KUNINGAN (MASS) – Kegiatan retret kepala sekolah SMP di Kabupaten Kuningan yang dilaksanakan di Kebun Raya Kuningan pada pekan lalu menggunakan anggaran yang bersumber dari Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan, Rizal Arif, mengatakan kegiatan retret bertujuan membangun sinergitas antara kepala sekolah dengan unsur pimpinan daerah sekaligus memperkuat soliditas, kekompakan, dan kedisiplinan kepala sekolah.
Menurutnya, kegiatan retret menghadirkan sejumlah pemateri dari unsur pimpinan daerah dan aparat penegak hukum, di antaranya Bupati dan Wakil Bupati, Sekretaris Daerah, kepolisian, kejaksaan, serta Kodim.
“Tujuannya membangun sinergitas antara pimpinan daerah dengan kepala sekolah, membangun soliditas, kekompakan dan disiplin kepala sekolah,” ujar Rizal, Rabu (26/8/2026).
Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari dua malam dengan sekitar enam materi yang disampaikan oleh para narasumber.
Dari total 117 kepala sekolah SMP negeri dan swasta di Kabupaten Kuningan, sebanyak 79 kepala sekolah tercatat mengikuti kegiatan tersebut. Untuk sekolah swasta, hanya sekitar tiga kepala sekolah yang hadir.
Rizal menyebut ketidakhadiran sejumlah kepala sekolah disebabkan berbagai alasan, salah satunya karena bertepatan dengan agenda keluarga seperti wisuda.
“Ada yang nggak hadir, yang hadir 79 orang, dari swasta hanya 3 orang. Kita juga ngga memaksakan untuk ikut, yang negeri hampir semua ikut,” katanya.
Terkait sumber anggaran, Rizal menyebut biaya kegiatan retret menggunakan Dana BOS sekolah. Ia menjelaskan, penggunaan anggaran mengacu pada komponen peningkatan kompetensi guru dan tenaga kependidikan, yang dapat digunakan untuk kegiatan seperti workshop, seminar, maupun kegiatan peningkatan kompetensi lainnya.
“Diambil dari Dana BOS. Ada komponen untuk peningkatan kompetensi guru dan kepala sekolah. Kegiatannya bisa workshop, seminar, dan yang lainnya yang bisa mengambil dari dana bos. Termasuk retret untuk kepala sekolah sebagai salah satu bentuk peningkatan kompetensi kepala sekolah,” jelasnya.
Untuk biaya, setiap peserta mengalokasikan anggaran sekitar Rp 3,8 juta. Dengan 79 peserta, nilai keseluruhan anggaran yang terkait dengan peserta tersebut mencapai sekitar Rp300,2 juta.
“Kemarin itu hampir 3,8 juta (per sekolah). Include semuanya,” tuturnya.
Rizal mengatakan pihaknya tidak mengelola langsung dana itu. Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui kerja sama dengan pihak penyelenggara atau EO (event organizer), dan pembayaran ditransfer langsung kepada pihak tersebut.
Biaya sekitar Rp3,8 juta per peserta itu, kata dia, sudah mencakup sejumlah kebutuhan kegiatan, termasuk seragam, konsumsi, narasumber, penginapan, serta kebutuhan instruktur selama pelaksanaan retret.
“Kita bekerja sama dengan EO, jadi kita tidak mengelola semuanya. Semuanya ditransfer ke EO. Kita hanya memfasilitasi,” katanya.
Rizal berharap kegiatan ini tidak sekadar menjadi agenda seremonial, tetapi mampu memberikan perubahan terhadap pola pikir kepala sekolah dalam menjalankan tugasnya.
“Semoga dengan retret ini bisa mengubah pola pikir kepala sekolah ke depannya menjadi lebih baik lagi dalam mengelola sekolah,” pungkasnya. (didin)