Connect with us

Hi, what are you looking for?

Kuningan Mass

Education

Persoalan Studi Tur

KUNINGAN (MASS) – “Perlulah anak-anak kita dekatkan hidupnya kepada perikehidupan rakyat, agar supaya mereka tidak hanya memiliki ‘pengetahuan’ saja tentang hidup rakyatnya, akan tetapi juga dapat mengalaminya sendiri, dan kemudian tidak hidup berpisahan dengan rakyatnya” (Ki Hajar Dewantara)

Bersekolah bukan berarti harus berada di dalam kelas dan menerima materi secara konvensional. Tetapi juga meliputi proses pengamatan langsung kepada objek-objek yang berkaitan dengan bahan pengajaran yang dapat dilihat dan bersumber dari lingkungan sekitar. Hal ini bertujuan untuk mencapai pengalaman belajar yang maksimal sesuai dengan amanat dari Ki Hajar Dewantara yang tertulis di atas.

Hal ini sangat efektif sekali, karena tidak semua peserta didik memiliki kemampuan yang sama dalam mendengarkan materi di dalam kelas, mereka membutuhkan pembelajaran yang berdiferensiasi, yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan mereka saat ini. Pengalaman belajar secara langsung akan memberikan pengaruh pembelajaran yang sangat baik bagi seluruh peserta didik.

Namun akhir-akhir ini banyak sekali orang-orang berpendapat bahwa di zaman yang sangat modern ini kita bisa belajar dengan mudah melalui internet, kita tidak perlu pergi ke suatu tempat untuk melakukan kegiatan pembelajaran, itu sangat membuang-buang waktu, membuang uang yang dapat digunakan untuk kepentingan lain. Seperti selebaran studi tur yang harus dihapuskan dari program pembelajaran. Hal ini akan lebih efektif, meringankan beban orang tua, dan menghemat biaya seratus kali lipat.

Namun apakah pendapat mereka benar? Kita memang bisa melihat matahari di dalam gadget kita, namun tidak dapat merasakan hangat dan panasnya, kita bisa melihat gunung yang indah, namun tak dapat merasakan sejuk udaranya, kita dapat melihat ombak di laut, namun tidak akan pernah bisa basah karenanya. Kita dapat mendatangkan apapun dengan gadget kita, namun tidak dapat menyatukannya dengan jiwa dan raga kita.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Akankah kita hidup hanya dalam kefanaan? Apakah kita lupa bahwa kitalah yang menciptakan gadget dan internet? Namun mengapa kita menuhankannya, kita menganggap bahwa gadget dan internet dapat mendatangkan apapun yang kita butuhkan. Bukankah kita sebagai manusia yang harus menguasai gadget dan internet, bukan sebaliknya kita diperbudak dan menganggap gadget internet dapat melibihi kemampuan manusia. Walaupun internet itu sangat besar manfaatnya, namun tidak lebih besar dari manfaat manusia itu sendiri.

Saat ini guru Indonesia sedang mejadi ajang cemoohan atas musibah yang terjadi dalam kegiatan studi tur yang menimpa SMK Lingga Kencana Depok, studi tur hanya dianggap ajang untuk berbisnis, mendapatkan keuntungan lebih dari gaji yang telah didapatkan guru dari pemerintah. Apakah kita juga berfikir sedangkal itu? Namun mari kita do’akan semoga semua korban diberi tempat yang indah di sisi Allah SWT, kita harus meyakini bahwa mereka berangkat dengan niat baik, untuk belajar, mencari ilmu dan kemudian sebagian mereka dipanggil kembali, dalam perjalanan untuk kebaikan.

Nasib guru yang memikul tanggung jawab begitu besar, benar-benar seorang pahlawan tanpa tanda jasa, niat baiknya pun belum tentu banyak orang dapat menerimanya. Padahal pengaruh abad ke-21 dan revolusi industri 4.0. menuntut kita untuk terus bergerak dan berinovasi dalam mewujudkan visi pendidikan Indonesia, untuk mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya pelajar pancasila. Yang tidak hanya fokus terhadap kemampuan kognitif , tetapi juga pada sikap dan perilaku sesuai jati diri  sebagai bangsa Indonesia sekaligus warga dunia.

Belajar di luar kelas diharapkan dapat menginspirasi peserta didik untuk berkontribusi bagi lingkungan sekitarnya, sesuai dengan keputusan Mendikbudristek No.65/M/2022 tentang penerapan kurikulum untuk membentuk profil pelajar pancasila yang kompeten, berkarakter, dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai pancasila.

Studi tur adalah integrasi antara kegiatan belajar dan wisata yang dilaksanakan di luar ruangan kelas dengan mengunjungi universitas dan tempat wisata agar peserta didik mengalami pengalaman belajar yang maksimal dari lingkungan sekitar. Pengalaman yang didapatkan peserta didik dari kegiatan seperti ini akan berdampak lebih Panjang kepada peserta didik. Karena dengan mengamati, mendengar, dan merasakan secara langsung fenomena yang terjadi di lingkungan, serta dapat meningkatkan ketertarikan peserta didik terhadap pembelajaran.  Selain itu menurut Neil J.T & Richards G.E (1998), “pembelajaran di luar kelas dapat meningkatkan kepercayaan diri, meningkatkan pengetahuan diri, mampu berkerja dalam tim dengan oranglain, menjadi lebih terbuka dan peduli, memiliki hidup baru, dan sebagainya”.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Maka pengalaman langsung yang dirasakan peserta didik akan menjadi pembelajaran yang kongkret, yang diperoleh melalui proses perbuatan, atau mengalami sendiri apa yang dipelajari dalam studi tur. Marilah kita melihat sesuatu dengan cara objektif, agar kita tidak salah menilai dan menjadi pribadi yang bijaksana. Karena itulah yang sangat dibutuhkan saat ini, demi meningkatnya sumber daya manusia di Indonesia.***

Penulis : Ade Gumelar, S.Pd. (Alumni STKIP Muhammadiyah Kuningan)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement
Advertisement

You May Also Like

Netizen Mass

KUNINGAN (Mass) – Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS) kembali diperingati pada tanggal 2 mei setiap tahunnya, dengan pelopor pendidikan yaitu Ki Hajar Dewantara (Raden Mas...

Netizen Mass

KUNINGAN (Mass) – Dari di sinilah kita, siap sedia memberi korban yang sesuci-sucinya… sungguh, korban dengan ragamu sendiri adalah korban yang paling ringan… memang awan...

Advertisement