KUNINGAN (MASS) – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Profesi Bidan Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya meluncurkan enam inovasi pemberdayaan masyarakat dalam kegiatan Peluncuran dan Implementasi Inovasi Pemberdayaan Masyarakat yang dilaksanakan di Desa Jagara, Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan, Selasa (22/9/2026).
Adapun enam inovasi pemberdayaan masyarakat itu digagas oleh enam mahasiswa profesi bidan, diantaranya Lucyana Dewi, Eva Vadillah, Suryanti, Annisa Nur Fajri, Susilawati dan Lulu Kartikadewi.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Praktik Asuhan Kebidanan Komunitas yang bertujuan mengoptimalkan peran masyarakat dalam meningkatkan kesehatan ibu dan anak. Enam inovasi yang dikembangkan berfokus pada persiapan kehamilan sehat, pendampingan ibu hamil risiko tinggi, kesehatan anak, pencegahan stunting, serta peningkatan cakupan pelayanan keluarga berencana (KB).

Enam Inovasi yang Diluncurkan
Adalun enam inovasi yang diluncurkan dalam kegiatan tersebut yaitu:
- SELARAS (Skrining dan Edukasi Layak Hamil untuk Rencanakan Kehamilan Aman dan Sehat) digagas Lucyana Dewi, yang berfokus pada skrining dan edukasi perempuan usia subur untuk mengidentifikasi faktor risiko serta mempersiapkan kehamilan yang aman dan sehat.
- BumKar KENCANA (Kartu Ibu Hamil – Kenali Resiko, Cegah Komplikasi dan Bertindak Cepat) digagas Eva Vadillah, inovasi yang berbentuk sebuah kartu pemantauan ibu hamil yg digunakan untuk membantu ibu, kader dan bidan dalam mengenali resiko, memantau kondisi kehamilan serta menentukan tinjak lanjut dengan lebih mudah dan. terarah.
- WA KAWAL BUMIL RESTI, inovasi yang digagas Suryanti ini menjadikan Whatsapp sebagai sarana komunikasi dan pemantauan ibu hamil risiko tinggi. Melalui pendampingan yang lebih mudah diakses, diharapkan ibu hamil dapat memperoleh informasi, pemantauan, dan arahan untuk segera mendapatkan pelayanan kesehatan ketika ditemukan faktor risiko maupun tanda bahaya.
- KIMISI (Kartu Misi Sehat Anak) gagasan Annisa Nur Fajri, merupakan inovasi pencegahan stunting berbasis gamifikasi yang mengubah edukasi kesehatan menjadi misi perilaku, memberikan penguatan melalui sticker, mendokumentasikan kebiasaan dan menghubungkannya dengan pemantauan pertumbuhan anak.
- GEMOY IKAN (Gerakan Makan Olahan Ikan untuk Cegah Stunting) gagasan Susilawati, yang mendorong pemanfaatan ikan sebagai sumber pangan bergizi dalam keluarga untuk mendukung pertumbuhan anak dan upaya pencegahan stunting.
- SIAP KB (Skrining, Informasi, Akses, dan Pendampingan) KB gagasan Lulu Kartikadewi ini bertujuan meningkatkan akses dan pemanfaatan pelayanan KB melalui skrining, pemberian informasi, pelayanan, serta pendampingan bagi pasangan usia subur.
Dorong Peningkatan Derajat Kesehatan di Wilayah Puskesmas Darma
Kepala UPTD Puskesmas Darma, Cecep Mahpud, S.Kep., Ners., M.H., menyampaikan apresiasinya terhadap inovasi yang dikembangkan mahasiswa. Menurutnya, keenam inovasi tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan derajat kesehatan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Darma.
“Kami berharap keenam inovasi yang diluncurkan ini dapat terus dikembangkan dan diimplementasikan sehingga mampu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Darma, khususnya dalam upaya peningkatan kesehatan ibu dan anak,” ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya keberlanjutan program agar inovasi yang telah dirancang tidak hanya menjadi bagian dari kegiatan praktik mahasiswa, tetapi dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dalam jangka panjang.
Perkuat Sinergi Masyarakat, Kader, dan Tenaga Kesehatan
Kepala Desa Jagara, Umar Hidayat, menyampaikan bahwa hadirnya berbagai inovasi tersebut menjadi kesempatan untuk semakin memperkuat sinergi antara masyarakat, kader, dan tenaga kesehatan.
“Dengan adanya inovasi dari mahasiswa ini, kami berharap masyarakat Desa Jagara, kader, dan tenaga kesehatan dapat semakin bersinergi dalam meningkatkan kesehatan masyarakat, khususnya kesehatan ibu dan anak. Terlebih lagi dalam upaya pencegahan stunting, diperlukan kerja sama dari semua pihak mulai dari keluarga, kader, hingga tenaga kesehatan,” tuturnya.

Menurutnya, keberhasilan program kesehatan tidak hanya bergantung pada pelayanan kesehatan, tetapi juga membutuhkan partisipasi aktif masyarakat dalam mengenali, mencegah, dan menangani berbagai masalah kesehatan sejak dini.
Fokus pada Kehamilan Risiko Tinggi, Komplikasi, KB, dan Stunting
Bidan Yayu Setiayu, S.Keb., Bdn., selaku Bidan Desa Jagara sekaligus Clinical Instructor (CI), menjelaskan bahwa enam inovasi tersebut dirancang berdasarkan permasalahan dan kebutuhan kesehatan yang ditemukan di masyarakat.
“Inovasi ini merupakan bagian dari upaya untuk menurunkan kasus kehamilan risiko tinggi dan komplikasi dalam kebidanan, meningkatkan cakupan pelayanan KB, serta mendukung pencegahan stunting di Desa Jagara,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting dalam keberhasilan program. Dengan adanya inovasi yang lebih mudah diterapkan dan dekat dengan masyarakat, diharapkan proses deteksi dini, edukasi, pendampingan, dan rujukan dapat berjalan lebih optimal.
Membangun Desa yang Lebih Peduli Kesehatan Ibu dan Anak
Peluncuran enam inovasi ini menjadi salah satu bentuk nyata kontribusi mahasiswa Profesi Bidan Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya dalam menerapkan ilmu kebidanan di tengah masyarakat.
Lucyana Dewi didampingi Eva Vadillah, Suryanti, Annisa Nur Fajri, Susilawati serta Lulu Kartikadewi mengatakan bahwa melalui pendekatan promotif, preventif, dan pemberdayaan masyarakat, inovasi tersebut diharapkan dapat memperkuat upaya pencegahan berbagai masalah kesehatan, mulai dari kehamilan risiko tinggi, komplikasi maternal, masalah kesehatan bayi dan anak, unmet need KB, hingga stunting.

“Kolaborasi antara Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya, UPTD Puskesmas Darma, Pemerintah Desa Jagara, bidan desa, kader, dan masyarakat menjadi kunci agar berbagai inovasi tersebut dapat terus berjalan dan memberikan manfaat secara berkelanjutan,” tegas keenam mahasiswa profesi bidan tersebut.
Kegiatan yang dilaksanakan pada 22 September 2026 ini, kata para mahasiswa profesi, diharapkan menjadi momentum untuk membangun kesadaran bahwa peningkatan kesehatan ibu dan anak merupakan tanggung jawab bersama.
“Bersinergi untuk ibu yang sehat, bayi yang selamat, anak yang tumbuh optimal, dan generasi Desa Jagara yang bebas stunting,” tegasnya di akhir. (eki/AB)