KUNINGAN (MASS) – Menjelang pelaksanaan Musyda Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Kuningan, pertanyaan besar menghantui gerakan pemuda Kuningan kedepan.
KNPI yang selama ini dikenal sebagai wadah berhimpunnya berbagai organisasi kepemudaan di Indonesia, sempat dinilai semakin kehilangan fungsi representatifnya terhadap aspirasi generasi muda.
Kevakuman organisasi, ditambah arah gerak yang terbatas membuat banyak pihak mempertanyakan relevansi dan peran strategis KNPI dalam menjawab tantangan zaman. Hal itulah yang disampaikan aktivis HMI, Feri Rizkiana Tri S.
“KNPI yang dibentuk pada tahun 1973 sejatinya dirancang sebagai forum koordinasi dan komunikasi antar-organisasi kepemudaan. Namun dalam beberapa tahun terakhir, KNPI justru tidak bisa memberikan rumah yang begitu luas terhadap OKP yang ada di Kuningan, ” kata Feri, Jumat (13/2/2026).
Arah gerak KNPI, lanjutnya, tidak lagi fokus pada kepentingan pemuda, melainkan hanya terfokus terhadap kepentingan tubuh KNPI itu sendiri.
Menurutnya, fragmentasi yang terjadi membuat KNPI kehilangan legitimasi sebagai representasi kolektif pemuda Indonesia. Akibatnya, aspirasi pemuda yang seharusnya diperjuangkan melalui organisasi ini tidak tersalurkan secara maksimal.
KNPI Tidak Responsif terhadap Isu Kekinian
Di tengah gempuran tantangan global dan domestik yang dihadapi pemuda — seperti pengangguran, lingkungan, disrupsi teknologi, serta minimnya ruang partisipasi politik — KNPI justru tampak absen.
Tidak ada pernyataan sikap yang kuat, tidak ada aksi yang menonjol, dan tidak terlihat inisiatif yang relevan untuk menjawab kebutuhan zaman.
“Kita butuh organisasi pemuda yang bisa bicara soal AI, soal ekonomi digital, soal perubahan iklim. Tapi KNPI masih sibuk dengan urusan Internal dan legalitas.Kondisi ini membuat KNPI semakin dijauhi oleh generasi muda, yang kini lebih memilih platform independen seperti komunitas sosial, inkubator bisnis, forum digital, dan gerakan akar rumput yang lebih inklusif dan progresif,” ucapnya kritis.
Pemuda Kehilangan Saluran Aspirasi Formal
Dengan kevakuman dan ketidakhadiran KNPI dalam dinamika internal, saluran formal bagi aspirasi pemuda menjadi lemah. Padahal, pemuda merupakan kekuatan strategis dalam pembangunan bangsa.
Tidak adanya representasi yang sahih dan solid dapat menghambat integrasi suara pemuda dalam kebijakan publik, baik di tingkat daerah maupun nasional.
“Ini situasi yang serius. Pemerintah daerah perlu memfasilitasi ruang partisipasi pemuda secara lebih sehat. Jika KNPI tidak mereformasi arah gerak dan tidak mampu menjadi regulator pemikiran yang strategis,” ungkapnya.
Kini, lanjutnya, masa depan KNPI harus berada pada kepentingan yang berkelanjutan untuk OKP kepemudaan. Organisasi ini bisa lebih untuk berbenah, merangkul kembali pemuda dari seluruh lapisan, dan memposisikan diri sebagai aktor strategis dalam pembangunan daerah. Atau sebaliknya, membiarkan diri terus terpecah, terpinggirkan, dan perlahan ditinggalkan sejarah.
“Pemuda Kuningan membutuhkan wadah yang bisa menyuarakan aspirasi mereka secara kolektif dan kuat. Siapapun nahkoda yang terpilih semoga bisa mengedepankan asas kebersamaan dan sama sama bekerja untuk kemajuan dalam konteks kepemudaan di Kabupaten Kuningan,” tuturnya.
“Jangan sampai KNPI yang di kenal sejarah panjangnya sebagai motor gerakan pemuda bisa berakhir sebagai catatan kelam organisasi yang gagal menjalankan mandat generasinya,” imbuhnya di akhir. (eki)








