KUNINGAN (MASS) – Aksi demonstrasi di depan gedung DPR baru-baru ini kembali menjadi sorotan publik. Mahasiswa, sebagai agen perubahan, hadir membawa keresahan dan aspirasi rakyat yang tidak tersampaikan. Namun sayang, ruang demokrasi yang seharusnya terbuka justru kerap dibalas dengan tindakan represif apparat, termasuk penggunaan gas air mata yang berdampak buruk bagi kesehatan massa aksi.
Saya memandang bahwa gerakan mahasiswa hari ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Kami bukan sekadar “turun ke jalan”, melainkan menjalankan amanah sejarah. HMI, sebagai organisasi kader umat dan bangsa, berdiri di garda depan untuk mengawal demokrasi dan memastikan kebijakan publik tetap berpihak kepada rakyat.
Konstitusi kita jelas menjamin ruang demokrasi. Pasal 28E ayat (3) UUD 1945 menyebutkan, “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.” Maka menjadi ironi ketika hak tersebut dibalas dengan gas air mata dan tindak represif aparat. Kritik dan demonstrasi bukanlah ancaman, melainkan vitamin bagi demokrasi. Sebagaimana dikatakan oleh Mochtar Lubis dalam bukunya Manusia Indonesia, mahasiswa memiliki peran moral untuk menjadi penyeimbang kekuasaan. Tugas mahasiswa bukan hanya belajar di kelas, tetapi juga menjaga agar bangsa tidak kehilangan arah.
Tetapi, dalam menjalankan peran itu, kita sebagai mahasiswa terlebih lagi yang berlatar belakang Kesehatan, tidak boleh mengabaikan kondisi fisik dan mental. Gas air mata, teriakan, dan dorongan massa memang menjadi konsekuensi aksi, tapi menjaga kesehatan adalah syarat utama agar semangat perjuangan tidak padam di tengah jalan.
Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan mahasiswa saat aksi:
- Gunakan masker atau kain basah untuk meminimalisir efek gas air mata.
- Jangan mengucek mata ketika terkena paparan, segera bilas dengan air bersih atau larutan saline.
- Konsumsi cukup air dan bawa perbekalan ringan agar tubuh tetap kuat.
- Jaga ritme napas, tetap tenang, dan jangan panik saat terjadi kericuhan.
- Bergerak dalam barisan, jangan terpisah dari kelompok agar saling menjaga.
Kami, mahasiswa kesehatan, punya tanggung jawab ganda, memperjuangkan kepentingan rakyat sekaligus menjaga keberlangsungan tubuh dan jiwa agar tidak tumbang oleh represi. Perjuangan memang membutuhkan keberanian, tapi juga membutuhkan kesiapan fisik dan mental.
Oleh karena itu, saya mengajak seluruh mahasiswa, khususnya di Kabupaten Kuningan, untuk tidak apatis terhadap keadaan bangsa ini. Kita harus berani bersuara, namun tetap mengedepankan keselamatan diri. Jangan biarkan intimidasi membuat kita mundur, karena sejarah selalu membuktikan bahwa perubahan lahir dari keberanian mahasiswa yang bersatu.
Seperti kata Soe Hok Gie dalam catatan hariannya, “Lebih baik diasingkan daripada menyerah kepada kemunafikan.” Kutipan ini relevan hari ini, saat suara mahasiswa terus dicoba dibungkam. Kita boleh dihadang, tapi tidak boleh diam.
Kritik adalah vitamin demokrasi. Dan mahasiswa adalah denyut nadi bangsa. Mari terus bersuara, menjaga kesehatan, dan merawat semangat perjuangan. Karena suara mahasiswa adalah suara rakyat, dan suara rakyat adalah kebenaran yang tidak bisa dibungkam.
YakinkUsaha Sampai!
Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia!Hidup perempuan yang melawan!
Oleh: Anissa Nur Syakinah Litiloly, Ketua HMI STIKKU
