THAILAND (MASS) – Pengalaman mengajar di luar negeri menjadi tantangan tersendiri bagi Pujja Arifah Febriyanti, mahasiswa semester 2 Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), yang tengah mengikuti program magang Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional di Vuttisatvittayanuson School, Thailand.
Selama menjalani pengabdian yang berlangsung sejak 21 Mei hingga 19 Juli 2026, Pujja mengaku menghadapi berbagai tantangan yang jauh berbeda dibandingkan teori pembelajaran yang dipelajari di bangku kuliah.
Sebagai mahasiswa tahun pertama, ia mengaku mengalami culture shock sekaligus pedagogical shock ketika harus mengajar siswa sekolah dasar di lingkungan pendidikan dengan perbedaan budaya yang cukup mencolok.
Menurut Pujja, kendala terbesar selama mengajar adalah hambatan komunikasi. Sebagian besar siswa, terutama kelas rendah, belum memahami bahasa Inggris, sedangkan dirinya tidak bisa menggunakan bahasa Thailand untuk menjelaskan materi.
“Ketika saya ingin mengajar mereka Bahasa Inggris, mereka sama sekali tidak mengerti. Saya ingin menjelaskan menggunakan Bahasa Thailand, saya yang belum bisa bahasa mereka,” ungkap Pujja, Minggu (28/6/2026).
Berbeda dengan sekolah di Indonesia yang umumnya telah memanfaatkan proyektor, video pembelajaran, hingga materi digital sebagai media belajar, sekolah tempatnya mengajar belum memiliki fasilitas tersebut. Kondisi itu membuatnya harus menyusun metode pembelajaran secara kreatif setiap hari.
Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, Pujja mengandalkan pendekatan gestural pedagogy atau metode mengajar melalui bahasa tubuh. Ia menggunakan gerakan teatrikal, menggambar secara manual di papan tulis, hingga memanfaatkan benda-benda di sekitar kelas sebagai alat peraga agar materi lebih mudah dipahami siswa.
“Saya harus melompat, menari, memperagakan gerakan, bahkan menggambar sendiri agar anak-anak memahami kosakata yang diajarkan,” katanya.
Selain kendala bahasa, Pujja juga menghadapi tantangan lain berupa perbedaan budaya dalam penerapan disiplin sekolah. Ia mengaku terkejut karena di sekolah tersebut hukuman berupa pukulan rotan di telapak tangan masih diterapkan oleh guru lokal sebagai bentuk penegakan disiplin.
Kondisi itu menjadi dilema tersendiri baginya. Sebagai calon guru yang mempelajari konsep Sekolah Ramah Anak di Indonesia, ia berupaya menciptakan suasana belajar yang menyenangkan agar siswa tetap fokus tanpa harus berhadapan dengan hukuman fisik.
Untuk itu, Pujja menerapkan berbagai permainan edukatif, aktivitas fisik, serta sistem penghargaan berupa pujian dan pemberian bintang kepada siswa yang mengikuti pelajaran dengan baik.
Meski masa magangnya masih berlangsung hingga pertengahan Juli mendatang, pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga baginya tentang makna menjadi seorang pendidik.
Menurutnya, menjadi guru bukan semata ditentukan oleh kelengkapan fasilitas maupun kemampuan berbahasa, melainkan oleh ketulusan, kreativitas, daya juang, dan keberanian mencari solusi di tengah berbagai keterbatasan demi memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak.
“Menjadi guru sejati bukan tentang seberapa canggih fasilitas yang kita miliki, melainkan tentang ketulusan, resiliensi dan keberanian untuk meruntuhkan tembok keterbatasan demi masa depan anak-anak dimanapun mereka berada,” pungkasnya. (didin)