MBG: Dari Menolak Menjadi Mengawal

KUNINGAN (MASS) – aya melihat ada sesuatu yang menarik dari perkembangan gerakan mahasiswa belakangan ini. Tuntutan yang semula terdengar lantang untuk menghentikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), perlahan bergeser menjadi tuntutan evaluasi dan perbaikan tata kelola.

Bagi saya, ini bukan sekadar perubahan kalimat dalam spanduk atau poster demonstrasi. Ini adalah tanda bahwa ruang dialog masih hidup.

Saya memahami mengapa banyak mahasiswa mengkritik MBG. Mereka khawatir anggaran yang sangat besar tidak memberikan manfaat yang sebanding. Mereka khawatir terjadi pemborosan, ketidaktepatan sasaran, atau bahkan penyimpangan. Kekhawatiran itu wajar dalam negara demokrasi.

Namun saya juga memahami bahwa di balik program ini ada harapan besar untuk memperbaiki kualitas gizi anak-anak Indonesia. Tidak sedikit keluarga yang berharap anaknya mendapatkan asupan makanan yang lebih baik melalui program tersebut.

Karena itu, ketika tuntutan mulai bergeser dari “tutup MBG” menjadi “evaluasi MBG”, saya melihat adanya titik temu antara idealisme dan realitas.

Mungkin mahasiswa mulai menyadari bahwa menghentikan sebuah program nasional bukan perkara sederhana. Tetapi mengawal agar program itu berjalan lebih baik adalah sesuatu yang sangat mungkin dilakukan. Dan justru di situlah peran penting masyarakat sipil.

Sebagai warga Kuningan, saya lebih senang melihat energi mahasiswa digunakan untuk mengawasi kualitas makanan, transparansi anggaran, keamanan distribusi, dan manfaat nyata yang diterima siswa. Sebab uang yang digunakan dalam program ini adalah uang rakyat. Setiap rupiahnya harus bisa dipertanggungjawabkan.

Demokrasi tidak selalu harus berakhir dengan kemenangan salah satu pihak. Ada kalanya demokrasi menghasilkan sesuatu yang lebih berharga, yaitu perbaikan.

Jika pemerintah bersedia mendengar kritik dan mahasiswa bersedia mengawal pelaksanaan program secara objektif, maka yang menang bukan pemerintah, bukan pula demonstran. Yang menang adalah rakyat.

Dan mungkin, itulah tujuan yang sejak awal ingin dicapai oleh semua pihak. Bukan saling mengalahkan, tetapi bersama-sama memastikan kebijakan publik benar-benar bekerja untuk kepentingan masyarakat.

Oleh: Dadan Satyavadin
Pemerhati Kebijakan Publik