Connect with us

Hi, what are you looking for?

Kuningan Mass
Siswa sumringah terima MBG, di salah satu sekolah Kabupaten Kuningan. (Foto: dok Pemda)

Netizen Mass

Program Makan Bergizi Gratis Dalam Pembentukan Karakter Siswa

KUNINGAN (MASS) – Marak di media masa pemberitaan terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan oleh presiden republik Indonesia, Prabowo Subianto. Sejak dilaksanakan per Januari 2025, program ini menimbulkan pro dan kontra. Seiring berjalannya waktu program berjalan dengan baik, namun sedikit demi sedikit mulai muncul permasalahan seperti adanya siswa yang mengalami  keracunan setelah mengkonsumsi makanan dari program ini. Khusus di Jawa Barat, dilaporkan per tanggal 25 September 2025 sebanyak 657 siswa  (di Kecamatan  Kadungora, kabupaten Garut) dan 300 siswa ( di Kecamatan Cipongkor Kabupaten Bandung Barat) mengalami keracunan setelah mengkonsumsi makan MBG (cnnindonesia.com) .

Perhatian  pun dilakukan oleh gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yaitu dalam bentuk  tindakan di mana dalam waktu ke depan akan dilakukan evaluasi bersama guna memecahkan permasalahan ini agar program MBG tetap berjalan. Asumsi penulis, MBG merupakan program yang sangat baik guna meningkatkan gizi anak Indonesia sesuai misi Balai Gizi Nasional (BGN) untuk menuju Indonesia Emas 2045 (bgn.go.id).

Hal ini dibuktikan dengan keselektifan BGN  dalam menggait mitra baik perorangan maupun  lembaga  yang memenuhi standar yang ditetapkan  BGN.  Dalam pelaksanaannya, mitra atau yang disebut Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memperkerjakan karyawannya harus  sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan oleh BGN, seperti ketersediaan  ahli gizi untuk menentukan menu yang padat gizi, ,quality control terhadap bahan baku seperti sayur, buah-buahan, atau  susu dimana karakteristik fisiko-kimia susu harus sesuai, dan koki-koki yang bertanggung jawab dalam mengolah bahan baku tersebut merupakan koki-koki yang  berpengalaman. Pemenuhan standar tersebut pada dasarnya ditujukan agar produk makanan  yang dihasilkan merupakan produk yang berkualitas dan menyehatkan.

Program MBG dengan  sasaran siswa sekolah tingkat dasar hingga menengah  tentunya akan memiliki efek yang sangat besar  terhadap aktivitas di sekolah. Dalam pelaksanaanya banyak pihak di sekolah tersebut yang terlibat agar supaya  distribusi makanan  tepat sasaran diterima oleh siswa. Fenomena ini memunculkan banyak fakta baru yang  secara tidak langsung memberikan manfaat  positif bagi siswa didik. Fakta tersebut menurut Arif Supriatna, S.Pd, guru SMPN 3 Ciawigebang Kuningan,  adalah  terbangunnya moral atau karakter positif  siswa yang mencerminkan nilai-nilai religius, seperti  memunculkan rasa  bersyukur terhadap rizki dan berdoa bersama sebelum makan.  Nilai religius atau nilai agama adalah konsep yang dinyatakan baik secara eksplisit maupun implisit dalam ajaran agama, yang memengaruhi perilaku penganutnya (Tuti Marlina, 2024).

Selain itu efek positif nampak dalam bentuk perubahan karakter atau kebiasaan siswa yaitu menjadikan siswa  belajar makan dengan baik sesuai etika, bekerja sama, saling tolong menolong, memunculkan  rasa empati, bertanggung jawab, saling membantu, menjaga kebersihan, mencuci tangan dengan baik, bahkan ada beberapa siswa yang  menyisihkan uang jajannya untuk ditabung karena pemenuhan makannya sudah terpenuhi oleh MBG. Secara tidak langsung, perubahan perilaku tersebut telah mencerminkan harapan pemerintah untuk mencetak lulusan yang  sesuai dan  diwujudkan dalam bentuk 8 dimensi Profil Lulusan peserta didik.

Berdasarkan fakta-fakta tersebut, maka dapat digambarkan efek MBG dalam menunjang keberhasilan proses pendidikan walaupun secara informal atau tidak langsung telah memberikan kontribusi yang positif dalam pendidikan. Oleh karena itu, dalam tulisan ini penulis akan mengupas beberapa dimensi Profil Lulusan yang berkaitan atau selaras dengan pembentukan karakter sebagai efek dari program MBG. Ada 8 delapan dimensi Profil Lulusan yang dijadikan acuan dalam membentuk karakter peserta didik, namun penulis akan mengupas beberapa dimensi saja.

Dimensi pertama yang akan dibahas pada tulisan ini adalah dimensi Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan YME: Menghayati nilai spiritual dan mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu bentuk pengamalan agama yang diamalkan oleh siswa adalah belajar makan sesuai etika dan  membaca doa sebelum dan sesudah makan. Saat makanan program MBG sudah dibagikan, setiap siswa diarahkan oleh gurunya untuk membaca doa terlebih dahulu. Tidak lupa guru mengingatkan para siswa untuk menggunakan tangan kanan ketika menyantap makanan dan mengunyah dengan mulut tertutup.

