KUNINGAN (MASS) – Bupati Kuningan Dr H Dian Rachmat Yanuar M Si, memuji manajemen baru Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Linggarjati. Hal itu disampaikan Bupati daat meresmikan ruang perawatan umum (RPU-2), pasca renovasi dengan nuansa yang lebih representatif, Sabtu (14/3/2026) kemarin.
Selain memuji manajemen, Bupati juga mengisyaratkan akan adanya perbaikan yang berkelanjutan untuk RSUD Linggarjati.
“Insya allah bertahap, seiring sejalan dengan membaiknya manajemen. Seiringan dengan meningkatnya kepercayaan masyarakat saya yakin (bisa maju). Kan dimana-mana juga maju itu secara bertahap lebih bagus daripada instan,” kata Bupati.
Bupati mengaku melihat kiprah direktur baru, nafas baru yang mulai membenahi manajemen terlebih dahulu. Dan itu jugalah yang nampaknya membuat kunjungan pasien mulai meningkat.”Kedepan (RSUD Linggarjati) jadi RS yang diunggulkan pilihan warga Kuningan utara,” tuturnya.
Soal beberapa SDM yang keluar, termasuk dokter spesialis, beberapa sudah ada penggantinya. Saat itu juga Bupati menekankan pentingnya SDM untuk rumah sakit, baik kualitas maupun kuantitas.
“Bagaimana humanismenya jangan sampai hilang, (karena) etalase pemerintah salah satunya dari pelayanan kesehatan. Pake nurani ada rasa empati, jangan sampai penyakit tambah parah karena tidak dapat pelayanan yang baik,” jelas Bupati.
Dalam wawancara itu, Bupati juga disinggung soal corak warna RSUD Linggarjatj yang berubah dari merah ke kuningan, khusus di ruangan yang baru saja diresmikan,
“Oh itu bukan kuning, itumah warna emas (Bupati nampak menahan senyum). Kan sekarang warna itu menjadi inspirasi, kita sebentar lagi akan melaunching tagline kuningan yang baru (dengan gradasi warna) tosca, kuning emas, yang pasti suasana harus berubah,” kata Bupati.
Saat ditanya kembali komitmen pembangunan berkelanjutan, bukan sekedar renovasi yang sudah ada, Bupati mengungkap satu kendala yang kini tengah diusahakan.
“Nah ini salah satunya kita lagi berikhtiar. Bagaimana status tanah yang ditempati RSUD (ini) bukan asset kita. Kita lagi ikhtiar mudah-mudahan. Kita sudah coba melalui rislah, mudah-mudahan Bandorasawetan (pemilik asset tanah berkenan untuk rislah alias tuker guling),” tuturnya.
“Karena kalo asetnya punya orang lain sulit untuk mengembangkan. Bantuan pemerintah pusat akan terkendala (kalo bukan asset sendiri). Masalah ini kita akan pecahkan,” tuturnya. (eki)












