KUNINGAN (MASS) – Kabar mengenai rencana hengkangnya PT City Nine International dari Kuningan, pasca dihentikan sementara karena urusan AMDAL dan PBG, semestinya menjadi bahan renungan bersama. Ajakan itulah yang diserukan pemerhati kebijakan public sekaligus tokoh masyarakat, Dadan Satyavadin.
Ia menegaskan, seruan itu bukan untuk mencari siapa yang harus disalahkan, melainkan untuk mengukur sejauh mana bersungguh-sungguh menginginkan kemajuan ekonomi daerah. Dadan menyampaikan hal itu, Kamis (15/10/2026).
“Kuningan membutuhkan investasi. Kita membutuhkan lapangan kerja, penghasilan bagi keluarga, perputaran ekonomi, dan masa depan yang lebih baik bagi generasi muda. Jika rencana penyerapan hingga 7.000 tenaga kerja dapat terealisasi, tentu ini merupakan peluang besar yang patut dijaga,” ujarnya.
Kritik dan pengawasan tetap diperlukan. Namun, pertanyaan Dadan, apakah setiap persoalan harus berujung pada polemik berkepanjangan? Jika ada kekurangan administrasi, tegas Dadan, selesaikan sesuai aturan. Jika ada kewajiban yang belum dipenuhi, dorong pemenuhannya. Jangan sampai persoalan yang masih bisa dicari jalan keluarnya justru membuat kesempatan ekonomi menjauh dari masyarakat.
“Kita perlu bertanya kepada diri sendiri. Ketika kita menuntut pemerintah membuka lapangan kerja, apakah sikap kita sudah mendukung terciptanya iklim investasi yang sehat? Ketika kita menginginkan kesejahteraan, apakah kita juga mempertimbangkan dampak dari setiap polemik terhadap peluang kerja masyarakat?” ujarnya mempertanyakan.
Dadan menegaskan, hal tersebut bukan soal membela investor atau membungkam kritik. Ini soal menempatkan kepentingan masyarakat di atas kegaduhan. Investor wajib taat aturan, pemerintah wajib memberikan kepastian, dan masyarakat berhak menyampaikan kritik secara bertanggung jawab.
“Kuningan tidak boleh alergi terhadap pengawasan, tetapi juga jangan sampai dikenal sebagai daerah yang membuat peluang investasi kehilangan harapan sebelum manfaatnya dirasakan rakyat,” ucapnya.
“Jangan sampai kita lantang menuntut lapangan kerja, tetapi gagal menjaga kesempatan yang berpotensi menghadirkannya. Sebab, ketika sebuah peluang pergi, masyarakatlah yang mungkin paling lama menanggung kehilangan,” imbuhnya. (eki)