Perilaku tersebut merupakan cerminan perbuatan nabi Muhammad SWA, seperti dikutip dalam hadist. Doa dan basmalah dapat mendatangkan keberkahan. Rasulullah bersabda, “Setan akan makan bersama seseorang selagi ia belum menyebut asma Allah,” (HR Abu Dawud dan An-Nasai). Rasulullah saw juga menganjurkan kita untuk membaca basmalah sebelum makan dan menggunakan tangan kanan dalam melakukan aktivitas makan sebagaimana riwayat Bukhari dan Muslim (https://islam.nu.or.id/doa/doa-sebelum-makan-CXESz). Kebiasaan doa yang berulang-ulang dan adab makan yang diterapkan sejatinya akan menjadi ilmu yang bermanfaat bagi siswa didik dan membekas menjadi perilaku yang positif dalam kehidupan sehari-hari.

___

Dimensi kedua adalah Kolaborasi: Mampu bekerja sama dengan orang lain secara peduli, berbagi, dan efektif. Mengapa saat siswa bekerja sama , tolong menolong, saling membantu, dan memiliki rasa empati dikatakan selaras dengan dimensi tersebut di atas?. Pertama, teknis pembagian makanan MBG tidak dapat dilakukan tanpa membentuk tim yang tentunya bukan seorang diri, tahap ini melibatkan guru sebagai koordinator yang mengarahkan jalannya distribusi makanan tepat sasaran ke setiap siswa. Dalam proses ini guru melibatkan sebagian siswanya yang tergabung dalam OSIS untuk membantu distribusi tersebut. Kedua, saat membagikan makanan perwakilan siswa dan teman-temannya membagikannya dengan saling tolong menolong dan membantu.

Yang ketiga, adapun munculnya rasa empati diwujudkan dengan sikap mau berbagi baik terhadap teman atau adik dari siswa tersebut. Membentuk karakter seperti ini apabila ditanamkan secara formal akan menghadapi kendali, namun dengan habitual yang terus dilakukan setiap hari, tentunya akan tertanam karakter kolaborasi dalam diri siswa sehingga akan memiliki efek positif baik secara personal maupun lingkungan masyarakat.  Dengan demikian  empati tidak hanya memperkuat hubungan interpersonal, tetapi juga membentuk lingkungan yang saling mendukung dan penuh kepedulian (Kanza et al., 2025)

Dimensi berikutnya yaitu Kemandirian: Bertanggung jawab terhadap diri sendiri, proses belajar, dan mampu beradaptasi. Poin utama yang nampak pada dimensi ini adalah karakter bertanggung jawab berupa kepedulian terhadap barangnya masing-masing yaitu alat makan berupa misting, dimana alat tersebut sifatnya dipinjamkan dalam program ini. Para siswa menggunakan alat ini dengan baik, dan berhati-hati agar tidak rusak.

Disamping itu, para siswa dengan penuh tanggung jawab membereskan perlengkapan tersebut untuk kemudian dikembalikan lagi ke pihak MBG. Sikap bertanggung jawab tersebut merupakan wujud dari karakter bertanggung jawab sesuai indikator yang disampaikan oleh Agung (2017), bahwa jika anak dengan kesadaran sendiri membereskan mainan atau benda apapun yang telah digunakan menunjukkan karakter bertanggung jawab. Oleh karena itu, semakin terlihat jelas bahwa program MBG memiliki manfaat bagi siswa didik dalam membentuk karakter dirinya.

Yang terakhir adalah dimensi Kesehatan: Menerapkan pola hidup bersih dan sehat, serta menjaga kesehatan fisik dan mental. Pola hidup bersih menjadi aspek penting dalam menjaga kesehatan siswa didik. Dengan pola ini setidaknya siswa dihindari dari berbagai penyakit yang sering muncul seperti cacingan, diare, dan muntah jika dalam mengkonsumsi makanan tidak terjaga kebersihan dirinya. Hal yang dilakukan oleh siswa guna terhindar dari penyakit tersebut adalah mencuci tangan dengan baik sebelum dan sesudah makan.

Penggunaan sabun dan air mengalir merupakan bentuk perilaku siswa dalam menjaga kebersihan. Ada beberapa manfaat mencuci tangan dengan sabun yaitu mencegah beragam penyakit, menghilangkan bahan kimia berbahaya, membunuh kuman pada tangan, dan mencegah resistensi antimikroba (halodoc.com). Dengan manfaat tersebut kesehatan fisik akan terbentuk sehingga akan membantu membentuk perkembangan mental yang baik dan menjadikan siswa didik dapat belajar dengan nyaman.

Dari semua uraian di atas, harapannya adalah MBG menjadi program yang selaras dengan pembentukan karakter sesuai dimensi profil lulusan, dengan syarat bimbingan guru dalam mendampingi siswa dalam program ini tidak bisa terlepaskan. Siswa perlu dibina dan diarahkan dengan baik di sekolah. Program ini merupakan program bersama dan merupakan tanggung jawab semua pihak.

Penulis: Henni Rosa Triwardani, M.Pd,
Dosen Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Islam Al-Ihya Kuningan

Advertisement
Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

You May Also Like