KUNINGAN (MASS) – Rasulullah SAW bersabda: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah. Pada keduanya terdapat kebaikan.” (HR. Muslim).
Kata “kuat” dalam hadis ini bukan merujuk pada kekuatan fisik semata. Kekuatan yang dimaksud adalah kekuatan iman, kekuatan mental, dan kekuatan kontribusi untuk umat. Sementara mukmin yang lemah adalah pribadi yang mudah mengeluh, mudah menyerah, dan mudah terombang-ambing oleh arus zaman.
Oleh karena itu, agar menjadi mukmin yang kuat, peganglah lima kunci berikut ini;
Pertama, menjadi manusia produktif dan bermanfaat. Mukmin yang lemah banyak tidur dan bermalas-malasan. Mukmin yang kuat tangannya bekerja, akalnya berpikir, dan hatinya berniat ibadah.
Rasulullah SAW berdoa, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan.” (HR. Bukhari).
Lemah dan malas adalah dua penyakit yang menghambat kemajuan dunia dan akhirat. Shalat lima waktu terjaga, tetapi sepanjang hari hanya menghabiskan waktu untuk bermain gawai tanpa produktivitas sama sekali, itu termasuk kelemahan. Mukmin yang kuat adalah yang subuh di masjid, siang menghasilkan karya, sore membantu sesama, dan malam bermuhasabah.
Kedua, banyak berdoa. Otot dapat mengecil, harta dapat habis, dan relasi dapat terputus. Namun, doa adalah sambungan langsung kepada Allah, Sang Maha Kuat.
Allah SWT berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan untukmu.” (QS. Ghafir: 60).
Rasulullah SAW adalah pribadi yang paling banyak berdoa, padahal dosa-dosanya telah diampuni.
Mukmin yang lemah hanya berdoa ketika terdesak. Mukmin yang kuat berdoa sebelum berusaha, saat berusaha, dan setelah berusaha. Doa bukan “rencana cadangan”, melainkan “bahan bakar utama”.
Ketiga, berbekal ilmu. Bergerak tanpa ilmu sama dengan nekat. Berdakwah tanpa ilmu, berbisnis tanpa memahami halal dan haram, akan mudah tersesat.
Allah SWT berfirman, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11).
Pada era penuh fitnah seperti sekarang, mukmin tanpa ilmu bagaikan kambing di tengah serigala. Iman yang kuat harus disertai ilmu yang kuat. Mengaji 15 menit setiap hari lebih baik daripada berceramah dua jam dengan isi yang tidak berdasar.
Keempat, jangan minder. Minder terhadap gelar, harta, atau popularitas orang lain adalah penyakit hati. Padahal, kemuliaan sejati hanya ditentukan oleh Allah.
Allah SWT berfirman, “Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang beriman.” (QS. Ali Imran: 139).
Umar bin Khattab dahulu hanyalah seorang budak, tetapi jiwanya seteguh raja. Abu Dzar al-Gifari hidup miskin, tetapi berani berbicara di hadapan khalifah tanpa gentar. Sebab, mereka sadar bahwa dirinya adalah hamba Allah. Jika Allah bersama kita, lalu kepada siapa lagi kita harus minder?
Kelima, berpikir untuk masa depan. Mukmin yang lemah hanya memikirkan gaji esok hari. Mukmin yang kuat memikirkan bekal untuk di alam kubur dan akhirat.
Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.” (QS. Al-Hasyr: 18).
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa “hari esok” dalam ayat ini adalah hari kiamat. Menabung untuk kebutuhan dunia penting. Namun, menabung pahala jauh lebih penting. Berinvestasi tanah baik. Akan tetapi, berinvestasi pada anak saleh dan ilmu yang bermanfaat adalah “properti akhirat” yang tidak akan terkena penggusuran.
Allah tidak menuntut kita menjadi manusia yang sempurna. Allah menuntut kita menjadi mukmin yang “kuat”. Kuat dalam bekerja berarti produktif. Kuat dalam batin berarti banyak berdoa.
Kuat dalam pikiran berarti berilmu.
Kuat dalam mental berarti tidak minder.
Kuat dalam visi berarti memikirkan akhirat.
Kelima kunci ini tidak akan serta-merta menjadikan kita seperti Umar bin Khattab. Namun, kelima kunci ini akan menghindarkan kita dari menjadi “mukmin KTP” yang mudah runtuh karena ujian kecil. Wallahu a‘lam bish-shawab.
Imam Nur Suharno
Pembina Korps Mubaligh Husnul Khotimah Kuningan Jawa Barat