KUNINGAN (MASS) – Menginjak usia dua puluhan tahun sering kali terasa berat untuk dijalani. Fase ini bukan hanya sekadar pergantian usia, melainkan start line dari perlombaan yang tidak pernah kita minta. Tiba-tiba, dunia menuntut kita untuk menjadi Dewasa, sebuah kata yang diringkas menjadi daftar panjang tentang ekspektasi karier, standar pencapaian, hingga tekanan sosial yang menuntut.
Di sela-sela tumpukan tugas akademik, amanah organisasi, dan rencana masa depan yang masih abu-abu, banyak dari kita yang mulai merasa sesak, lelah dan hilang arah. Kita lelah bukan secara fisik, melainkan karena beratnya pikiran tentang “Apakah aku cukup baik?” atau “Bagaimana jika nanti aku gagal?”. Mental kita sering kali kelelahan sebelum peperangan sesungguhnya dimulai. Kita mencari berbagai alasan untuk menghindar, mencari pelarian untuk melupakan sejenak, melakukan healing dengan beragam cara, namun sedari awal kita tahu bahwa at the end of the day yang kita temukan hanyalah ketenangan sementara.
Struggle ini mirip dengan kondisi Rasulullah Saw., di mana beliau menghadapi beban berat dalam dakwah, namun Allah menghibur hati Rasulullah Saw., dengan menurunkan surat Al-Insyirah. Dimulai dengan ”Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?” yaitu self-acceptance atau penerimaan diri bahwa artinya sebetulnya kita memiliki ruang mental yang cukup untuk menerima kegagalan dalam proses bertumbuh.
Di ayat selanjutnya ditegaskan bahwa Allah telah meringankan beban kita dan memberikan kita afirmasi begini, “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. Alih-alih kita fokus dengan ujian, kita diajak untuk tetap optimis karena kemudahan itu ada di dalam proses tersebut.
Surat Al-Insyirah juga reminder kita bahwa Struggles, Ujian, dan Pressures merupakan bagian dari proses pendewasaan. Sebagaimana Allah mengangkat derajat Rasulullah melalui ujian yang berat, Allah pun sedang menempa kita melalui kesulitan yang kita alami. Dalam hal ini, untuk mengatasi overthinking, Allah juga menurunkan surat Ad-Dhuha “Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak pula membencimu”, sebagai bentuk hiburan dan validasi bahwa Allah selalu ada, bahkan di saat kita merasa paling kesepian dan ditinggalkan oleh dunia.
Perasaan sedih, cemas, dan hilang arah adalah hal yang manusiawi. Bahkan manusia paling mulia pun merasakannya. Dalam Surat Al-Hijr, Allah memberikan resep healing-Nya langsung yaitu, ”Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud, dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu kematian.”
Pada akhirnya, segala kecemasan kita tentang ketertinggalan, kegagalan, hingga beratnya ekspektasi lingkungan adalah bukan akhir dari segalanya. Tugas kita sebagai insan di dunia ini bukanlah untuk memuaskan ekspektasi semua orang atau memastikan masa depan kita berjalan tanpa cacat, namun untuk menyembah Allah Swt.
Oleh: Nabilah Laila Zulfa