KUNINGAN (MASS) – Kuningan, sebuah kabupaten di kaki Gunung Ciremai, selama satu dekade terakhir terus mempercantik diri sebagai destinasi wisata. Curug-curug yang dulu hanya dikenal warga lokal kini ramai dikunjungi wisatawan luar kota. Kawasan Waduk Darma, agrowisata, hingga wisata religi dan sejarah terus dipromosikan pemerintah daerah.
Papan reklame bertuliskan “Kuningan, Kota Kuda” atau slogan-slogan pariwisata lainnya berjejer di jalan-jalan utama. Namun di balik geliat itu, ada pertanyaan yang jarang diajukan secara terbuka: benarkah kemajuan wisata ini benar-benar dirasakan oleh warga Kuningan sendiri?
Wisata yang Tumbuh, Tapi untuk Siapa?
Pertumbuhan sektor wisata memang terlihat dari data kunjungan yang terus meningkat setiap tahun. Hotel-hotel baru bermunculan, kafe dengan konsep instagramable menjamur di pinggiran kota, dan akses jalan menuju objek wisata terus diperbaiki.
Namun jika ditelisik lebih dalam, manfaat ekonomi dari geliat ini sering kali hanya dinikmati oleh segelintir pihak investor dari luar daerah, pemilik modal besar, atau pengelola swasta yang membangun resort dan restoran mewah. Sementara, warga sekitar objek wisata petani, pedagang kecil, dan pemuda desa hanya menjadi penonton dari kemajuan yang terjadi di halaman rumah mereka sendiri.
Mereka dilibatkan sebatas sebagai tukang parkir, penjaga loket, atau pedagang kaki lima musiman. Padahal, jika dikelola dengan pendekatan yang lebih inklusif, sektor wisata semestinya bisa menjadi mesin penggerak ekonomi rakyat, bukan sekadar etalase kemajuan yang dinikmati segelintir orang.
Infrastruktur Wisata vs Infrastruktur Dasar
Ironi lain yang patut disoroti adalah ketimpangan prioritas pembangunan. Di satu sisi, akses menuju kawasan wisata terus dipoles dengan aspal mulus dan penerangan jalan yang memadai. Namun di sisi lain, tidak jauh dari lokasi wisata tersebut, masih banyak desa yang jalannya rusak, akses air bersih terbatas, dan fasilitas kesehatan jauh dari kata layak.
Data kemiskinan di Kuningan pun masih menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas. Kabupaten ini disebut sebagai daerah agraris dengan potensi besar, namun kesejahteraan petani dan buruh tani masih jauh dari harapan.
Pertanyaannya, apakah pembangunan pariwisata benar-benar menjadi solusi bagi kesejahteraan warga, atau justru memperlebar jurang dengan desa-desa yang tertinggal di baliknya?
Anak Muda Kuningan, Bertahan atau Pergi?
Fenomena lain yang tak kalah penting adalah arus migrasi anak muda Kuningan ke kota-kota besar seperti Cirebon, Bandung, hingga Jakarta. Meski sektor wisata terus digaungkan sebagai peluang kerja baru, kenyataannya lapangan kerja yang tersedia sering kali bersifat musiman, minim jaminan, dan tidak cukup menjanjikan masa depan jangka panjang.
Akibatnya, banyak generasi muda memilih merantau demi penghidupan yang lebih pasti. Jika tren ini terus berlanjut, Kuningan berisiko kehilangan generasi produktifnya, sementara sektor wisata yang dibangun justru lebih banyak dinikmati oleh pendatang dan investor luar. Ironi ini semestinya menjadi alarm bagi pemangku kebijakan untuk mengevaluasi ulang arah pembangunan daerah.
Saatnya Mengubah Arah
Kuningan sesungguhnya memiliki modal besar. alam yang indah, tanah yang subur, serta budaya dan sejarah yang kaya. Namun modal tersebut hanya akan bermakna jika pembangunan wisata diletakkan dalam kerangka yang lebih adil dan berpihak pada rakyat.
Pemerintah daerah perlu memastikan bahwa setiap proyek wisata melibatkan warga lokal secara nyata bukan sekadar simbolis. Mulai dari pelatihan keterampilan, akses permodalan untuk UMKM, hingga pembagian hasil yang lebih proporsional.
Selain itu, pembangunan infrastruktur dasar seperti jalan desa, air bersih, dan layanan kesehatan tidak boleh kalah prioritas dibanding mempercantik kawasan wisata. Sebab pada akhirnya, kemajuan sebuah daerah tidak diukur dari seberapa indah foto yang dihasilkan wisatawan, melainkan dari seberapa sejahtera warganya sendiri.
Kuningan hari ini benar-benar berada di persimpangan. Satu jalan menuju kota wisata yang gemerlap namun timpang, jalan lainnya menuju daerah yang benar-benar mensejahterakan warganya melalui potensi yang dimiliki. Pilihan ke arah mana Kuningan akan melangkah, sepenuhnya bergantung pada keberanian para pemangku kebijakan untuk berpihak pada rakyat, bukan sekadar pada citra.
Oleh: Sahal Abdul Qohar