun, speaker tetap dilarang.

“Nanti dibahas (kalo pake speaker, red),” ujarnya menambahkan.

Sebuah potret yang unik. Dimana kemajuan zaman tak terbendung dimana-mana.

Gadget sudah menjadi pegangan semua orang, ternyata masih ada daerah-daerah yang dengan keras menolaknya.

Saat ditanyai alasannya, tak ada jawaban pasti. Hanya saja, tidak menggunakan sepaker dalam pelaksanaan ibadah, adalah hal yang dipercayai oleh tokoh setempat.

Imbasnya, acara hajat pun demikian. Hanya ada toa.

“Itu suka dipake buat pengumuman, (bukan buat adzan, red),” imbuhnya sembari melihat ke arah toa. (eki)