KUNINGAN (MASS) – Peringatan Hari Jadi Kabupaten Kuningan ke-528 kembali diwarnai dengan tradisi budaya Seba Saptonan. Ajang tahunan yang sempat ditiadakan pada tahun sebelumnya ini kembali digelar dengan konsep yang berbeda dari biasanya.
Perbedaan mencolok terlihat pada jadwal pelaksanaan yang kini digelar pada siang hari di bawah terik matahari yang sangat menyengat.
Perubahan konsep dan waktu pelaksanaan tersebut memantik sorotan tajam dari pengamat kebijakan publik, Wawan Wage, yang meninjau langsung suasana di lokasi acara.
Wawan menilai pelaksanaan acara di tengah terik siang justru mempertontonkan kesenjangan sosial yang kontras antara elit pemerintah dan masyarakat umum.
“Terlihat jelas kesenjangan antara pejabat yang menikmati hidangan, keteduhan, dan kenyamanan, sementara rakyat biasa harus berdesak-desakan, kepanasan, dan kehausan,” ujar Wawan Wage kepada kuninganmass.com Sabtu (5/9/2026).
Ia menegaskan jika acara tradisi ini memang memungkinkan untuk digelar pada waktu yang lebih ramah cuaca, pemerintah daerah seharusnya memilih opsi tersebut demi kenyamanan bersama.
“Kalau memang ini bisa dilaksanakan di pagi hari, kenapa tidak?” tandasnya.
Ia menambahkan nilai utama dari peringatan hari jadi daerah adalah rasa kebersamaan sejati antara pemimpin dan rakyatnya dalam kondisi apa pun.
“Panas-panas bareng, hujan-hujan bareng bersama rakyat. Ini yang membedakannya dan harusnya ditunjukkan,” pungkasnya. (raqib)