KUNINGAN (MASS) – Pada Gerakan Pangan Murah (GPM) yang berlangsung di Desa Babakanreuma, Kecamatan Sindangagung, Kamis (26/2/2026) kemarin, Kepala Dinas Ketahanan Pangan (Kadiskatan), Dr Wahyu Hidayah M Si disinggung soal warung kelontong di desa setempat yang mungkin terdampak karena GPM.
Apalagi bahan pangan atau sembako yang disediakan GPM cukup banyak, berton-ton. Meski begitu, Kadiskatan Wahyu Hidayah yakin, dampak negatif yang dikhawatirkan itu tidak mutlak terjadj.
“Warga di sini mungkin tidak membeli dari warung karena ada GPM. Namun, kami perlu menyadari bahwa GPM hanya berlangsung sekali saja, tidak setiap hari,” ujarnya.
Ia menjelaskan, untuk harga daging dan minyak goreng, perbedaan harga masih ada meskipun tidak terlalu jauh. Subsidi ini diharapkan dapat membantu masyarakat mendapatkan kebutuhan pokok dengan lebih mudah.
“Ada perbedaan karena kita ada subsidi dan kami lakukan setiap hari dalam satu GPM itu 7 ton dengan subsidinya minimal Rp 2 ribu rupiah,” tambahnya.
Kadiskatan mencatat pengelolaan GPM sangat bergantung pada permintaan desa namun maksimal 7 ton untuk semua komoditasnya. Contohnya, jika permintaan beras adalah 3 ton, maka kebutuhan produk lainnya disesuaikan.
“Total 7 ton itu berarti semua komoditas komoditas contoh kami bagi tergantung dengan permintaan desa. Contoh beras minta 3 ton berarti yang lainnya menyesuaikan,” paparnya
Meski warung-warung kelontong mungkin menghadapi tantangan, Wahyu berpendapat GPM justru membantu mengamankan daya beli masyarakat. Kolaborasi antara pemerintah dan Gapoktan petani Kuningan menjadi kunci dalam pelaksanaan program ini.
“Dampaknya satu tadi mengamankan daya beli masyarakat itu pertama secara konsumen. Nah bagi produsen langsung bisa dipasarkan di GPM. Jadi kita kerjasama dengan Gapoktan petani Kuningan,” pungkasnya. (raqib)
















